Kuncoro menerima amplop cokelat itu dari tangan kenalannya di kantor pertanahan seperti menerima sesuatu yang lebih berat dari kertas. Namanya Slamet, seorang juru ukur yang sudah tiga puluh tahun bekerja di sana dan tak pernah bertanya untuk apa data itu dibutuhkan—dan justru karena itu Kuncoro mempercayainya.
"Ini salinan resmi," kata Slamet pelan, menutup pintu ruang arsip lebih rapat. "Tapi jangan bilang dari saya."
Di meja kos yang sempit, di bawah lampu belajar Sulastri, mereka membentangkan kertas itu berdampingan dengan berkas Sumirah yang selama ini mereka simpan. Akta jual-beli nomor 114/RW/tercatat atas nama notaris Ratna Wulandari, tertanggal delapan bulan sebelum relaas panggilan pertama dikirim ke rumah Sumirah. Delapan bulan sebelum gugatan koperasi Sinar Mekar bahkan didaftarkan ke pengadilan.
Sulastri membaca tanggal itu dua kali, seolah angka bisa berubah kalau ditatap cukup lama.
"Pak Kuncoro," katanya, suaranya turun jadi bisikan, "ini artinya tanahnya sudah dijual ke Graha Cakrawala sebelum kasusnya bahkan disidangkan."
"Sebelum digugat," Kuncoro membetulkan, dan mendengar suaranya sendiri seperti suara orang lain. "Sebelum ada kredit macet yang katanya jadi alasan. Sebelum semuanya."
Ia menaruh telunjuk di kolom tanda tangan penjual—bukan Sumirah, melainkan kuasa yang diberi wewenang oleh "putusan pengadilan yang akan datang", frasa yang tidak masuk akal secara hukum tapi tertulis rapi di sana, seolah masa depan sudah dipesan lebih dulu seperti meja restoran. Ia sudah dua puluh tahun menyita rumah orang berdasarkan kertas yang katanya sah. Untuk pertama kalinya ia melihat kertas yang dibuat sebelum alasan penyitaannya sendiri ada.
"Ini bukan perampasan yang terjadi karena putusan," katanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Putusannya yang dibuat supaya cocok dengan perampasan."
Sulastri tidak menjawab. Ia hanya menatap map cokelat itu lama, seperti sedang menghitung berapa banyak lagi rumah yang mungkin bernasib sama, di berkas-berkas yang sudah lama ia stempel tanpa bertanya.
Mereka sampai di Jalan Pasar Lama menjelang sore, bukan untuk urusan resmi—Kuncoro beralasan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin mengecek kondisi berkas fisik di lapangan, meski ia tahu itu bohong yang lebih besar dari bohong-bohong kecil yang sudah ia biasakan sejak bertemu Darsana. Dari kejauhan ia melihat Bagas berdiri di atas bangku plastik, merentangkan kain putih di atas pintu bengkel, tinta hitam masih basah: TANAH INI BELUM SAH DIJUAL. JANGAN DIRAMPAS SEBELUM DIADILI.
Dua sepeda motor berhenti di seberang jalan sebelum Kuncoro sempat memanggil nama Bagas. Tiga orang turun, salah satunya bertubuh besar dengan tato di lengan yang tidak berusaha ditutupi. Mereka tidak berlari, hanya berjalan santai menyeberang jalan seolah punya hak yang lebih tua daripada siapa pun di sana.
"Turun," kata yang bertubuh besar itu, menunjuk Bagas yang masih di atas bangku. "Spanduk kayak gini bikin susah orang cari kerja, Dik."
"Ini bengkel saya," jawab Bagas, suaranya bergetar tapi tak surut. "Ibu saya yang punya."
"Punya," ulang orang itu, seperti kata itu lucu untuk diucapkan. Ia menarik ujung kain, dan bangku plastik di bawah Bagas terguncang. Bagas melompat turun sebelum jatuh, dan dalam sepersekian detik tangan orang itu sudah terangkat—bukan untuk menahan, tapi mengayun ke arah pipi Bagas, cepat dan penuh perhitungan, seperti sudah biasa melakukannya.
"Hentikan!"
Kuncoro tidak sadar ia sudah berlari sampai suaranya sendiri menggema di gang sempit itu. Tangan yang terayun berhenti sejengkal dari wajah Bagas, gemetar menahan momentumnya sendiri. Ketiga orang itu menoleh, menilai Kuncoro dari ujung sepatu sampai map cokelat yang masih ia bawa seperti kebiasaan yang tak bisa dilepas.
"Juru sita," kata yang bertubuh besar itu, mengenali seragam meski Kuncoro tak memakainya hari itu. "Bukan urusan Bapak ini."
"Ini rumah dalam pengawasan pengadilan," kata Kuncoro, mencoba membuat suaranya tetap datar meski dadanya berdegup keras. "Kalau ada kekerasan di sini, saya yang harus laporkan."
Orang itu tersenyum tipis, seperti mendengar lelucon yang sopan. Ia menurunkan tangannya sendiri, bukan karena takut, melainkan karena memilih untuk tidak repot hari itu.
"Kami cuma numpang lewat," katanya, lalu berbalik ke motor. Sebelum naik, ia menoleh sekali lagi ke arah Kuncoro. "Bapak juga, kalau saya boleh saran—jangan kelamaan mampir ke sini. Nggak baik buat kesehatan."
Mereka pergi dengan suara knalpot yang sengaja dikeraskan, meninggalkan jalan yang tiba-tiba terasa lebih sepi dari biasanya. Bagas berdiri kaku, tangannya masih memegang ujung spanduk yang setengah sobek, napasnya memburu antara marah dan takut yang berusaha ia sembunyikan.
"Bapak lihat sendiri," kata Bagas akhirnya, suaranya pecah di ujung kalimat. "Mereka sudah berani datang ke sini, siang bolong, cuma karena saya pasang kain."
Kuncoro tidak menjawab dulu. Ia memungut bangku plastik yang terguling, menegakkannya kembali seolah itu bisa menegakkan sesuatu yang lain. Dari dalam rumah, Sumirah muncul di ambang pintu dengan wajah pucat, tangan mencengkeram kusen seolah kusen itu satu-satunya yang masih miliknya.
"Sudah berapa lama," Sumirah bertanya pelan, "rumah saya bukan rumah saya lagi?"
Tidak ada yang bisa menjawab dengan angka yang pasti, meski Kuncoro menyimpan angka itu di dalam map cokelat di tangannya: delapan bulan. Delapan bulan sebelum siapa pun di rumah itu tahu bahwa mereka sedang mempertahankan sesuatu yang, di atas kertas, sudah bukan milik mereka.
Ia melipat spanduk yang setengah sobek itu dan menyerahkannya kembali ke tangan Bagas.
"Pasang lagi," katanya. "Kali ini saya yang jaga."
Bagas menatapnya lama, mencoba menakar apakah kalimat itu janji atau sekadar kata-kata yang akan lenyap begitu Kuncoro berjalan pergi. Kuncoro sendiri tidak yakin bisa menjawab pertanyaan itu—yang ia tahu hanya bahwa untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia berdiri di sisi yang berlawanan dari arah biasa ia menghadap sebuah rumah yang hendak disita.