Ruang arsip lantai bawah selalu berbau sama: kertas lembap bercampur kapur barus dan sedikit karat dari rak-rak besi yang tak pernah diminyaki. Kuncoro sudah dua puluh tahun turun ke situ, dan biasanya baunya hanya latar yang tak ia rasakan, seperti detak jam di ruang kerjanya. Tapi hari itu bau itu terasa lebih tajam, seolah tubuhnya sendiri sedang waspada sebelum pikirannya sempat menyusul.
Ia membawa map cokelat kosong sebagai alasan — hendak melengkapi lampiran berita acara, katanya, meski sebenarnya ia hanya ingin memegang lagi berkas induk perkara Sumirah, membandingkannya sekali lagi dengan salinan yang mulai terasa terlalu tipis untuk menanggung apa yang mereka curigai.
Petugas arsip yang dulu berkilah berkas itu "sedang dipinjam" kini duduk di meja yang sama, dengan buku registrasi yang sama, tapi sikapnya berbeda. Ia tidak lagi menghindar. Ia malah cepat-cepat membuka halaman, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tak menyembunyikan apa-apa.
"Sudah saya cari, Pak Kuncoro. Nomor perkaranya ada di catatan peminjaman, tapi berkasnya sendiri..." Ia membalik dua halaman lagi, jarinya berhenti di satu baris yang ditulis buru-buru dengan tinta berbeda. "Ini. Dikembalikan tanggal segini. Tapi di rak, tidak ada."
"Coba dicek lagi di rak sebelah. Kadang salah taruh."
"Sudah tiga kali saya cek, Pak. Dari kemarin. Rak untuk perkara koperasi Sinar Mekar juga saya periksa, siapa tahu tertukar. Nihil."
Kuncoro berdiri di depan rak nomor yang sesuai, jarinya menyusuri sela-sela map yang berjejal, mencari satu warna cokelat yang seharusnya menyimpan hidup Sumirah dalam bentuk kertas — putusan asli, relaas panggilan, berita acara pertama yang dulu ia tanda tangani setengah hati. Yang ada hanya map-map lain, perkara-perkara orang yang tak ia kenal, berdesak-desakan seperti tak peduli ada yang hilang di antara mereka.
Ia membuka buku registrasi sendiri, mencocokkan tanggal peminjaman dengan ingatannya. Dulu, waktu ia pertama turun ke sini bersama Sulastri, alasannya "sedang dipinjam" — kata yang lentur, bisa berarti apa saja, bisa juga berarti tidak ada yang berani jujur. Sekarang kata itu sudah tak berlaku lagi. Barangnya benar-benar tak ada.
"Siapa yang terakhir meminjam?"
Petugas itu menunjuk satu nama paraf yang tak bisa dibaca jelas, hanya goresan miring yang bisa jadi inisial siapa saja. "Tidak dicatat lengkap, Pak. Kadang begitu kalau buru-buru."
Kuncoro tahu kalimat itu bukan kebohongan petugas arsip — orang ini hanya penjaga gudang, bukan pemain. Tapi justru itu yang membuatnya dingin. Kalau bahkan penjaga gudang tak dilibatkan dalam kebohongan, berarti yang mengambil berkas itu tahu persis bagaimana cara masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak yang bisa dipertanyakan. Itu bukan pencurian orang iseng. Itu pembersihan.
Ia naik kembali ke ruang kerjanya dengan map cokelat kosong yang tadi ia bawa sebagai dalih, kini terasa seperti sindiran. Sulastri sudah menunggu di depan pintu, pura-pura sibuk dengan berkas lain, seperti yang sudah jadi kebiasaan mereka sejak ia dimutasi urusannya menjauh dari perkara ini — bertemu seolah kebetulan, bicara seolah membahas hal remeh.
"Sudah tidak ada," kata Kuncoro pelan, begitu mereka berdua cukup jauh dari telinga siapa pun. "Berkas induknya. Bukan dipinjam. Raib."
Wajah Sulastri tak menunjukkan kaget yang berlebihan, hanya rahangnya mengeras sedikit. "Berarti yang tersisa cuma punya kita."
"Salinanmu masih lengkap?"
"Masih. Saya simpan di dua tempat berbeda, seperti yang Bapak bilang waktu itu." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, suaranya lebih rendah, "Tapi kalau mereka berani mengambil berkas dari dalam gudang arsip pengadilan sendiri, Pak, itu artinya orang dalam. Bukan cuma orang luar yang menyuap penjaga."
Kuncoro tidak menjawab segera. Ia memikirkan paraf tak terbaca di buku registrasi, memikirkan betapa mudahnya sebuah map berpindah tangan di gedung yang seharusnya menjaga kebenaran justru dengan cara paling rapi — tanpa kekerasan, tanpa jejak, hanya kertas yang menghilang seakan tak pernah ada.
"Dulu kita pikir kita mengejar mereka," katanya akhirnya. "Sekarang saya rasa mereka sudah tahu kita mengejar, dan mereka sedang membereskan jalan di belakang kita, satu per satu."
Sulastri menatap map cokelat kosong di tangan Kuncoro, lalu menatap wajahnya. "Kalau begitu salinan kita bukan cuma bukti lagi, Pak. Itu satu-satunya bukti."
Kalimat itu menggantung di udara ruang koridor yang temaram, dan Kuncoro merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sepanjang dua puluh tahun bekerja di gedung ini: bahwa kertas di tangannya kini lebih berharga daripada jabatannya, mungkin lebih berharga daripada keselamatannya sendiri. Ia menutup map cokelat kosong itu perlahan, seolah menutup sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar folder tanpa isi.
"Fotokopi lagi," katanya. "Malam ini juga. Simpan di tempat yang bahkan kau sendiri harus mengingat-ingat dulu sebelum bisa mengambilnya."
Sulastri mengangguk, tapi matanya masih menyimpan satu pertanyaan yang tak sempat ia ucapkan — pertanyaan yang sama yang mulai mengganggu Kuncoro sejak ia berdiri kosong di depan rak arsip: jika berkas asli bisa lenyap semudah itu dari jantung pengadilan sendiri, berapa lama lagi sebelum salinan-salinan mereka pun dikejar sampai ke tempat persembunyiannya.