Undangan itu datang lewat telepon pukul sepuluh pagi, disampaikan seorang perempuan bersuara ramah yang menyebut dirinya sekretaris, seolah Kuncoro adalah tamu yang sudah lama dinanti. Alamatnya sebuah gedung kaca delapan lantai di ujung kota, tempat yang tak pernah ia injak selama dua puluh tahun mengurus rumah-rumah kecil yang kalah. Ia berdiri sejenak di lobi, memandang lantai marmer yang memantulkan bayangannya sendiri, dan merasa sepatunya terlalu tua untuk lantai seperti ini.
Ruang kerja Handoko Reksa ada di lantai teratas. Pintunya dari kayu jati gelap, dan ketika terbuka, udara di dalamnya dingin dan wangi kopi mahal. Handoko menyambutnya berdiri, tangannya terulur lebih dulu, senyumnya lebar dan hangat seperti orang yang tak pernah kalah dalam hidupnya.
"Pak Kuncoro Wignyo," katanya, mengucap nama itu perlahan, menikmati tiap suku katanya. "Juru sita paling bersih di kota ini. Saya sudah lama ingin bertemu."
Kuncoro menjabat tangan itu. Kering, kuat, tak berkeringat. "Saya tidak tahu ada yang menghitung bersih atau tidaknya seorang juru sita."
"Semua dihitung, Pak." Handoko mempersilakannya duduk di sofa kulit yang menelan tubuhnya. "Orang seperti Bapak justru langka. Dua puluh tahun, ratusan eksekusi, tak satu pun laporan miring. Itu modal. Modal yang sayang kalau dibiarkan habis di kursi yang sama sampai pensiun."
Sekretaris meletakkan dua cangkir kopi, lalu pergi tanpa suara. Kuncoro tidak menyentuh cangkirnya. Ia memperhatikan dinding di belakang meja Handoko, penuh foto peresmian, pita gunting, tangan-tangan berjas yang saling menjabat di depan gedung-gedung baru. Tidak ada satu pun foto rumah yang dirobohkan sebelum gedung-gedung itu berdiri.
"Bapak dipanggil ke sini bukan untuk basa-basi," Handoko berkata, mencondongkan badan. "PT Graha Cakrawala sedang menata banyak proyek. Kami butuh orang yang mengerti prosedur, yang tahu seluk-beluk pengadilan, yang bisa memastikan segalanya berjalan tertib. Konsultan legal lapangan. Gajinya, maaf saya blak-blakan, sepuluh kali lipat dari pensiun yang menunggu Bapak."
Kuncoro tetap diam. Ia sudah mengenali nada ini. Bukan suap yang kasar seperti amplop Jagur di parkiran itu; ini lebih halus, dibungkus kata karier, dibungkus penghargaan, dibungkus rasa hormat yang membuat penolakan terasa seperti kebodohan.
"Mari saya tunjukkan sesuatu," kata Handoko, bangkit.
Di sudut ruangan, di atas meja panjang berkaki krom, terhampar sebuah maket. Kota kecil dari gips putih dan plastik, jalan-jalan yang lurus, pohon-pohon mungil dari busa hijau, mobil-mobil seukuran biji jagung berbaris rapi. Handoko menyalakan lampu kecil di sisinya, dan maket itu seketika bercahaya seperti janji.
"Ini Jalan Pasar Lama, lima tahun dari sekarang," katanya bangga. "Akses pasar baru, ruko dua lantai, taman kota. Tidak ada lagi becek, tidak ada lagi kabel semrawut. Bapak lihat betapa teraturnya."
Kuncoro membungkuk ke arah maket. Matanya bergerak menyusuri jalan mungil itu, mencari, dan menemukan. Di tempat yang seharusnya berdiri rumah-bengkel Sumirah — di sudut tempat Bagas masih memperbaiki motor pelanggan terakhirnya, tempat Sumirah menunjukkan buku tabungan yang cicilannya tak pernah menunggak — kini hanya ada petak abu-abu datar, dengan garis-garis putih dan mobil-mobil kecil terparkir rapi.
