Koperasi Sinar Mekar menempati ruko dua lantai di ujung Jalan Kapten Mulyadi, di antara toko material dan warung soto yang mengepulkan asap dari kuali besar sejak pagi. Papan namanya baru dicat: hijau tua dengan huruf emas yang masih mengkilap, seolah ingin meyakinkan siapa saja yang lewat bahwa tempat ini bersih, teratur, dan tak menyimpan apa-apa selain niat baik menolong orang kecil.
Kuncoro berhenti di seberang jalan, memandangi bangunan itu dari balik kaca sepeda motornya yang ia matikan mesinnya sepuluh menit lalu. Ia sudah mengganti kemeja dinasnya dengan kaus polos dan jaket lusuh, sesuatu yang biasa dipakai orang yang datang meminjam uang, bukan orang yang datang menyita. Di tangannya map plastik bening berisi fotokopi KTP dan slip gaji palsu yang ia buat sendiri semalam, mencontek format yang pernah ia lihat berpuluh kali disita dari debitur lain.
Dua puluh tahun ia menyita barang orang yang tak sanggup membayar utang. Baru kali ini ia datang berpura-pura menjadi salah satu dari mereka.
Ia menyeberang, mendorong pintu kaca yang berderit pelan. Ruangan dalam ber-AC, dingin, dengan meja-meja pendek berjajar dan seorang perempuan muda di balik loket tersenyum otomatis.
"Mau pinjam, Pak?"
"Iya, Mbak. Katanya di sini bisa cepat, jaminan sertifikat."
"Bisa, Pak. Sertifikat rumah, ruko, kios, apa saja bisa. Isi formulir ini dulu."
Ia menerima formulir, duduk di kursi plastik dekat jendela, dan dari situ pandangannya jatuh ke papan pengumuman di dinding samping—papan tripleks yang dilapis kertas manila kuning, ditulis tangan dengan spidol permanen: DAFTAR NASABAH BERMASALAH / MACET. Ada belasan nama, alamat, dan nomor kredit di sana, disusun rapi dalam kolom-kolom, lengkap dengan keterangan status di kolom terakhir: "proses hukum", "sudah lelang", "sita jaminan".
Ia mengenali tiga alamat sekaligus, tanpa perlu membaca dua kali.
Jalan Pasar Lama Nomor 12. Itu bukan Sumirah—itu tetangga sebelahnya, toko kelontong yang dulu ia lewati saat menyita rumah-bengkel. Jalan Pasar Lama Nomor 18, rumah petak di belakang bengkel. Dan satu lagi, jauh di kolom bawah, sudah ditandai lunas dengan tinta merah: Jalan Pasar Lama Nomor 9—alamat Sumirah sendiri, meski status eksekusinya masih ditunda oleh tangannya sendiri.
Ia menahan napas. Papan itu bukan daftar nasabah macet biasa. Itu peta sasaran, dipajang terang-terangan seolah kejujuran administratif, padahal isinya adalah incaran yang dirancang jauh sebelum siapa pun menunggak apa pun.
"Pak, formulirnya sudah?"
Ia tersentak, buru-buru mencoret nama palsu di kolom pertama. "Sebentar, Mbak. Ini... kalau boleh tanya, gimana proses kalau telat bayar? Saya dengar dari tetangga, bisa langsung disita."
Perempuan itu tertawa kecil, seperti menjelaskan hal biasa. "Itu tergantung, Pak. Kalau nasabahnya kooperatif, kita restrukturisasi. Tapi kalau memang bandel, ya jalur hukum. Bapak lihat itu—" ia menunjuk papan dengan dagunya, "—itu yang sudah masuk daftar. Rata-rata memang susah ditagih."
"Banyak juga ya, Mbak, satu daerah."
"Iya, kebetulan memang lagi ramai di sana. Pak Gunawan bilang itu daerah rawan gagal bayar."
