Kuncoro keluar dari gedung pengadilan ketika langit sudah berwarna tembaga, jam kerja lewat empat puluh menit tapi ia masih di mejanya, membolak-balik salinan akta yang menyebut nama PT Graha Cakrawala tujuh kali dalam satu bundel. Ia menyimpannya di dalam map cokelat, mengikatnya dengan karet gelang rangkap dua, kebiasaan baru yang belum ia sadari sudah jadi kebiasaan.
Parkiran belakang gedung sudah separuh kosong. Motor dinasnya berdiri sendirian di ujung, dekat pagar besi yang catnya mengelupas, di bawah lampu natrium yang berdengung pelan seperti serangga yang tak pernah lelah. Ia sedang mencari kunci di saku ketika suara itu datang dari arah yang tak terduga, dari balik mobil boks yang terparkir miring.
"Pak Kuncoro."
Jagur berjalan keluar dari bayangan mobil itu dengan gaya orang yang tidak sedang terburu-buru, tangan di saku celana, kemeja safari dua kancing atas terbuka. Wajahnya yang biasa Kuncoro lihat memberi instruksi ke barisan preman lapangan saat eksekusi kini melembut, nyaris ramah, seperti orang menyapa kawan lama di pasar.
"Jagur." Kuncoro tak berhenti melangkah, hanya memperlambat sedikit. "Ada apa malam-malam begini di sini?"
"Kebetulan saja. Habis urus izin keramaian buat acara di kelurahan sebelah." Jagur menunjuk asal-asalan ke arah yang tak jelas. "Lihat motor Bapak masih di sini, ya sekalian mampir."
Kuncoro tahu itu bohong, tapi ia sudah dua puluh tahun belajar tidak menunjukkan apa yang ia tahu di wajahnya. Ia meletakkan map cokelat di jok motor, menutupinya dengan jaket, gerakan yang ia lakukan tanpa berpikir tapi yang membuat mata Jagur sekilas turun ke arah map itu sebelum naik lagi ke wajahnya.
"Saya dengar-dengar," Jagur melanjutkan, berdiri agak dekat, "Bapak ini legendanya juru sita di sini. Dua puluh tahun, ya? Berapa ratus eksekusi sudah Bapak pegang, saya sampai lupa hitung."
"Bukan urusan yang perlu dihitung."
"Justru itu yang saya salut." Jagur tertawa pendek, menepuk lengan Kuncoro sekali, ringan, seperti gestur kawan seprofesi. "Orang lain kerja begini, lima tahun sudah mengeluh capek, minta pindah bagian. Bapak jalan terus. Bersih pula. Nggak neko-neko. Itu langka, Pak, di zaman sekarang."
Kuncoro diam. Pujian itu terasa seperti tangan yang mengukur ukuran bajunya sebelum menjahitkannya jadi sesuatu yang lain.
"Makanya," Jagur merogoh saku dalam jaketnya, gerakan yang begitu wajar hingga terlihat seperti hendak mengambil rokok, "orang-orang di atas juga hormat sama Bapak. Ada titipan sedikit. Uang lelah. Bukan apa-apa, cuma tanda terima kasih karena selama ini Bapak bantu banyak perkara lancar."
Amplop cokelat itu—Kuncoro memperhatikan warnanya nyaris sama dengan map berkasnya sendiri, seolah dunia sedang menertawakannya—terulur di antara dua jari Jagur, tidak dipaksakan, hanya diletakkan mengambang di udara seperti tawaran yang bisa diambil atau tidak, tergantung siapa yang lebih sopan menolak.
"Titipan dari siapa?"
"Ah, itu nggak penting, Pak. Anggap saja dari kawan-kawan yang senang lihat pekerjaan Bapak."
"Kalau begitu," Kuncoro berkata, suaranya tetap datar, "sampaikan ke kawan-kawan itu, terima kasih, tapi saya nggak biasa menerima yang begini. Gaji dari pengadilan sudah cukup buat saya pulang tenang."
Ia mengucapkannya sehalus mungkin, nada yang sama yang biasa ia pakai untuk memberi tahu tergugat bahwa waktu perlawanan sudah habis—tidak ada gunanya berteriak, tapi juga tidak perlu bermusuhan. Jagur menahan amplop itu sesaat lebih lama dari yang dibutuhkan, seolah menunggu Kuncoro berubah pikiran, lalu menariknya kembali dengan senyum yang tidak pudar sama sekali.
"Ya sudah, kalau Bapak nggak enak," katanya, memasukkan amplop itu kembali ke saku dengan gerakan yang terlalu tenang untuk orang yang baru saja ditolak. "Saya cuma mau bilang, kerja Bapak itu berat, ya. Sita sana sita sini. Ketemu macam-macam orang. Kadang ada yang salah paham, kirim surat sana sini, macam-macam. Bapak tahu sendiri, kan, kerjaan begini rawan gesekan."
"Saya tahu risikonya sejak masuk kerja ini."
"Bagus kalau begitu. Cuma," Jagur menurunkan suaranya, meski di parkiran yang sudah nyaris kosong itu tak ada yang perlu didengarkan pelan-pelan, "saya dengar Bapak akhir-akhir ini rajin turun ke arsip. Rajin juga ke Pasar Lama, padahal berkas di sana kan sudah biasa Bapak tangani puluhan kali. Orang jadi penasaran, kenapa yang ini beda."
Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke permukaan air tenang—tidak keras, tapi cukup untuk membuat riak yang tak bisa ditarik kembali. Kuncoro merasakan sesuatu di dadanya mengeras, tapi ia menahan wajahnya tetap sama seperti sebelum kalimat itu diucapkan.
"Saya cuma menjalankan tugas sesuai prosedur. Kalau ada yang penasaran, suruh tanya langsung ke saya, bukan lewat titipan amplop."
Jagur tertawa, kali ini lebih lepas, seperti mendengar lelucon yang bagus. "Bapak ini keras juga, ya, ternyata. Baik, baik. Saya cuma menyampaikan. Hati-hati saja di jalan, Pak. Sekarang banyak yang jail, motor ditinggal sebentar bisa raib bannya."
Ia melangkah mundur dua tapak, mengangguk sopan, lalu berjalan ke arah gerbang parkiran dengan langkah yang sama santainya seperti saat datang, seolah percakapan barusan tak lebih dari basa-basi antarkolega. Kuncoro berdiri mematung sebentar, mendengar suara sepatu Jagur menjauh, sebelum akhirnya menaikkan jaket yang menutupi map cokelat itu lebih rapat lagi.
Ia menyalakan motor. Tangannya sedikit gemetar saat memutar kunci kontak, bukan karena dingin malam yang baru turun, melainkan karena kalimat terakhir Jagur masih berputar di kepalanya—hati-hati di jalan, banyak yang jail, ban bisa raib. Kata-kata biasa yang dibungkus jadi ancaman biasa, sehalus amplop yang tadi hampir menyentuh telapak tangannya.
Ia melirik kaca spion sebelum keluar dari parkiran, memastikan tak ada yang mengikuti, sebuah kebiasaan yang belum pernah ia lakukan sepanjang dua puluh tahun bekerja di tempat itu. Untuk pertama kalinya sejak ia memegang palu sita, Kuncoro merasa dirinya sendiri sedang diawasi seperti tergugat yang tak lagi bisa dipercaya diamnya.