Kuncoro menutup pintu mobil dinas dengan bunyi yang lebih keras daripada niatnya. Di kaca spion ia masih bisa melihat gedung kantor PT Graha Cakrawala menjulang dengan kaca-kaca gelapnya, memantulkan langit sore yang berwarna tembaga kotor. Di dalam sana, Handoko Reksa tadi tersenyum sopan sekali, menuang kopi dengan tangannya sendiri, dan mengatakan kalimat yang sampai sekarang masih berputar di kepala Kuncoro seperti gerinda tumpul: "Pak Kuncoro orang lama, pasti paham, kadang jalan yang lurus itu cuma ada di atas kertas."
Ia sudah menjawab, pelan tapi jelas, bahwa jabatannya bukan untuk dijual, dan berkas Sumirah akan tetap ia telaah sesuai prosedur. Handoko tidak marah. Ia hanya mengangguk, seperti orang yang mencatat sesuatu di kepala, lalu mengantarnya sampai lift dengan tepukan ringan di pundak. Justru kesopanan itulah yang membuat perut Kuncoro dingin sepanjang jalan pulang.
Malam itu ia makan tanpa nafsu. Tuti menaruh sepiring tempe goreng di depannya, memperhatikan suaminya yang menusuk-nusuk nasi tanpa benar-benar memakannya.
"Ada apa lagi," kata Tuti, bukan pertanyaan.
"Tidak apa-apa," jawab Kuncoro, kalimat yang belakangan ini terlalu sering keluar dari mulutnya, dan keduanya sama-sama tahu itu bohong kecil yang sudah jadi kebiasaan.
Telepon berdering menjelang pukul sepuluh. Suara di ujung sana adalah Bagas, terengah-engah, kalimatnya patah-patah oleh napas yang memburu. "Pak Kuncoro—bengkel—ada yang lempar batu, kacanya pecah, terpal depan disobek—Ibu kaget, sekarang lemas di kursi—"
Kuncoro sudah berdiri sebelum Bagas selesai bicara. Ia meraih kunci mobil dari meja, dan Tuti hanya sempat memegang lengannya sebentar di ambang pintu, tidak menahan, hanya menahan napas.
Jalan Pasar Lama malam itu sepi seperti biasa, tapi di depan rumah-bengkel Sumirah sudah ada beberapa tetangga berdiri dengan lampu senter dan wajah setengah takut setengah penasaran. Kaca etalase yang biasa memamerkan spare part motor bekas kini berlubang sebesar kepalan, retakannya menjalar seperti sarang laba-laba. Di aspal berserakan pecahan kaca dan dua batu sebesar kepalan tangan. Terpal biru yang dulu menaungi motor-motor pelanggan sudah robek memanjang, seperti disayat dengan benda tajam, bukan sekadar tersangkut.
Sumirah duduk di kursi kayu dekat pintu, wajahnya pucat, tangannya mencengkeram ujung selendang. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap kosong ke arah kaca yang pecah, seperti sedang mencoba mengerti kenapa dunia terus-menerus mengambil sesuatu darinya sedikit demi sedikit.
"Tidak kelihatan orangnya," kata Bagas, suaranya masih gemetar menahan marah. "Saya cuma dengar motor kabur, dua motor, cepat sekali." Ia menunjuk ke arah gang di ujung jalan. "Ibu lagi di dalam waktu itu. Untung tidak kena."
Kuncoro berjongkok di depan Sumirah, memeriksa tangannya, memastikan tidak ada luka. "Bu Sumirah baik-baik saja?"
Sumirah mengangguk pelan, lalu menatap Kuncoro dengan sorot yang membuat dada lelaki itu terasa ditekan sesuatu yang berat. "Pak Kuncoro," katanya, suaranya nyaris berbisik, "ini gara-gara Bapak, ya, mengurusi berkas saya?"
Kuncoro tidak menjawab segera. Ia tahu jawaban jujur akan menakuti perempuan itu lebih dalam lagi, tapi berbohong pun rasanya seperti memukul mundur kepercayaan yang baru saja tumbuh. "Saya belum tahu pasti," katanya akhirnya. "Tapi saya tidak akan berhenti mengurus, Bu."
Bagas mendengus pelan, entah setuju entah tidak percaya. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan kaca dengan gerakan-gerakan cepat yang lebih menyerupai pelampiasan daripada kerja bersih-bersih.
Kuncoro membantu menyingkirkan batu-batu itu ke pinggir, memasukkannya ke kantong plastik—kebiasaan lama seorang juru sita, mengumpulkan apa pun yang bisa jadi bukti, meski ia sendiri tak yakin bukti macam apa yang bisa didapat dari dua batu polos tanpa sidik jari yang berarti.
Ia baru sadar ada yang lain ketika hendak kembali ke mobilnya yang diparkir agak jauh, di bawah pohon asam yang rimbun. Motor dinasnya—motor tua yang sudah menemaninya dua puluh tahun berkeliling menyampaikan panggilan dan berita acara—tergores panjang di tangki dan sepanjang bodi samping, guratan dalam yang membuka cat sampai ke logam. Bukan goresan sembarang. Terlalu rapi, terlalu sengaja, seperti ditulis oleh tangan yang tahu persis ke mana harus mengarahkan besi tajam agar sakitnya sampai.
Ia berdiri lama menatap goresan itu di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip. Dua puluh tahun ia menjalankan tugas dengan cara membuat dirinya tidak merasa apa-apa—menyita rumah orang tanpa membiarkan wajah pemiliknya menempel di ingatan, menandatangani berita acara tanpa membaca nama-nama di baliknya sebagai manusia. Sekarang seseorang menggores namanya sendiri ke tubuh kendaraannya, membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini ia hindari: bahwa tindakannya punya konsekuensi, dan konsekuensi itu bisa datang untuknya.
Ia tidak menceritakan soal motor itu kepada Sumirah atau Bagas malam itu. Cukup satu ketakutan untuk mereka tanggung.
Sepanjang jalan pulang, tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya. Di lampu merah yang sepi ia menoleh ke kaca spion, memeriksa apakah ada yang mengikuti. Tidak ada. Tapi rasa diawasi itu sudah menempel, seperti bau bensin yang tak mau hilang dari kulit.
Sesampai di rumah, Tuti menunggu di ruang tamu dengan lampu masih menyala, wajahnya tegang menahan pertanyaan. Kuncoro duduk di sampingnya, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia menceritakan semuanya—tawaran Handoko, penolakannya, batu-batu itu, goresan di motor. Ia mengira Tuti akan memintanya berhenti. Tapi istrinya hanya diam lama, menatap tangannya sendiri, lalu berkata pelan, "Kalau kamu berhenti sekarang, apa gunanya semua yang sudah kamu lihat selama ini?"
Kuncoro tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan istrinya, dan di luar, angin malam menggoyangkan daun-daun mangga di halaman, seperti sesuatu sedang mendekat, pelan-pelan, tak lagi tersembunyi.