Amplop itu sudah ada di meja makan ketika Kuncoro pulang. Cokelat muda, tanpa nama pengirim, hanya alamat rumahnya ditulis tangan dengan huruf tegak yang rapi, terlalu rapi untuk tangan yang mengenalnya. Tuti duduk di kursi seberang, tidak menyentuhnya, seolah benda itu bisa menggigit. Lampu dapur menyala satu, menyisakan sudut-sudut ruangan dalam bayang.
"Diantar orang tadi sore," kata Tuti. Suaranya datar, tapi Kuncoro tahu istrinya sedang menahan sesuatu. "Naik motor. Tidak pakai helm. Cuma bilang titipan untuk Pak Kuncoro, lalu pergi."
Kuncoro meletakkan map cokelat kerjanya di kursi. Ia menarik amplop itu, menimangnya. Berat. Ia sudah tahu isinya sebelum jempolnya membuka lipatan yang tidak dilem. Lembar-lembar merah, tersusun rapi, masih licin dari bank. Ia tidak menghitungnya. Ia tidak perlu.
"Berapa?" tanya Tuti.
"Tidak usah tahu."
"Berapa, Mas." Kali ini bukan pertanyaan.
Kuncoro menutup amplop itu kembali, seakan dengan begitu isinya bisa dianggap tidak pernah ada. "Banyak," katanya akhirnya. "Lebih dari gaji dua bulan."
Tuti menutup mulutnya dengan punggung tangan. Di dapur, air di panci mulai mendidih, tapi tidak ada yang beranjak mematikannya. Uap naik tipis, membubung, lalu hilang.
"Aku sudah bilang," bisik Tuti. "Aku sudah bilang dari kemarin-kemarin, waktu kamu mulai bawa berkas pulang. Waktu kamu tidak bisa tidur. Aku sudah merasa ada yang tidak beres."
"Ini justru bukti bahwa aku benar." Kuncoro berusaha membuat suaranya tenang, suara yang biasa ia pakai untuk menghadapi orang yang menangis di depan pintu yang akan ia segel. "Kalau tidak ada apa-apa, buat apa mereka kirim uang sebanyak ini?"
"Justru itu!" Tuti berdiri. Kursinya berderit di lantai. "Justru karena kamu benar, mereka jadi berani mengetuk pintu kita. Kamu dengar tidak apa yang kamu bilang barusan? Mereka tahu alamat rumah kita, Mas. Mereka tahu jam berapa kamu belum pulang dan aku sendirian di sini."
Kuncoro terdiam. Di situlah letak racun amplop itu — bukan pada uangnya, melainkan pada pesan yang menyertainya tanpa satu kata pun tertulis. Kami tahu di mana kamu tidur. Kami tahu istrimu memasak sendirian di dapur menghadap jalan. Ia sudah cukup lama menjadi juru sita untuk mengenali kalimat yang tidak diucapkan. Selama dua puluh tahun ia yang membawa pesan seperti itu ke rumah orang lain, terbungkus map cokelat dan pita merah-putih berstempel pengadilan. Kini pesan itu datang ke mejanya sendiri.
"Kembalikan," kata Tuti. "Besok pagi. Antar ke mana pun asalnya, taruh di meja atasanmu, aku tidak peduli. Aku tidak mau uang itu bermalam satu malam lagi di rumah ini."
"Kalau kukembalikan, mereka anggap aku menantang."
"Kalau kausimpan?" Tuti menatapnya lekat. "Mereka anggap kamu sudah dibeli. Dan kalau suatu hari kamu melawan mereka, uang ini yang akan mereka pakai untuk menggantungmu. 'Lihat, dia terima suap.' Foto amplop ini pasti sudah ada di tangan mereka, Mas. Amplop di meja makan kita."
