Surat itu sudah menunggu di atas meja Kuncoro ketika ia datang, terselip di antara map cokelat yang belum sempat ia rapikan semalam. Amplop dinas, berkop pengadilan, sudut kanan atas dicap tanggal hari itu juga. Ia tahu isinya sebelum jarinya menyobek. Dua puluh tahun bekerja di gedung ini mengajarinya membaca amplop seperti orang lain membaca wajah.
Ruang panitera baru dibuka setengah jam. Kipas angin di sudut berputar malas, menyapu bau kertas tua dan kopi tumpah yang tak pernah benar-benar hilang dari lantai itu. Darsana sudah duduk di balik mejanya, kacamata baca melorot, seolah sengaja menunggu Kuncoro membuka surat itu di depannya.
"Duduk, Kun," katanya, tanpa menoleh dari layar. "Sudah kaubaca?"
Kuncoro tetap berdiri. Ia menyapu baris demi baris. Teguran administratif. Kata-katanya licin, disusun oleh orang yang tahu betul bagaimana membuat ancaman terdengar seperti pembinaan. Menunda pelaksanaan eksekusi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara administratif. Berpotensi menghambat kinerja satuan. Menjadi catatan dalam penilaian.
"Perkara Jalan Pasar Lama," kata Kuncoro akhirnya. Suaranya rata. "Yang atas nama Sumirah."
"Yang mana lagi." Darsana menanggalkan kacamatanya, memijit pangkal hidung. "Sudah tiga minggu, Kun. Berita acaranya kaubawa pulang, katamu perlu dilengkapi. Dilengkapi apa? Putusan sudah inkrah. Nomor perkaranya jelas. Pengembang menunggu, pengadilan menunggu, dan aku yang harus menjawab kalau ditanya di rapat kenapa satu eksekusi kecil bisa mangkrak di tangan juru sita paling senior yang kupunya."
"Ada yang tidak cocok di berkasnya."
"Semua berkas ada yang tidak cocok kalau kaucari-cari." Darsana mengetuk meja dengan buku jarinya, dua kali, pelan. "Kau tahu berapa perkara yang kautangani tahun ini? Kau tahu berapa yang selesai tanpa satu pun surat begini di mejamu? Aku hafal rekam jejakmu, Kun. Bersih. Rapi. Tidak pernah rewel. Itu yang membuat aku heran. Sejak kapan kau jadi begini?"
Kuncoro melipat surat itu dua kali, memasukkannya kembali ke amplop. Tangannya tidak gemetar. Ia sudah melatih tangan itu untuk tidak gemetar bertahun-tahun, saat memasang pita merah-putih di pintu orang yang menangis. Tapi ada sesuatu di dadanya yang mengeras, seperti simpul yang ditarik dari dalam.
"Relaas panggilannya tertanggal saat perempuan itu dirawat di rumah sakit," kata Kuncoro. "Tergugat tidak mungkin menerima panggilan kalau dia sedang diinfus. Putusan verstek atas dasar ketidakhadiran yang—"
"Itu bukan urusan juru sita." Suara Darsana mengeras untuk pertama kalinya, lalu segera ia turunkan lagi, seakan sadar dinding tipis. "Dengar. Aku bicara sebagai orang yang sudah kenal kau lima belas tahun. Enam bulan lagi kau pensiun. Enam bulan. Jangan kaubuat catatan jelek di akhir, yang bikin uang pensiunmu ditahan-tahan verifikasinya. Aku pernah lihat orang begitu. Sudah mengabdi seumur hidup, gara-gara satu perkara keras kepala, berkasnya diulur setahun di bagian keuangan. Kau mau begitu? Istrimu mau begitu?"
Tuti. Nama itu tidak diucapkan, tapi terselip di antara kalimat seperti pisau yang diletakkan di atas meja tanpa ditodongkan. Kuncoro menatap atasannya. Lelaki di balik meja itu tampak lelah, kemejanya kusut di bagian punggung, tapi matanya tidak lelah sama sekali. Matanya waspada, mengukur, seperti orang yang sedang menunggu jawaban untuk dilaporkan kepada pihak lain.