"Lahan parkir," kata Kuncoro pelan. Bukan bertanya.
"Efisien," Handoko mengangguk, tak menangkap apa pun dalam suara itu. "Setiap jengkal harus berguna."
Ada sesuatu yang naik di dada Kuncoro, dingin dan lambat. Ia teringat tangan Sumirah yang gemetar membuka buku tabungan bersampul plastik lusuh. Ia teringat bau oli dan suara mesin motor yang dinyalakan Bagas, satu-satunya suara yang masih hidup di rumah yang hendak dimatikan itu. Dan sekarang mereka telah menjadi petak abu-abu, tempat mobil orang lain berhenti sebentar lalu pergi.
"Rumah itu belum dieksekusi," kata Kuncoro, menegakkan punggung. "Berkasnya masih saya pegang."
Handoko tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu tak sampai ke matanya. "Maket dibuat jauh-jauh hari, Pak. Perencana harus optimistis. Anggap saja ini gambaran keyakinan kami bahwa segala sesuatu, pada akhirnya, akan berjalan sebagaimana mestinya."
"Sebagaimana mestinya," ulang Kuncoro. Ia menatap laki-laki di seberang maket itu. "Menurut siapa?"
Sunyi sejenak. Di luar jendela, kota terbentang jauh di bawah, kecil seperti maket yang lain.
"Pak Kuncoro." Handoko menegakkan diri, suaranya melunak lagi, tapi ada baja di dasarnya sekarang. "Saya menghormati Bapak. Sungguh. Karena itu saya bicara langsung, bukan lewat orang lain. Dunia ini bergerak. Pasar Lama akan berubah, dengan atau tanpa Bapak. Pertanyaannya cuma satu: Bapak ingin ikut menata masa depan, atau ingin jadi orang tua yang berdiri di tengah jalan menahan buldoser sampai tergilas sendiri?"
Kuncoro merasakan kalimat itu masuk seperti pisau tipis. Bukan ancaman terbuka. Sebuah gambaran. Seorang tua yang tergilas, sendirian, di jalan yang toh akan tetap dibangun.
"Saya sudah dua puluh tahun berdiri di tengah jalan, Pak Handoko," Kuncoro berkata akhirnya, suaranya rata, nyaris lelah. "Bedanya, dulu saya berdiri di pihak yang membawa buldoser. Saya kira itu tugas. Saya kira itu bersih." Ia melirik maket sekali lagi, ke petak abu-abu itu. "Mungkin baru sekarang saya belajar melihat siapa yang tergilas."
Wajah Handoko tak berubah, tapi ada kedip halus di matanya, perhitungan yang cepat, seperti kasir menutup laci uang. Ia mengulurkan tangan lagi, kali ini tanpa kehangatan.
"Pikirkan tawaran saya. Tidak ada yang mendesak Bapak menjawab hari ini." Ia menahan sejenak. "Tapi tawaran, seperti kesempatan, punya masa berlaku."
Kuncoro tidak membalas jabatan itu. Ia berdiri, mengambil map cokelatnya dari sofa, dan menjepitnya di ketiak seperti perisai kecil yang tak berarti apa-apa di ruangan sebesar itu.
"Terima kasih kopinya," katanya. "Saya tidak sempat menyentuhnya."
Ia berjalan keluar melewati pintu jati gelap, melewati sekretaris yang tersenyum, melewati lantai marmer yang memantulkan bayangannya. Di lift yang turun perlahan, ia menatap angka-angka lantai yang meluncur mundur, dan menyadari tangannya mendekap map itu terlalu erat. Di dalam map, di antara berita acara dan salinan putusan, ada nama Sumirah. Dan di gedung yang baru saja ia tinggalkan, di atas meja berkaki krom, nama itu sudah dihapus, diganti garis-garis putih tempat mobil orang lain berhenti sebentar lalu pergi.
Ketika lift membuka di lobi, udara panas kota menyergap wajahnya. Ia menghirupnya dalam-dalam, seolah baru saja keluar dari ruangan yang kehabisan oksigen, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia tahu persis apa yang harus ia lakukan — meski belum tahu bagaimana ia akan sanggup.