Kantor pertanahan itu selalu berbau sama sejak dua puluh tahun lalu: kertas yang terlalu lama disimpan, tinta stempel, dan kopi yang mengendap di dasar gelas. Kuncoro menyusuri koridornya pada pukul sembilan pagi, ketika loket-loket baru saja dibuka dan antrean pemohon sertifikat mulai memanjang di bangku besi. Ia sengaja datang tanpa map cokelat, tanpa apa pun yang menandainya sebagai juru sita. Hanya map plastik bening berisi fotokopi, dijepit di ketiak seperti orang yang hendak mengurus balik nama warisan.
Purwadi menunggunya di ruang belakang, di antara rak-rak buku tanah yang punggungnya sudah menguning. Mereka seangkatan dulu, sama-sama pegawai muda yang percaya bahwa arsip adalah tempat kebenaran disimpan agar tak bisa diubah. Rambut Purwadi kini tinggal seperempat, dan kacamatanya melorot setiap kali ia menunduk.
"Tumben," kata Purwadi, menuang teh dari termos ke dua gelas plastik. "Juru sita datang ke sini biasanya cuma minta blokir. Ini kamu minta silsilah."
"Aku cuma mau tahu riwayat satu bidang." Kuncoro menaruh fotokopi sertifikat Sumirah di meja, membalikkannya agar terbaca dari sisi Purwadi. "Jalan Pasar Lama. Atas nama Sumirah. Aku mau tahu sejak kapan dia pegang, dan apa saja yang pernah menempel di situ."
Purwadi mengambil kertas itu, menatap nomor hak di sudut kanan atas, lalu mengangkat alis. "Ini yang mau dieksekusi itu, ya? Yang rame di koran kecil."
"Kamu tahu dari mana rame?"
"Orang kadaster tahu banyak, cuma diam banyak." Purwadi tersenyum tipis, tapi matanya tidak. Ia bangkit, menarik salah satu buku tanah yang tebal dari rak paling bawah, dan meletakkannya di meja dengan bunyi berat. Debu mengepul sebentar di bawah lampu neon. Jarinya menyusuri kolom demi kolom, berhenti, mundur, berhenti lagi.
Kuncoro menunggu. Ia sudah terbiasa menunggu di ruangan-ruangan seperti ini, di depan meja-meja yang memutuskan nasib orang lewat coretan pena. Tapi pagi itu ada yang berbeda di dadanya, semacam denyut yang tak mau diam, seolah ia bukan sedang memburu tetapi sedang mendekati sesuatu yang lebih baik tak ia temukan.
"Ini aneh," gumam Purwadi.
"Aneh bagaimana?"
Purwadi memutar buku itu, menunjuk sebuah baris dengan ujung pulpen. "Bidang atas nama Sumirah ini sudah tidak utuh. Sudah dipecah. Dari satu hak jadi tiga. Ada pemisahan, lalu peralihan."
Kuncoro mencondongkan tubuh. Tulisan tangan petugas lama, rapat dan miring, menyebut tanggal-tanggal yang seketika membuat mulutnya kering. "Coba baca tanggalnya."
"Pemecahan bidang, dicatat di sini." Purwadi mengetuk. "Terus peralihan hak dua bidang ke pihak lain. Yang satu masih tercatat Sumirah, dua bidang lain sudah pindah tangan."
"Pindah ke siapa?"
Purwadi menelusuri kolom nama pemegang baru, lalu diam. Ia melepas kacamatanya, mengusap lensa dengan ujung kemeja, memasangnya lagi seakan tak percaya pada matanya sendiri. "PT yang sama untuk keduanya. Lewat pembeli perantara dulu, baru masuk ke perusahaan. Graha Cakrawala."
Nama itu jatuh di antara mereka seperti batu ke sumur tua. Kuncoro tidak berkedip. Ia sudah menduganya sejak semalam, sejak garis-garis di kamar kos Sulastri mulai bertemu di satu titik, tetapi menduga dan melihat namanya tercetak di buku tanah negara adalah dua hal yang berbeda. Yang satu masih bisa disangkal. Yang ini tidak.