"Berapa lama waktu yang kaupunya untukku?" tanya Kuncoro.
"Minggu ini." Darsana menyandarkan punggung. "Kaupasang pitanya, kaubuat berita acaranya, kaububuhkan tanda tangan penuh. Selesai. Aku cabut surat ini, tidak masuk arsip, seolah tidak pernah ada. Kau pulang, main sama cucu, lupakan Jalan Pasar Lama. Gampang, kan?"
Terlalu gampang. Itu justru yang membuat kuduk Kuncoro meremang. Seorang koordinator tidak menerbitkan teguran tertulis, dengan cap tanggal, hanya untuk mengurus satu rumah-bengkel reyot milik janda tua. Ada tangan lain di balik meja itu, menekan dari suatu tempat, dan Darsana hanya menyalurkan tekanannya ke bawah, ke arahnya.
"Saya pikirkan," kata Kuncoro.
"Jangan pikir terlalu lama." Darsana kembali memakai kacamatanya, menandakan percakapan usai. "Otak yang terlalu banyak berpikir gampang salah langkah, Kun. Umur kita sudah tidak cocok buat salah langkah."
Kuncoro mengambil map cokelatnya, menjepit amplop teguran di antara berkas-berkas, dan berbalik ke pintu. Di ambang, ia hampir mengucapkan sesuatu—terima kasih, barangkali, dari kebiasaan lama—tapi ia menahannya. Ia menutup pintu di belakangnya, pelan.
Lorong itu sepi. Lampu neon di ujungnya berkedip satu kali. Kuncoro melangkah tiga jejak, lalu berhenti, pura-pura mencari sesuatu di dalam map. Kakinya sendiri yang menahannya di situ; ia tidak tahu apa yang ia tunggu.
Dari balik pintu yang baru saja ia tutup, terdengar denting gagang telepon diangkat. Bukan telepon meja dinas—nada putarnya lain, lebih cepat, ponsel. Suara Darsana menembus daun pintu murahan itu, teredam, tapi cukup jelas bagi telinga yang sengaja dipasang.
"...sudah saya sampaikan. Iya. Dia belum mau tanda tangan." Jeda. Kursi berderit. "Bukan, bukan begitu. Orangnya keras, tapi tidak bodoh. Kalau ditekan terlalu keras dia malah curiga." Jeda lagi, lebih panjang. "Saya kasih dia sampai minggu ini. Kalau tetap membandel—ya, saya urus. Bapak tenang saja. Tidak akan sampai ke sana. Nama itu tidak akan disebut-sebut."
Kuncoro merasa lantai di bawah sepatunya seperti bergeser satu senti. Nama itu. Nama apa? Nama siapa yang tidak boleh disebut-sebut, sampai seorang koordinator juru sita harus menjaminnya lewat telepon di pagi buta, kepada orang yang ia panggil Bapak?
"...jangan lewat saya lagi kalau ada kiriman," suara itu menurun, hampir bisik. "Ke rumahnya langsung. Biar dia yang repot menjelaskan."
Klik. Percakapan tamat.
Kuncoro menutup mapnya. Ia melangkah menjauh sebelum pintu itu terbuka, kakinya menapak cepat dan tenang di lantai teraso, wajahnya kosong seperti biasa—wajah juru sita yang telah dua puluh tahun berlatih tidak merasa apa-apa. Tapi di dalam saku dadanya, amplop teguran itu terasa berat, jauh lebih berat dari selembar kertas. Ruang geraknya baru saja dipersempit oleh sepasang tangan yang tidak sepenuhnya milik Darsana.
Ke rumahnya langsung, kata suara itu. Biar dia yang repot menjelaskan. Kuncoro belum tahu kiriman apa yang dimaksud. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia pulang ke rumahnya sendiri dengan perasaan bahwa rumah itu sedang diawasi dari suatu tempat yang tak bisa ia lihat.