Kamar kos Sulastri sempit, berbau kopi murahan dan kertas lembap, dan malam itu dindingnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Kuncoro berdiri di tengah ruangan dengan segulung benang wol merah di tangan, benang yang tadi dibeli Sulastri di toko kelontong ujung gang karena mereka tak menemukan spidol yang cukup panjang untuk menghubungkan semua yang perlu dihubungkan.
"Jangan yang itu dulu," kata Sulastri, menahan pergelangan tangannya. "Kita mulai dari Sumirah. Semua yang lain harus bisa ditarik dari sana, kalau memang benar apa yang kita duga."
Kuncoro menurunkan tangan. Ia menempelkan selembar kertas di tengah dinding, di atasnya nama itu ditulis dengan huruf kapital yang gemetar: SUMIRAH — JALAN PASAR LAMA. Di bawahnya, nomor perkara yang sudah ia hafal seperti tanggal lahir anaknya sendiri. Ia menatapnya sebentar, lalu mundur selangkah, seolah takut kertas itu akan menghilang bila ia berkedip.
"Koperasi dulu," kata Sulastri, menyodorkan salinan yang ia curi cetak dari arsip. "Kredit macet keluar dari Sinar Mekar. Gunawan yang tanda tangan."
Kuncoro menempelkan kertas kedua di kiri. GUNAWAN — KOPERASI SINAR MEKAR. Ia potong benang merah, mengikat satu ujung pada paku kecil di bawah nama Sumirah, menariknya melintang ke nama Gunawan. Benang itu membentang, tegang, merah seperti pita yang dua puluh tahun ini ia pasang di pintu-pintu orang.
"Dari koperasi, ke mana utang macet itu jadi dasar gugatan?" tanya Sulastri, meski ia sudah tahu jawabannya. Ia bertanya bukan untuk dijawab, melainkan agar keduanya mendengar rangkaian itu diucapkan keras-keras, sebab di kepala saja bunyinya masih seperti kecurigaan, dan di udara ia menjadi tuduhan.
"Akta." Kuncoro menempelkan kertas ketiga. RATNA WULANDARI — NOTARIS/PPAT. "Surat kuasa jual. Sertifikat yang sudah dipecah. Semua lewat mejanya." Ia tarik benang dari Gunawan ke Ratna, lalu — tangannya berhenti sebentar — dari Ratna langsung ke Sumirah, sebab tanda tangan palsu itu lahir di sana. Dua garis kini bertemu di satu nama korban, dan Kuncoro merasa ada yang menekan di ulu hatinya melihat betapa rapi jerat itu.
Sulastri duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. "Lalu masuk pengadilan."
"Verstek." Kuncoro menuliskan nama keempat, dan tangannya kali ini benar-benar berhenti lama sebelum menempelkannya. HAKIM PRASETYO. "Relaas panggilan dibuat fiktif. Sumirah dianggap tak pernah hadir karena panggilan memang tak pernah diantar. Putusan turun tanpa perlawanan." Ia tarik benang dari Sumirah ke Prasetyo. "Hampir semua perkara yang kita temukan lewat majelisnya."
"Bapak yakin dia tahu?"
Kuncoro diam. Ia memandangi nama itu di dinding, benang merah menjulur ke sana seperti nadi. "Belum," katanya akhirnya, pelan. "Bisa jadi dia cuma menandatangani apa yang disodorkan. Bisa jadi dia tak mau tahu. Itu dua hal yang berbeda, Sulastri. Tapi di dinding ini, keduanya kelihatan sama."
Sulastri tidak menjawab. Di luar, motor lewat, lampunya sekilas menyapu langit-langit, dan sepetak dinding penuh benang itu tampak seperti sarang laba-laba yang tertimpa cahaya.
"Terus siapa yang mengatur relaas kosong itu keluar? Siapa yang menekan supaya eksekusi jalan cepat?" Sulastri berdiri, mendekat. Ia sudah tahu, tetapi ia menunggu Kuncoro sendiri yang menuliskannya.
Kuncoro mengambil kertas kelima. Pena di tangannya seakan lebih berat dari yang seharusnya. Ia menulis HARDIMAN — PANITERA/KOORDINATOR JURU SITA, dan menempelkannya persis di tengah, di antara meja hakim dan pintu-pintu yang diketuk. Ia tarik benang dari Prasetyo ke Darsana, dari Darsana turun ke kertas kosong yang ia beri tulisan tangan sendiri: JURU SITA — RELAAS KOSONG.
"Dia yang menyalurkan," kata Kuncoro. Suaranya serak. "Yang bikin semua ini kelihatan seperti pekerjaan biasa. Seperti yang aku kerjakan dua puluh tahun."
"Dan semua ini," Sulastri menyapu dinding dengan tangannya, "berujung ke mana?"
Kuncoro tidak perlu salinan untuk yang terakhir. Ia menuliskannya dari ingatan, huruf demi huruf, tangan yang biasa membubuhkan tanda tangan di berita acara kini menulis satu nama yang selama ini bersembunyi di ujung setiap lelang. HANDOKO REKSA — PT GRAHA CAKRAWALA. Ia tempelkan di paling atas, di puncak dinding, di tempat yang harus didongakkan untuk melihatnya.
Lalu ia menarik benang. Dari koperasi ke atas. Dari notaris ke atas. Dari pemenang lelang — kertas-kertas kecil bertuliskan empat belas perkara lama itu — semuanya ke atas. Satu per satu benang merah memanjat dinding dan bermuara di satu titik, di satu nama, dan ketika benang terakhir ia ikatkan, ruangan itu senyap.
Keduanya berdiri diam. Di dinding kamar kos yang sempit itu terbentang seluruh mesin: koperasi merekayasa utang, notaris memalsu akta, juru sita mengarang relaas, hakim mengetuk tanpa melihat, panitera menyalurkan, dan di puncaknya seorang pengembang yang mengubah pintu-pintu orang menjadi lahan parkir. Bukan empat belas kebetulan. Bukan kelalaian yang berdiri sendiri. Satu tangan, dengan banyak jari, dan setiap jari punya nama.
"Ini bukan perkara Sumirah," kata Sulastri, hampir berbisik. Wajahnya pucat oleh keindahan mengerikan dari benang-benang itu. "Sumirah cuma satu pintu."
"Satu pintu dari empat belas yang kutahu." Kuncoro mundur sampai punggungnya menyentuh dinding seberang. Dari jauh, jaring itu tampak utuh, dan justru karena utuh ia jadi menakutkan. Selama ini ia mengurus satu berkas, satu map cokelat, satu ketukan. Kini ia melihat seluruh bangunan, dan ia adalah salah satu batu batanya.
Sulastri mengeluarkan ponselnya. "Kita foto. Lapor besok. Ke atasan, ke pengawas, ke siapa pun—"
"Tidak." Kuncoro menahan lengannya, matanya tak lepas dari dinding. "Lihat baik-baik. Panitera. Hakim. Juru sita. Setengah nama di dinding ini duduk di dalam pengadilan yang mau kita lapori." Ia menelan ludah. "Kalau kita ketuk pintu yang salah, benang ini yang akan melilit leher kita sendiri."
Sulastri menurunkan ponselnya. Untuk pertama kali sejak mereka mulai, ia tampak takut. Benang merah di dinding berkilau samar dalam cahaya bohlam, dan di kamar sempit itu keduanya berdiri di hadapan sesuatu yang akhirnya bisa mereka lihat seluruhnya — dan justru karena itu, tak lagi tahu harus mulai dari mana.