"Purwadi." Suaranya sendiri terdengar asing baginya. "Tanggal peralihannya. Bandingkan dengan ini." Ia mengeluarkan fotokopi salinan putusan dari map plastik, menaruhnya bersisian dengan buku tanah. Jarinya sedikit gemetar, dan ia benci dirinya karena itu. "Putusan pengadilan negerinya turun tanggal berapa."
Purwadi memiringkan kepala, membaca bolak-balik. Bibirnya bergerak tanpa suara, menghitung. Lalu ia berhenti, dan wajahnya yang tadi ramah kini kehilangan warna.
"Kun," katanya pelan. "Tanahnya sudah dipecah dan dua bidang sudah pindah... sebelum putusanmu ini turun. Selisihnya berbulan-bulan. Peralihannya duluan. Putusannya belakangan."
Ruangan itu terasa menyempit. Di luar, seseorang memanggil nomor antrean lewat pengeras suara, suara datar seorang perempuan yang mengulang angka seperti doa yang sudah kehilangan makna. Kuncoro mendengarnya dari jauh, seperti dari balik air.
"Berarti," ujarnya, menata setiap kata agar tak terpeleset, "waktu aku disuruh mengantar berita acara ke rumah itu, tanahnya sebenarnya sudah bukan milik Sumirah lagi."
"Di atas kertas, sudah lama pindah." Purwadi menutup buku tanah itu perlahan, seolah menutup buku itu bisa menutup pula apa yang sudah terbaca. "Putusan itu cuma... melegalkan yang sudah dikerjakan diam-diam. Bukan yang memerintahkan. Yang memerintahkan sudah jalan duluan."
Kuncoro bersandar di kursi. Ia teringat Sumirah menunjukkan buku tabungan dengan tangan yang bercak-bercak usia, cicilan yang tak pernah menunggak, angka-angka yang rapi ditulis pegawai bank. Ia teringat Bagas yang mengelap tangki motor pelanggan terakhir dengan lap kotor, tak tahu bahwa tanah tempat ia berdiri sudah dijual di atas kertas jauh sebelum ada yang mengetuk pintunya. Seluruh perkara ini bukan sedang menuju sebuah kesimpulan. Ia sudah selesai sejak awal. Yang tersisa hanya pertunjukan hukum untuk merapikan bekas-bekasnya, dan Kuncoro-lah pemeran yang membawa pita merah-putih.
"Aku butuh salinan riwayat ini," katanya akhirnya.
Purwadi menggeleng cepat, matanya melirik ke pintu. "Tidak bisa lewat loket. Kalau kamu minta resmi, permohonanmu tercatat, dan besok pagi ada yang tahu kamu ke sini." Ia menurunkan suara hampir jadi bisik. "Perusahaan ini kuat, Kun. Orangnya ada di mana-mana. Ada yang pernah minta blokir dicabut, ada yang minta warkah dipinjam dan tak dikembalikan. Aku diam saja selama ini karena aku punya anak yang masih sekolah."
"Aku tidak minta kamu ikut turun." Kuncoro menatapnya lurus. "Aku cuma minta aku boleh membaca lagi kapan-kapan. Dan kalau bisa, satu foto. Dari tanganku sendiri."
Purwadi lama tidak menjawab. Ia memandangi kawan lamanya, orang yang dulu ia kenal sebagai juru sita paling bersih di pengadilan, yang tak pernah menerima apa pun dari siapa pun, dan yang kini duduk di depannya dengan wajah orang yang baru menyadari dua puluh tahun hidupnya dipakai untuk pekerjaan yang salah.
"Cepat," katanya akhirnya, mendorong buku itu kembali ke bawah lampu. "Sebelum petugas depan selesai istirahat. Dan setelah ini, Kun—" ia menahan pergelangan tangan Kuncoro sebentar, "—jangan datang lagi ke sini. Untuk kebaikanmu."
Kuncoro mengangkat ponselnya. Jari-jarinya, yang selama dua puluh tahun terbiasa membubuhkan tanda tangan tanpa merasa apa-apa, kini gemetar di atas layar. Ia memotret baris demi baris riwayat itu, dan setiap kali rana berbunyi, ia merasa jam di dalam dirinya mulai berdetak lebih keras — bukan menghitung mundur menuju eksekusi, melainkan menuju perhitungan yang jauh lebih lama ia tunda.