Kantor Lembaga Bantuan Hukum itu menempati lantai dua sebuah ruko yang catnya sudah mengelupas, di gang yang terlalu sempit untuk dilewati dua mobil sekaligus. Kuncoro menaiki tangga besi di belakang Sulastri, sepatunya berdenting pada setiap anak tangga, dan ia merasa dirinya terlalu tua untuk berada di tempat semuda ini. Poster-poster tuntutan menempel di dinding tangga. Bau kopi murah dan tinta fotokopi bercampur di udara.
"Bapak yakin mau ikut?" Sulastri berhenti di depan pintu kaca, memeluk map cokelat itu ke dadanya seolah menjaganya dari angin. "Bapak bilang tadi malam masih ragu."
"Aku ikut supaya bisa menariknya kembali kalau salah," kata Kuncoro. Ia sendiri tidak yakin itu jawaban jujur. Selama dua puluh tahun ia membawa map cokelat untuk mengambil sesuatu dari orang lain. Ini pertama kalinya ia membawanya untuk menyerahkan.
Mahdi menyambut mereka di ruang yang penuh tumpukan berkas sampai ke jendela. Lelaki itu masih muda, mungkin akhir tiga puluhan, dengan kemeja yang lengannya digulung dan kacamata yang melorot di hidung. Ia tidak berbasa-basi soal cuaca. Ia hanya menunjuk dua kursi plastik dan menyingkirkan setumpuk map dari atasnya.
"Sulastri sudah cerita sedikit lewat telepon," kata Mahdi. Ia menatap Kuncoro agak lama. "Anda juru sita."
"Dua puluh tahun." Kuncoro tidak tahu kenapa ia menambahkan angka itu. Kebiasaan. Dulu angka itu membuat orang menunduk.
"Dua puluh tahun mengetuk pintu orang," Mahdi mengulang, tanpa nada menghakimi, hanya mencatat. "Dan sekarang Anda duduk di kursi saya."
Sulastri meletakkan map cokelat di meja dan membukanya. Salinan relaas, salinan surat kuasa, fotokopi buku tabungan Sumirah, lembar demi lembar yang telah mereka kumpulkan dalam gelap. "Ini perkara atas nama Sumirah, Jalan Pasar Lama," katanya. Suaranya cepat, seperti takut keberaniannya habis di tengah jalan. "Putusan verstek. Tergugat dianggap tidak pernah hadir. Tapi tanggal relaas panggilannya—" ia menggeser satu lembar, "—jatuh persis saat Sumirah dirawat di rumah sakit. Dan tanda tangan di surat kuasa ini beda dengan tanda tangan di KTP-nya."
Mahdi mengambil lembar itu. Ia tidak buru-buru. Ia membaca seperti orang yang tahu setiap koma bisa jadi jebakan. Jarinya berhenti di satu titik.
"Nomor perkaranya," gumamnya. "Boleh saya lihat salinan putusannya sekali lagi."
Kuncoro mendorong lembar itu. Ada sesuatu di wajah advokat itu yang membuat perutnya mengetat — bukan keraguan, melainkan pengenalan. Mahdi mencocokkan dua angka, lalu menyandarkan punggungnya, melepas kacamata, memijat pangkal hidungnya.
"Notaris Ratna Wulandari," kata Mahdi pelan. "Koperasi Sinar Mekar."
Sulastri terhenyak. "Bapak tahu?"
"Saya pernah kalah melawan dua nama itu. Dua kali." Mahdi memakai lagi kacamatanya. "Klien saya kehilangan kios di dekat terminal. Semua dokumennya terlihat sah. Terlalu sah. Waktu itu saya pikir saya cuma kurang teliti. Ternyata bukan saya yang kurang teliti."
Ruangan itu senyap sejenak. Dari luar terdengar suara motor lewat, klakson, seorang pedagang meneriakkan harga.
"Kalau begitu Bapak mau bantu," kata Sulastri. Ada harap yang hampir kekanak-kanakan dalam nada itu, dan Kuncoro ingin sekali membiarkannya utuh, tapi ia tahu Mahdi tidak akan.