Kuncoro merasakan sesuatu mengendur di dadanya. Perempuan ini, yang selama ini ia kira hanya cemas seperti cemasnya seorang istri, ternyata melihat lebih jernih daripada dirinya. Jebakan itu bermata dua. Terima, ia jadi bagian dari mereka. Tolak dengan mengembalikan, ia memberi mereka alasan. Diam saja, dan amplop itu duduk di rumahnya sebagai bom waktu.
"Aku akan urus," katanya lemah.
"Urus bagaimana?" Suara Tuti pecah sedikit di ujung. "Kamu tahu Handoko Reksa itu siapa? Aku tanya-tanya tetangga. Namanya ada di baliho, Mas. Di proyek pasar baru. Orang seperti itu, kamu mau lawan dengan apa? Dengan pensiunmu tiga tahun lagi? Dengan kartu juru sita yang bisa mereka tahan kapan saja?"
"Aku tidak bisa berhenti sekarang, Tuti."
"Kenapa tidak bisa?" Tuti melangkah mendekat, dan Kuncoro melihat air di matanya, bukan air mata orang lemah, melainkan air mata orang yang lelah takut. "Selama dua puluh tahun kamu bilang kamu tidak merasa apa-apa waktu kerja. Kamu bangga soal itu. Sekarang tiba-tiba kamu merasa? Sekarang, waktu ada yang mengancam kita? Kenapa tidak dari dulu saja, waktu masih aman?"
Kalimat itu menohok tepat di tempat yang paling ia hindari. Karena Tuti benar. Selama dua puluh tahun ia memang tidak merasa. Ia memasang pita, membaca berita acara, menandatangani, pulang, makan malam yang dimasak perempuan ini, dan tidur nyenyak. Rumah-rumah yang ia kosongkan tidak pernah ikut pulang bersamanya. Baru sekarang, ketika angka-angka di map cokelat Sumirah tidak cocok, ketika ia melihat satu wajah — Bagas, Sumirah, buku tabungan yang cicilannya tak pernah menunggak — semuanya ikut pulang sekaligus, bertahun-tahun yang tertunda menagih dalam satu malam.
"Karena dulu aku tidak tahu," kata Kuncoro pelan. "Sekarang aku tahu. Itu bedanya."
"Dan pengetahuan itu yang akan menghancurkan kita." Tuti duduk kembali, tubuhnya seakan kehabisan tenaga untuk berdiri. "Aku tidak minta kamu jadi orang suci, Mas. Aku cuma minta kamu tua bersamaku. Di rumah ini. Tanpa harus melihat ke jendela tiap kali ada motor lewat."
Panci di dapur masih mendidih, airnya sudah menyusut. Kuncoro berjalan mematikan kompor. Punggungnya menghadap istrinya, dan untuk sesaat ia berdiri saja di sana, memandang gelembung terakhir pecah di permukaan air. Ia bisa mengembalikan amplop itu besok. Ia bisa bilang berkas Sumirah sudah beres, seperti yang sudah ia bohongkan pada Darsana. Ia bisa membiarkan pita merah-putih itu terpasang dan tidur nyenyak lagi seperti dua puluh tahun sebelumnya.
Tapi ia tahu ia tidak akan tidur nyenyak lagi. Amplop itu sudah membuktikan satu hal yang mengerikan: ia sudah cukup mengganggu mereka sehingga mereka merasa perlu membeli atau menakutinya. Dan orang yang tidak berbahaya tidak dibeli.
"Simpan amplopnya," kata Kuncoro, berbalik. "Jangan dibuka lagi. Jangan dibuang. Taruh di tempat yang cuma kita berdua tahu."
Tuti menatapnya, ngeri. "Kamu tidak akan berhenti."
Kuncoro tidak menjawab. Ia menarik kursi dan duduk di seberang istrinya, di antara mereka amplop cokelat itu, dan untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka yang panjang, ia tidak tahu bagaimana meyakinkan perempuan yang paling ia percaya bahwa ia melakukan hal yang benar — karena ia sendiri pun belum yakin bahwa hal yang benar itu sepadan dengan harganya.