Nama itu sudah delapan tahun tak ia ucapkan, tetapi begitu jarinya menyentuh kertas usang di dasar kotak sepatu, ingatan itu kembali utuh seperti kejadian kemarin sore: Kasdi Sumarto, enam puluh tiga tahun, gang sempit di belakang pasar lama sisi utara, nomor perkara yang huruf dan angkanya sudah luntur di sudut map tetapi masih bisa ia eja dalam gelap. Salah satu dari empat belas nama yang ia dan Sulastri lingkari merah di kertas yang belum sempat mereka susun jadi peta utuh — koperasi yang sama, notaris yang sama, pemenang lelang yang berujung ke grup yang sama.
Kuncoro tidak tahu kenapa harus nama ini yang ia pilih lebih dulu, dari empat belas yang ada. Barangkali karena Kasdi satu-satunya yang, dalam ingatannya, tidak melawan sama sekali. Tidak menangis, tidak memohon, tidak mengumpat. Hanya berdiri di ambang pintu dengan sarung dan kaus oblong, menonton pita merah-putih dipasang di kusen rumahnya sendiri, seolah menyaksikan sesuatu yang terjadi pada orang lain.
Ia menunggu Tuti tidur sebelum keluar. Bukan mengendap-endap — ia tak sanggup menambah alasan lagi untuk berbohong kepada istrinya — tetapi juga tak ingin ditanya hendak ke mana, sebab jawabannya sendiri belum jelas baginya.
Gang di belakang pasar lama sisi utara sudah berubah rupa. Rumah petak yang dulu ia datangi kini jadi ruko dua lantai bercat hijau, menjual sparepart motor tiruan. Ia berdiri di seberang, mencocokkan nomor yang tertulis di map dengan nomor yang tertempel di pintu ruko, memastikan bukan salah alamat. Cocok. Tak ada bekas apa pun dari rumah yang dulu — tak ada jejak bahwa di situ pernah ada dapur dengan tungku kayu, ada foto keluarga di dinding yang ia lihat sekilas saat menyita, ada seorang lelaki tua yang menonton.
Seorang perempuan setengah baya sedang menyapu teras ruko sebelah. Kuncoro mendekat, memperkenalkan diri sekadarnya sebagai orang yang dulu bekerja di pengadilan, mengaku sedang mencari kabar keluarga lama.
"Kasdi? Pak Kasdi yang dulu tinggal di situ?" Perempuan itu berhenti menyapu, menatapnya sebentar seperti menilai apakah pertanyaan itu aman dijawab. "Sudah lama meninggal, Pak. Nggak sampai setahun setelah rumahnya disita."
"Sakit apa?"
"Katanya stroke. Tapi menurut saya mah bukan sakit badan yang bikin dia jatuh. Dia itu orangnya kuat, dulu jualan gerabah keliling sampai umur enam puluh. Habis rumahnya diambil, dia numpang di rumah anaknya, terus diam terus, nggak mau ngobrol sama tetangga lagi. Tiga bulan begitu, terus jatuh di kamar mandi, nggak bangun-bangun lagi."
Kuncoro mengangguk, mencatat sesuatu yang tak perlu dicatat, sekadar memberi tangannya kesibukan. "Anaknya sekarang di mana?"
"Pindah ke Karawang, katanya. Ikut mertuanya di sana." Perempuan itu memiringkan kepala. "Bapak kenal Pak Kasdi dari mana?"
"Dulu ada urusan pekerjaan," jawab Kuncoro, dan ia benci pada dirinya sendiri karena kalimat itu keluar begitu lancar, begitu rapi menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi di ambang pintu itu delapan tahun lalu.
Perempuan itu menunjuk ke arah timur, ke tempat pemakaman umum di ujung jalan, sebelum kembali menyapu. Kuncoro berjalan ke sana sendirian, melewati becak mangkal dan warung kopi yang mulai tutup, dengan map cokelat masih terselip di tangannya seperti kebiasaan yang tak bisa ia lepas meski tak ada berkas yang perlu ia tunjukkan kepada siapa pun di tempat itu.
Penjaga makam menunjukkan arah setelah mendengar nama itu disebut, tanpa banyak bertanya — orang seperti Kasdi rupanya tidak dikunjungi cukup sering hingga penjaga hafal letak nisannya di luar kepala, dan itu sendiri sudah jadi semacam jawaban.
Nisannya sederhana, batu abu-abu tanpa foto, nama dan dua tanggal terukir dangkal, sudah mulai ditumbuhi lumut di sela hurufnya. KASDI SUMARTO. Selisih dua tanggal itu tidak sampai delapan bulan sejak hari yang Kuncoro ingat persis: hari ia berdiri di halaman rumah petak itu, membacakan isi berita acara dengan suara yang sudah ia latih bertahun-tahun supaya terdengar rata, tidak menghakimi, tidak berbelas kasihan — supaya terdengar seperti hukum sedang bicara, bukan Kuncoro Wignyo.
Ia berjongkok di depan nisan itu, menyentuh permukaannya yang dingin dan berpasir. Tak ada dupa, tak ada bunga yang belum kering, tanda tak seorang pun datang belakangan ini. Ia membayangkan Kasdi diam di rumah anaknya di Karawang, tiga bulan tak bicara dengan siapa pun, seperti sesuatu di dalam dirinya sudah dicabut lebih dulu sebelum jantungnya sendiri berhenti.
Selama dua puluh tahun ia melatih dirinya untuk tidak merasa apa-apa saat menyita. Itu yang membuatnya bisa tidur, bisa pulang, bisa makan malam bersama Tuti seolah harinya biasa saja. Sekarang, berjongkok di depan batu nisan yang jarang dikunjungi ini, ia mengerti bahwa yang selama ini ia sebut "tidak merasa" sebenarnya cuma menunda. Rasa itu tidak hilang. Ia hanya ditumpuk, satu di atas yang lain, empat belas kali atau lebih, menunggu satu nama yang cukup untuk membongkar semuanya sekaligus.
Ia tidak menangis. Bukan karena tabah, tetapi karena air matanya pun rasanya sudah lama tak diberi izin.
Yang ia bawa pulang malam itu bukan bukti baru, bukan nama tersangka baru, bukan apa pun yang bisa dilampirkan ke berkas Sumirah. Yang ia bawa pulang hanya satu kepastian kecil dan berat: bahwa penyelidikan ini, sejak malam itu, bukan lagi soal menyelamatkan satu rumah di Jalan Pasar Lama sebelum terlambat. Itu juga soal Kasdi, dan siapa pun lain di antara empat belas nama itu yang sudah keburu mati sebelum sempat dimintai maaf.
Ia menyalin nama dan tanggal di nisan itu ke buku catatannya sendiri, di halaman yang sama dengan daftar empat belas nama, lalu memberi tanda kecil di sebelah nama Kasdi — bukan tanda selesai, sebab tak ada yang bisa disebut selesai untuk orang yang sudah tak bisa dimintai keterangan. Hanya tanda bahwa ia sudah datang, terlambat delapan tahun, membawa map cokelat yang kali ini kosong dari apa pun kecuali niat untuk tidak lagi berpura-pura tidak merasa.