Ruang kepaniteraan perdata berbau kertas lembab dan tinta stempel yang mengering terlalu cepat. Kuncoro duduk di sudut, di antara tumpukan buku register yang jarang disentuh siapa pun kecuali petugas yang mengisi kolom nomor perkara setiap pagi. Ia datang dengan alasan yang sudah disiapkannya sejak semalam: memeriksa ulang jadwal sidang untuk tiga berkas yang masih menunggu eksekusi, bukan yang lain.
Ia membuka buku register satu per satu, jarinya menelusuri kolom nama majelis. Pola itu muncul lebih cepat dari yang ia duga, dan justru karena itu ia merasa perlu memperlambat diri, membaca ulang, memastikan matanya tidak sedang mencari apa yang ingin ia temukan.
Empat perkara koperasi Sinar Mekar, semuanya diputus oleh majelis yang diketuai Hakim Prasetyo. Dua perkara yang melibatkan notaris berinisial R.W., juga Prasetyo. Perkara Sumirah, yang map cokelatnya masih tergeletak di mejanya sendiri dengan tanda tangan yang belum ia bubuhkan penuh, diputus verstek oleh majelis yang sama.
Ia menutup buku itu pelan-pelan, seolah suara yang lebih keras bisa membangunkan sesuatu yang sedang tidur di gedung ini.
"Bapak cari apa?" Petugas arsip, seorang perempuan setengah baya bernama Yanti, mendekat sambil membawa map baru untuk disusun. "Kalau soal jadwal sidang minggu depan, sudah ditempel di papan."
"Bukan," kata Kuncoro. "Cuma mau tahu, majelis Pak Prasetyo memang sesibuk ini?"
Yanti tertawa kecil, tanpa curiga. "Sibuk gimana ya. Perkara perdata yang cepat-cepat memang biasanya lewat beliau. Katanya sih efisien. Nggak suka berlama-lama." Ia meletakkan map, lalu pergi lagi tanpa menoleh.
Kuncoro menimbang kata itu—efisien—dan menemukan bahwa kata itu bisa berarti dua hal yang sangat jauh berbeda. Efisien karena hakim itu teliti dan tegas. Atau efisien karena ia tak pernah benar-benar membaca.
Ia menunggu sampai jam istirahat sebelum turun ke ruang sidang kosong nomor tiga, tempat majelis Prasetyo biasa bersidang. Pintunya tak terkunci. Di dalam, meja hakim masih tertata rapi, palu kayu diletakkan sejajar dengan mikrofon yang sudah usang. Ia berdiri di depan meja itu seperti orang yang berdiri di depan altar yang tak lagi ia percayai sepenuhnya, mencoba membayangkan bagaimana seseorang bisa duduk di sana, membaca berkas yang menyatakan tergugat "telah dipanggil secara patut namun tidak hadir", lalu mengetuk palu tanpa bertanya kenapa relaas panggilan itu tak pernah benar-benar sampai.
Dua kemungkinan berputar di kepalanya, dan keduanya sama-sama masuk akal. Yang pertama: Prasetyo tahu, dan diam-diam menerima bagian dari apa yang mengalir dari koperasi Sinar Mekar ke notaris Ratna Wulandari ke entah siapa lagi di ujung rantai itu. Yang kedua: Prasetyo hanya seorang hakim yang kelelahan oleh jumlah perkara, yang mempercayai stempel dan tanda tangan panitera tanpa memeriksa lebih jauh, yang menandatangani putusan sebagaimana ia—Kuncoro sendiri—dulu menyita rumah orang tanpa benar-benar melihat siapa yang tinggal di dalamnya.
Ia tidak menyukai kemungkinan kedua, sebab kemungkinan itu terlalu mirip dengan dirinya sendiri.
Sulastri menemuinya sore itu di kantin pengadilan yang sudah sepi, membawa dua gelas kopi yang tak diminta siapa pun. "Saya cek jadwal sidang lima tahun terakhir," katanya, suaranya ditekan rendah meski tak ada orang lain di sana. "Delapan puluh persen perkara eksekusi yang berujung sengketa tanah, lewat majelisnya."
"Delapan puluh persen bukan bukti," kata Kuncoro. "Itu baru pola."
"Bapak selalu bilang begitu." Ada nada lelah dalam suara Sulastri, tapi bukan putus asa—lebih seperti seseorang yang belajar sabar dengan susah payah. "Tapi kalau kita tunggu bukti yang bulat sempurna, kapan kita bergerak?"
Kuncoro menatap kopinya yang tak tersentuh. "Kalau kita menuduh hakim tanpa bukti, dan ternyata dia cuma lalai, kita menghancurkan orang yang salah, sementara yang benar-benar jahat lolos karena kita sudah membuang peluru kita duluan."
Sulastri diam. Ia tahu logika itu benar, dan justru karena benar, ia membencinya sedikit.
"Saya ingin melihat berkas perkara Sumirah dari sisi majelis," kata Kuncoro akhirnya. "Bukan salinan yang kita pegang. Berkas yang diajukan ke hakim, lengkap dengan catatan tangan kalau ada. Kalau Prasetyo pernah mencoret sesuatu, bertanya sesuatu, itu tanda dia masih memeriksa. Kalau kosong bersih, tanpa satu pun paraf pinggir, itu tanda dia menandatangani apa saja yang diletakkan di depannya."
"Dan kalau memang kosong bersih?"
"Maka dia bukan pelaku utama," kata Kuncoro. "Tapi dia pintu yang dibiarkan terbuka. Dan orang yang membiarkan pintu terbuka selama bertahun-tahun, pada satu titik, juga harus menjawab kenapa dia tak pernah menutupnya."
Ia tidak mengatakan bagian yang lebih pribadi, yang mengganjal di dadanya sejak berdiri di ruang sidang kosong itu: bahwa ia sedang menyusun pembelaan untuk seseorang yang belum ia kenal, karena pembelaan itu, kalau bisa dipakai untuk Prasetyo, mungkin juga satu hari nanti harus ia pakai untuk dirinya sendiri.
Malam itu, sebelum pulang, ia meminjam—tanpa mengajukan permohonan resmi, tanpa formulir, hanya dengan senyum dan alasan yang dibuat-buat kepada Yanti yang sudah hendak menutup ruangan—salinan jadwal sidang majelis Prasetyo untuk enam bulan ke depan. Ia melipatnya kecil-kecil dan menyimpannya di balik map cokelat berkas Sumirah, di tempat yang sama ia menyembunyikan potongan-potongan pertanyaan lain yang belum berani ia ajukan kepada siapa pun.
Di rumah, Tuti bertanya kenapa ia pulang lebih larut. Kuncoro hanya menjawab bahwa berkas sedang banyak, sebuah kalimat yang, ia sadari sendiri, mulai terlalu sering keluar dari mulutnya belakangan ini, dan makin lama makin terasa seperti kebohongan kecil yang lain, menumpuk di atas kebohongan-kebohongan kecil sebelumnya, satu demi satu, seperti berkas yang menumpuk di meja seorang hakim yang tak pernah sempat—atau tak pernah mau—membacanya sampai habis.