"Saya tertarik," kata Mahdi. Ia menutup map cokelat itu perlahan, seolah menutup pintu sebuah rumah yang tak yakin ingin ia masuki. "Saya sangat tertarik. Justru itu yang membuat saya harus jujur ke kalian sekarang, sebelum kalian terlalu jauh."
Ia mengetuk map itu dua kali dengan jari telunjuk.
"Semua yang ada di sini salinan. Tidak ada satu pun asli. Di pengadilan, salinan tanpa berkas induk hampir tidak berarti. Kalau kita masuk terlalu cepat, mereka tinggal bilang dokumen kalian rekayasa, dan kalian berdua yang akan diperiksa." Matanya berpindah ke Kuncoro. "Terutama Anda. Anda pegawai pengadilan. Kalau ketahuan menyalin berkas perkara diam-diam, mereka punya alasan resmi untuk menghabisi Anda, dan tidak seorang pun akan bertanya kenapa."
"Saya sudah tahu risikonya," kata Kuncoro. Suaranya lebih datar dari yang ia rasakan.
"Anda tahu risiko dipecat," kata Mahdi. "Yang saya bicarakan lebih dari itu." Ia mencondongkan badan, menurunkan suara meski di ruangan itu hanya ada mereka bertiga. "Perkara semacam ini tidak berjalan sendirian. Ada notaris yang membuat aktanya, ada koperasi yang membuat utangnya, ada juru sita yang membuat relaas kosongnya. Dan supaya semua itu bisa jadi putusan, harus ada tangan di dalam. Panitera. Mungkin hakimnya. Mungkin dua-duanya." Ia menatap Kuncoro lurus. "Anda orang dalam. Anda pasti sudah menduga siapa."
Kuncoro tidak menjawab. Nama Darsana naik ke tenggorokannya dan berhenti di sana, seperti tulang yang tak bisa ditelan. Ia teringat ruang panitera, teguran administratif itu, telepon yang selalu diangkat Darsana dengan punggung membelakangi pintu. Ia belum siap mengucapkannya di ruangan asing ini, di depan map cokelat yang baru saja ia buka.
Mahdi seakan membaca diamnya. Ia mengangguk kecil, tidak mendesak.
"Kalau lawan kita punya tangan di dalam pengadilan," lanjutnya, "maka setiap langkah kita akan mereka lihat sebelum kita ambil. Kita lapor, laporan itu mampir dulu ke meja mereka. Kita ajukan perlawanan, majelisnya bisa mereka atur. Karena itu kita tidak boleh gegabah." Ia mengembalikan map cokelat ke tangan Sulastri, tapi tangannya menahan sebentar di atas map itu. "Kita kumpulkan bukti sahih dulu. Yang asli. Yang tidak bisa mereka bilang palsu. Sampai saat itu, kalian jangan bergerak sendiri, dan jangan percaya siapa pun di kantor kalian. Siapa pun."
Sulastri menelan ludah. "Berapa lama?"
"Selama yang dibutuhkan supaya kalian tidak mati konyol." Mahdi tersenyum tipis, tanpa geli. "Maaf, Nak. Saya tidak menakut-nakuti. Saya cuma tidak mau menang di koran lalu kalah di ruang sidang, seperti dua kali dulu."
Kuncoro bangkit lebih dulu. Ia merasa perlu berdiri, merasa perlu tinggi lagi meski sebentar. Dari jendela ruko itu ia bisa melihat atap-atap kota yang berdesakan, dan di suatu tempat di baliknya, Jalan Pasar Lama, bengkel Sumirah, pita yang belum ia pasang.
"Kalau kita berhasil," katanya, lebih kepada dirinya sendiri, "berapa banyak yang jatuh?"
Mahdi ikut berdiri. Ia mengulurkan tangan, dan genggamannya keras, seperti orang yang tahu apa yang ia janjikan.
"Kalau kita berhasil," katanya, "sebagian dari mereka duduk di kursi yang biasa Anda datangi untuk menyita, Pak Kuncoro. Dan Anda harus siap kalau salah satunya wajah yang Anda kenal."
Kuncoro menyambut tangan itu. Ia tidak berkata apa-apa. Di tangga besi turun ke gang, denting sepatunya terdengar berbeda kini — bukan seperti orang yang datang mengambil, melainkan seperti orang yang sudah menyerahkan sesuatu dan tak bisa memintanya kembali.