Hujan turun sejak sore, tak deras, hanya rintik yang membuat aspal di depan kantor bantuan hukum mengkilap kuning oleh lampu jalan yang setengah mati. Kuncoro memarkir motornya di bawah teritis, melepas jaket yang basah di bagian bahu, dan berdiri sebentar di ambang pintu sebelum masuk. Sulastri sudah menunggu di teras, wajahnya lebih tegang dari biasanya, tangannya menggenggam gagang pintu seakan hendak menahannya kalau perlu.
"Ada orang di dalam," katanya pelan, seolah dinding bisa mendengar. "Mahdi yang minta Bapak datang."
"Orang siapa?"
"Wartawan."
Dua kata itu cukup membuat perut Kuncoro mengeras. Dua puluh tahun ia belajar bahwa berkas bisa disembunyikan, saksi bisa dibungkam sebentar, tapi tulisan yang sudah tercetak tak bisa ditarik kembali begitu saja. Ia masuk dengan langkah yang sengaja ia perlambat, seakan kelambatan itu bisa memberinya waktu berpikir.
Ruang tamu LBH sempit, penuh map perkara yang menumpuk di atas lemari kayu, kipas angin berputar lelah di sudut. Seorang perempuan duduk di kursi rotan, notes kecil terbuka di pangkuannya, pena terselip di jarinya seperti bagian dari tubuhnya sendiri. Mahdi berdiri, menyambut Kuncoro dengan anggukan yang berhati-hati.
"Pak Kuncoro. Ini Mbak Ayu Prameswari, dari harian—" Mahdi menyebut nama medianya, lalu menambahkan, "Ia sudah sebulan menelusuri kasus tanah di beberapa kelurahan. Bukan cuma soal Bu Sumirah."
Ayu berdiri, mengulurkan tangan. Genggamannya kuat, matanya menilai lebih dari sekadar sopan santun. "Terima kasih sudah mau datang, Pak. Saya tahu ini bukan hal yang gampang buat Bapak."
Kuncoro duduk di kursi paling jauh dari jendela, kebiasaan lama yang tak pernah ia sadari sudah jadi refleks. "Saya cuma juru sita, Mbak. Saya tidak tahu banyak yang bisa saya ceritakan."
"Bapak yang menunda eksekusi Bu Sumirah minggu lalu," Ayu membalas, tanpa basa-basi. "Saya dapat itu dari seorang kenalan di kepaniteraan. Dan saya sudah cek sendiri—rumah itu memang sudah berpindah tangan sebelum putusan diketuk. Itu bukan kebetulan administratif, Pak. Saya juga sudah bicara sama dua keluarga lain, di kelurahan berbeda, yang kehilangan rumah lewat cara yang mirip sekali. Koperasi yang sama namanya muncul di berkas mereka."
Kuncoro menatap map-map di lemari, bukan ke arah Ayu. Ia sudah menduga jaring itu bocor lebih luas dari yang ia kira, tapi mendengarnya diucapkan orang lain, orang yang tak terikat sumpah jabatan, terasa seperti melihat retakan pada tembok yang selama ini ia kira hanya miliknya sendiri untuk disembunyikan.
"Kalau memang begitu," katanya akhirnya, "kenapa Mbak datang ke saya? Bukan ke Komisi Yudisial atau kepolisian?"
"Karena mereka bergerak kalau ada laporan resmi. Saya bergerak kalau ada cerita yang bisa dibuktikan benar. Dan Bapak, dari yang saya dengar, satu-satunya orang di dalam sistem itu yang justru menahan diri untuk tidak ikut arus." Ayu mencondongkan badan. "Saya butuh konfirmasi Bapak. Bukan nama-nama besar dulu, cukup soal relaas yang janggal, soal tanggal yang tidak masuk akal. Off the record kalau perlu."
"Tidak ada off the record buat orang macam saya," Kuncoro menyahut, suaranya lebih tajam dari yang ia niatkan. "Sekali nama saya disebut, sekecil apa pun, atasan saya akan tahu dari siapa bocor itu keluar. Dan yang akan kena bukan cuma saya."
Sulastri, yang berdiri di ambang pintu dapur sejak tadi, akhirnya angkat bicara. "Bu Sumirah masih di sana, Pak. Kalau berita ini keluar sekarang, mungkin orang-orang jadi tahu, mungkin ada tekanan publik—"
"Atau mereka jadi tahu kita sudah mengendus," potong Kuncoro. "Dan berkas yang tinggal salinan itu—yang di laci Mbak Ayu bawa pulang malam ini—besok sudah tidak ada lagi yang bisa dicari aslinya. Kalian pikir kenapa berkas induk Bu Sumirah bisa raib begitu saja dari arsip?"
Ruangan hening sebentar. Hujan di luar mengeras sedikit, memukul seng di atap dengan bunyi yang menutupi jeda percakapan.
Mahdi, yang sedari tadi memilih diam, akhirnya duduk di antara mereka, seperti wasit yang menahan dua petinju agar tidak saling menerjang sebelum bel berbunyi. "Begini," katanya, "saya paham kegelisahan Mbak Ayu. Orang kehilangan rumah setiap minggu, dan menunggu itu rasanya seperti berkhianat pada mereka. Tapi saya juga sudah lama menangani kasus semacam ini. Berita yang terbit setengah matang, tanpa dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan, itu justru senjata paling gampang dipatahkan. Cukup satu bantahan resmi dari notaris atau dari pengadilan, cukup satu somasi, dan tulisan itu bisa dicabut, mediannya diminta minta maaf, dan Mbak sendiri yang justru kehilangan kredibilitas buat menulis lanjutannya."
"Jadi maksud Bapak, saya diam saja?" Ayu menatapnya, rahangnya mengeras.
"Bukan diam. Menunggu bukti yang tidak bisa disangkal. Salinan akta asli, bukan fotokopi yang bisa dibilang direkayasa. Kesaksian tertulis, bukan cerita lisan yang bisa ditarik kembali begitu ada yang menelepon dan menakut-nakuti. Kalau Mbak menulis sekarang, Mbak cuma dapat satu tembakan. Kalau salah sasaran, tidak akan ada tembakan kedua."
Ayu diam, pena di tangannya berhenti bergerak. Ia menatap Kuncoro, seolah menimbang berapa banyak yang lelaki itu sembunyikan di balik wajah yang datar. "Berapa lama, Pak? Bu Sumirah sudah sakit-sakitan. Keluarga lain yang saya temui juga sudah pasrah. Sementara saya duduk mengumpulkan bukti yang katanya sahih, orang terus kehilangan rumah."
Kuncoro tidak langsung menjawab. Ia memikirkan Sumirah di ranjang rumah sakit, memikirkan map yang tertahan di lacinya, memikirkan Tuti yang mulai bertanya kenapa suaminya tak bisa tidur. "Saya tidak bisa janji berapa lama," katanya akhirnya, pelan. "Yang bisa saya janjikan, begitu ada yang cukup kuat untuk tidak bisa dibantah, Mbak orang pertama yang saya hubungi. Bukan karena saya percaya pada pers. Karena saya sudah tidak tahu lagi harus percaya pada siapa di dalam."
Ayu menutup notesnya, tapi tidak menyimpan penanya. "Baik. Saya tunggu. Tapi saya juga akan terus jalan sendiri, Pak. Diam-diam. Karena kalau Bapak terlambat, saya tidak akan menunggu lagi."
Di luar, hujan mulai reda, menyisakan gemericik air di talang yang jatuh satu-satu, seperti hitungan mundur yang tak seorang pun di ruangan itu ingin dengar, tapi semua tahu sudah mulai berjalan.