Dari balik sekat kayu di sudut ruangan, seorang pria berbadan gempal keluar sambil menenteng map, kacamata bacanya menggantung di ujung hidung. Kuncoro mengenali wajah itu dari fotokopi berkas yang pernah ia baca berkali-kali di kantor: Gunawan, pengurus koperasi, tanda tangannya tercetak di puluhan akta kredit macet yang selama ini ia anggap sekadar dokumen rutin.
"Ada calon nasabah baru, Yuk?" tanya Gunawan pada perempuan di loket, matanya sekilas menyapu Kuncoro tanpa curiga.
"Iya, Pak. Mau pinjam, jaminan sertifikat."
Gunawan mendekat, menyodorkan tangan. "Gunawan. Selamat datang. Sertifikat rumah sendiri?"
"Punya orang tua, Pak," jawab Kuncoro, menjabat tangan itu dengan kesadaran ganjil bahwa tangan inilah yang mungkin ikut menandatangani nasib Sumirah. "Katanya cair cepat di sini."
"Cepat kok, asal syarat lengkap. Kita percaya sama warga sini. Bapak tinggal di mana?"
"Dekat pasar, Pak. Pasar Lama."
Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata Gunawan—bukan curiga, lebih mirip kepuasan seorang pemburu yang mendengar nama hutan favoritnya disebut. "Oh, daerah situ. Bagus itu, harga tanah lagi naik. Nanti kalau ada apa-apa, saya bisa bantu carikan pembeli juga, kalau memang butuh jual cepat."
Kuncoro mengangguk pelan, menahan sesuatu yang mengaduk di dadanya—bukan amarah yang meledak, melainkan sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam: kepastian. Ia sudah menduga sejak menemukan nama Sinar Mekar di berkas Sumirah, tapi menduga dan menyaksikan adalah dua hal berbeda. Di sini, di ruangan berpendingin ini, dengan formulir di pangkuannya dan papan nasabah macet di depan matanya, ia melihat mesin itu bekerja telanjang: bukan orang yang gagal bayar lalu disita, melainkan tanah yang dipilih lebih dulu, lalu utang direkayasa untuk menjustifikasi penyitaannya.
"Pak, kalau boleh tahu," katanya, memancing lebih jauh, "yang di papan itu, semua memang benar telat bayar? Soalnya saya kenal beberapa nama, kayaknya bukan orang yang biasa berutang."
Gunawan tertawa, tapi tawanya sedikit lebih pendek dari sebelumnya. "Bapak ini teliti juga. Ya namanya bisnis, Pak, kadang orang kelihatan baik-baik tapi memang bandel bayar. Kita kan cuma jalankan sesuai aturan. Ada berita acara, ada putusan pengadilan, semua resmi."
Berita acara. Putusan pengadilan. Kata-kata itu keluar begitu ringan dari mulut Gunawan, seolah dua benda yang selama dua puluh tahun menjadi beban di pundak Kuncoro hanyalah stempel administratif yang bisa dipesan sesuai pesanan.
"Formulirnya saya bawa pulang dulu ya, Pak," kata Kuncoro, berdiri, merasa lantai ber-AC itu tiba-tiba terlalu licin untuk dipijak lebih lama. "Biar saya lengkapi di rumah."
"Silakan, Pak. Jangan lama-lama, ya, keburu penuh kuotanya," sahut Gunawan, sudah membalik badan menuju sekat kayunya, tanpa tahu bahwa lelaki berkaus lusuh yang baru saja ia sambut ramah adalah juru sita yang menahan tanda tangannya sendiri demi satu nama di papan itu.
Di luar, matahari sudah naik lebih tinggi, memantul dari kap motor-motor yang diparkir berjajar. Kuncoro menyalakan motornya, tapi tak segera menjalankannya. Ia menatap papan hijau bertulis emas itu sekali lagi dari kejauhan, dan untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia merasa dirinya bukan lagi orang yang mengeksekusi kejahatan orang lain—ia adalah saksi yang baru saja melihat kejahatan itu disusun rapi dalam kolom-kolom, ditandatangani, dan menunggu giliran untuk diberi map cokelat dan pita merah-putih.