Hujan mengetuk kaca jendela kantor juru sita seperti seseorang yang tak sabar ingin masuk. Kuncoro Wignyo masih di mejanya pukul sembilan malam, ketika hampir semua lampu di lorong sudah padam kecuali di ruangannya dan pos satpam. Di depannya tergeletak salinan-salinan yang ia dan Sulastri kumpulkan sebulan terakhir: fotokopi relaas, daftar pemenang lelang, catatan tangan tentang Koperasi Sinar Mekar, dan potongan kertas berisi empat belas nomor perkara yang ia lingkari sendiri dengan pena merah.
Pintu didorong tanpa ketukan. Sulastri masuk dengan jas hujan masih menempel di bahu, rambutnya basah, matanya menyala seperti orang yang baru lari.
"Jagur menemui Bapak di parkiran tadi sore." Bukan pertanyaan. "Pak Slamet lihat, dia cerita ke saya."
Kuncoro tidak mendongak. "Dia cuma menyapa."
"Dia menyelipkan amplop, Pak." Sulastri melangkah mendekat, meletakkan map plastik berisi salinan yang baru ia perbanyak di atas meja, tepat menutupi lingkaran merah itu. "Itu bukan sapaan. Itu artinya mereka sudah tahu kita menggali. Kita harus lapor sekarang. Malam ini. Ke Komisi Yudisial, ke polisi, ke siapa saja yang mau dengar."
"Duduk dulu."
"Saya tidak mau duduk, Pak. Kita punya nama Ratna Wulandari, kita punya Gunawan dan koperasinya, kita punya empat belas perkara dengan pola yang sama, kita tahu semuanya bermuara ke Handoko Reksa. Apa lagi yang kita tunggu?"
Kuncoro menutup map cokelat di depannya, pelan, seakan menutup sesuatu yang hidup agar tidak lari. "Yang kita punya itu fotokopi, Sulastri. Salinan yang kita buat sendiri, diam-diam, tanpa cap, tanpa saksi, tanpa berkas induk. Kalau kita bawa ke Komisi Yudisial besok pagi, hal pertama yang mereka tanya adalah dari mana kita dapat, dan siapa yang mengizinkan. Lalu apa jawabmu?"
"Jawab saja yang sebenarnya."
"Yang sebenarnya adalah kita mencuri waktu dari jam kerja untuk menyalin dokumen yang bukan wewenang kita pegang." Suaranya tidak keras, tapi tiap kata jatuh seperti palu kecil. "Itu yang akan mereka dengar. Bukan sindikatnya. Kecerobohan kita."
Sulastri menarik kursi, duduk juga, tapi tubuhnya masih condong ke depan, siap berdiri lagi kapan saja. "Kalau begitu kita cari cara supaya sah. Tapi jangan diam saja, Pak. Setiap hari kita diam, ada rumah lain yang disita seperti rumah Bu Sumirah."
"Aku tidak bilang diam." Kuncoro membuka laci, mengambil buku catatan lusuh yang sudah ia simpan sejak dua puluh tahun lalu, lalu meletakkannya di antara mereka tanpa membukanya. "Tapi kau pikir siapa yang menandatangani surat tugas eksekusi selama ini? Siapa yang menegur aku minggu lalu karena 'menunda' berkas Bu Sumirah?"
"Pak Darsana."
"Dan siapa atasan Pak Darsana?"
Sulastri diam.
"Aku belum tahu sampai lantai berapa ini menembus," kata Kuncoro. "Bisa jadi cuma sampai panitera. Bisa jadi sampai meja hakim yang menandatangani putusan-putusan itu. Kita bahkan belum tahu apakah hakimnya terlibat atau cuma lalai. Kalau kita salah lapor ke orang yang salah, laporan itu tidak hilang begitu saja, Sulastri — laporan itu akan sampai ke tangan orang yang justru sedang kita laporkan. Dan besoknya, bukan cuma kita yang dimutasi. Bu Sumirah yang masih di rumah sakit, Bagas yang masih di bengkel, mereka yang akan kena duluan, karena mereka tidak punya map cokelat untuk melindungi diri seperti kita."
Kilat menyambar jauh, disusul gemuruh yang datang telat. Sulastri menatap tangannya sendiri di atas map plastik.
"Jadi kita tunggu sampai kapan? Sampai berkas raib semua? Sampai Jagur datang lagi bawa lebih dari sekadar amplop?"
"Sampai kita punya sesuatu yang tidak bisa mereka bantah dengan bilang itu cuma fotokopi." Kuncoro menatapnya lurus, untuk pertama kalinya sejak Sulastri masuk. "Berkas induk. Saksi yang berani bicara di depan orang, bukan cuma di kantor sepi begini. Sesuatu yang kalau kita bawa, orang yang menerimanya tidak bisa lagi pura-pura tidak dengar."
"Itu bisa makan waktu berbulan-bulan, Pak."
"Mungkin. Atau bisa lebih cepat, kalau kita bergerak dengan kepala dingin, bukan dengan amarah yang bagus tapi gegabah." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, lebih pelan, "Aku dua puluh tahun mengetuk pintu orang, Sulastri. Aku tahu rasanya jadi orang yang datang membawa kabar buruk atas nama negara. Aku juga tahu betapa gampangnya negara itu sendiri berbalik makan orang yang melapor kalau laporannya belum kuat."
Sulastri menunduk, menekan pelipisnya dengan jari, seperti menahan sesuatu yang ingin ia lempar keluar. "Saya cuma takut, Pak. Takut kita terlalu hati-hati sampai lupa kenapa kita mulai semua ini."
"Aku tidak lupa." Kuncoro membuka kembali map cokelat, menunjukkan lingkaran merah di antara nomor-nomor perkara. "Justru karena aku tidak lupa, aku tidak mau semua ini berakhir cuma jadi berita satu kolom yang lewat begitu saja, lalu semua kembali seperti sebelumnya, dan orang-orang di baliknya tetap duduk di kursi mereka sambil menertawakan kita."
Hujan makin deras di luar. Untuk beberapa saat mereka hanya duduk berhadapan, map plastik dan map cokelat berdampingan di meja seperti dua argumen yang belum sepenuhnya berdamai.
"Baik," kata Sulastri akhirnya, meski rahangnya masih keras. "Saya ikut aturan Bapak. Untuk sekarang." Ia berdiri, menyampirkan jas hujannya lagi. Di ambang pintu ia berhenti, tanpa menoleh. "Tapi jangan sampai kehati-hatian itu jadi alasan untuk diam selamanya, Pak. Karena kalau begitu, kita tidak beda dengan mereka yang memilih diam supaya aman."
Ia keluar, meninggalkan jejak air di lantai ubin. Kuncoro duduk lama menatap pintu yang masih berayun pelan, lalu menatap buku catatan lusuhnya sendiri, dan untuk pertama kalinya ia tidak yakin apakah kehati-hatian yang ia bela malam itu benar-benar demi keselamatan mereka semua, atau demi sesuatu di dalam dirinya yang sudah terlalu lama terbiasa menahan diri.