Ruang kerja Kuncoro sore itu penuh kertas yang tak seharusnya berserakan begitu. Sulastri sudah menutup pintu dan menurunkan gorden separuh, seolah cahaya matahari yang masuk bisa membocorkan apa yang mereka kerjakan. Di atas meja, sepuluh map perkara lelang tergeletak berjajar, masing-masing dengan label nomor yang berbeda tapi pola yang sama: putusan verstek, tergugat tak pernah hadir di persidangan manapun.
"Coba Bapak lihat tanggalnya," kata Sulastri, menyorongkan salinan relaas panggilan yang ia fotokopi dari map ketujuh. "Perkara Sumirah, relaas tanggal dua puluh tiga. Yang ini, perkara atas nama Wagiyem, relaas tanggal dua puluh tiga juga. Yang ini punya Haji Rustam, dua puluh tiga."
Kuncoro mengambil kertas itu, menaruhnya berdampingan dengan yang lain di atas meja. Tanggalnya memang sama. Ia membaca nama juru sita yang menandatangani kolom pelaksanaan: Slamet Riyanto. Nama itu ia kenal—rekan sejawat yang duduk dua meja dari mejanya sendiri, yang selama ini lebih banyak diam dan pulang lebih awal dari yang lain.
"Satu orang, satu hari, tiga alamat berbeda kota," kata Kuncoro pelan. "Jalan Pasar Lama, Kebon Jeruk, dan Karet. Jaraknya bukan main."
"Mungkin saja dikerjakan bertahap."
"Bertahap butuh waktu. Relaas ini menyebut jam pelaksanaan pukul sembilan pagi untuk ketiganya." Ia menunjuk kolom waktu dengan ujung pena, tanpa menyentuhnya, seakan takut tinta itu akan luntur kalau disentuh terlalu keras. "Tidak ada manusia yang bisa mengetuk tiga pintu di tiga kecamatan pada jam yang sama."
Sulastri diam sebentar, lalu membuka map kedelapan dan kesembilan, menyusun tanggal-tanggal itu di selembar kertas kosong seperti tabel. Kuncoro membiarkannya bekerja, sementara ia sendiri menimbang berkas Sumirah lagi. Relaas itu menyatakan bahwa juru sita telah datang ke rumah tergugat, bertemu dengan yang bersangkutan, dan menyampaikan panggilan sidang secara langsung. Padahal pada tanggal itu Sumirah terbaring di ruang rawat inap kelas tiga, dengan selang infus di punggung tangannya—hal yang sudah dikonfirmasi Kuncoro sendiri dari rekam medis yang diperlihatkan Bagas minggu lalu.
"Kalau relaasnya fiktif," kata Sulastri akhirnya, mendongak, "berarti sidangnya juga fiktif. Tergugat dianggap dipanggil sah, tidak datang, majelis jatuhkan verstek. Padahal dari awal memang tidak ada yang mengantar panggilan itu."
"Bukan tidak ada yang mengantar." Kuncoro meletakkan berkas di tangannya. "Ada yang menandatangani seolah sudah mengantar."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, memandang halaman pengadilan yang mulai sepi menjelang magrib. Dua puluh tahun ia bekerja dengan anggapan bahwa relaas adalah hal paling membosankan dalam pekerjaannya—selembar formalitas yang harus diisi sebelum sampai pada bagian yang lebih berat, yaitu mengetuk pintu dan menyita barang. Ia tak pernah membayangkan bahwa selembar formalitas itu bisa jadi pintu masuk untuk merampas seseorang tanpa pernah memberinya kesempatan membela diri.
"Kalau tergugat tidak pernah tahu ada gugatan," ujarnya, masih menghadap jendela, "dia tidak akan pernah datang ke sidang. Dan begitu dia tidak datang, hakim tinggal menjatuhkan putusan sesuai permintaan penggugat. Tidak ada bantahan, tidak ada perlawanan. Bersih."
"Bersih di atas kertas," kata Sulastri. "Kotor di baliknya."
Kuncoro berbalik. Ia menatap map-map itu satu per satu, lalu menghitung dengan jarinya di udara—sepuluh perkara, sepuluh tanggal yang saling tumpang tindih, satu nama juru sita yang berulang di hampir separuhnya. Ia mengambil map kesepuluh, memeriksa kolom tanda tangan, dan menemukan sesuatu yang lebih mengganggu daripada tanggal yang bentrok: kolom nama tergugat yang menerima relaas dikosongkan, hanya bertuliskan "ybs" dengan paraf di sampingnya, tanpa nama jelas.
"Slamet menandatangani blangko kosong," katanya lirih, seperti baru menyadari sesuatu yang sudah lama ia curigai tapi enggan diucapkan. "Formulir relaas ditandatangani duluan, isinya menyusul belakangan, disesuaikan dengan perkara mana yang perlu dibereskan cepat."
Sulastri meletakkan pena yang sejak tadi dipegangnya. "Itu bukan kelalaian, Pak. Itu prosedur."
"Prosedur siapa?"
Pertanyaan itu menggantung di ruangan yang mulai gelap, dan tak satu pun dari mereka buru-buru menjawabnya. Kuncoro tahu jawabannya belum lengkap—ia baru melihat satu simpul, bukan seluruh jaring. Tapi untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun ia memegang palu dan berita acara, ia mengerti bahwa yang ia hadapi bukan sekadar satu juru sita malas yang mengambil jalan pintas. Ada pola. Pola butuh perancang, dan perancang butuh alasan untuk bekerja serapi ini, berulang-ulang, tanpa tertangkap.
"Kita perlu tahu siapa yang memerintahkan Slamet," kata Sulastri.
"Belum." Kuncoro mengumpulkan map-map itu, menyusunnya rapi, menjaga urutannya seperti orang menjaga kartu truf. "Kalau kita tanya langsung, dia akan lapor ke atas, dan berkas ini menghilang sebelum sempat kita fotokopi semuanya. Kita catat dulu. Diam-diam."
Ia menyerahkan salinan-salinan itu kepada Sulastri untuk disimpan terpisah dari berkas resminya, di tempat yang tidak akan dicurigai siapa pun yang masuk ke ruangannya. Sulastri menerimanya dengan kedua tangan, seolah menerima sesuatu yang jauh lebih berat daripada kertas.
Di luar, lampu-lampu koridor pengadilan mulai dinyalakan satu demi satu, dan suara langkah kaki penjaga malam terdengar mendekat. Kuncoro mematikan lampu mejanya sendiri, memasukkan map-map asli ke laci yang biasa, seolah tak terjadi apa-apa sore itu. Namun di kepalanya, sepuluh tanggal yang bentrok itu terus berbaris, menunjukkan arah yang belum jelas ke mana, tapi jelas bukan ke tempat yang aman.