Hujan turun rintik ketika Kuncoro memarkir motornya di gang sempit dekat kos Sulastri, tempat yang selama ini hanya ia lewati kalau mengantar surat panggilan. Malam itu ia datang bukan sebagai juru sita, melainkan sebagai orang yang tak lagi bisa tidur tanpa tahu jawabannya. Di tas kulitnya tersimpan map cokelat berisi salinan lelang empat belas eksekusi terakhirnya, yang selama dua puluh tahun ia anggap sekadar formalitas administrasi, kini terasa seberat batu di pangkuan.
Sulastri membuka pintu dengan rambut basah bekas keramas, terkejut melihat atasannya berdiri di depan kamar kos yang sempit, berbau minyak kayu putih dan kertas lembap. "Pak Kuncoro—jam segini?"
"Aku bawa sesuatu," katanya, tanpa basa-basi, dan langsung menggelar map di atas meja plastik yang penuh buku-buku hukum acara perdata. "Semua daftar pemenang lelang. Empat belas berkas."
Sulastri menyingkirkan gelas kopi yang sudah dingin, memberi ruang. Ia duduk bersila di lantai, memungut kertas satu demi satu, matanya cepat menyisir nama-nama itu seperti mencari sesuatu yang sudah lama ia curigai akan muncul.
"PT Sinar Abadi Makmur," gumamnya, "PT Cipta Lestari Tanah, CV Graha Nusa Permai—" ia berhenti, menatap Kuncoro. "Nama-namanya beda-beda, Pak. Tapi kenapa saya merasa seperti baca yang sama, cuma diganti bajunya?"
"Karena memang begitu," jawab Kuncoro. Ia mengeluarkan lembar lain, salinan akta pendirian yang ia pinjam diam-diam dari kenalan lama di kantor notaris—bukan Ratna Wulandari, melainkan rekan sejawatnya yang masih menyimpan arsip pembanding. "Coba lihat alamat kantornya."
Sulastri membandingkan satu per satu, jarinya berhenti di kolom alamat. "Sama. Ruko yang sama. Jalan Diponegoro nomor sembilan."
"Sembilan belas perusahaan berbeda, satu alamat," kata Kuncoro pelan, seolah mengucapkannya keras-keras justru membuatnya lebih nyata. "Dan semuanya didirikan oleh notaris yang sama."
"Ratna Wulandari."
Kuncoro mengangguk. Ia menaruh cangkir kopi yang ditawarkan Sulastri tanpa meminumnya, tangannya lebih sibuk menyusun kertas menjadi barisan, seperti dulu ia menyusun berita acara: rapi, berurutan, tak boleh ada yang terlewat sebab satu kesalahan urutan bisa membatalkan seluruh proses. Tapi kali ini yang ia susun bukan proses hukum, melainkan jejak kejahatan.
"Tiap kali ada eksekusi, perusahaan yang menang lelang berbeda nama," ia melanjutkan, "supaya kelihatannya bukan satu pihak yang serakah mengumpulkan tanah. Tapi kalau semua pemegang sahamnya kita telusuri—"
Ia membuka lembar terakhir, daftar susunan pengurus dan pemegang saham yang ia dapat dari seorang kawan di kantor pajak, ditukar dengan janji makan siang dan sedikit basa-basi tentang masa pensiun. Di sana, di bawah kolom komisaris utama yang berulang di sembilan belas perusahaan itu, tertulis satu nama yang sama.
Sulastri membaca nama itu keras-keras, seakan perlu mendengar suaranya sendiri untuk percaya. "Handoko Reksa."
Ruangan hening sesaat. Hanya suara hujan di atap seng dan detak jam dinding murah yang agak terlambat berbunyi setiap menit.
"PT Graha Cakrawala," kata Kuncoro, menunjuk lembar induk yang menaungi semua anak perusahaan itu. "Semua bermuara ke sana. Sembilan belas nama berbeda, satu induk yang sama, satu orang yang sama di puncaknya."
Sulastri menyandarkan punggung ke dipan kayu, wajahnya pucat di bawah lampu neon yang berkedip pelan. "Saya pernah dengar nama itu. Handoko Reksa. Bukannya dia yang—" ia mengingat-ingat, "—yang iklannya dipasang di sepanjang jalan masuk kota? Perumahan Graha Asri, apartemen di dekat stasiun?"
"Dan sekarang," Kuncoro menyela, mengeluarkan satu lembar lagi—potongan koran lokal yang sudah menguning, ia simpan sejak tiga bulan lalu tanpa tahu kelak akan penting—"proyek barunya. Akses pasar baru. Jalan tembus dari terminal ke pusat kota, langsung memotong Jalan Pasar Lama."
Sulastri mengambil potongan koran itu, membaca judulnya perlahan: *PT Graha Cakrawala Garap Akses Pasar Baru, Investasi Triliunan untuk Kawasan Ekonomi Baru.* Ada foto Handoko Reksa berjas abu-abu, tersenyum di samping maket jalan yang mulus dan lebar, dikelilingi pejabat yang ikut berfoto.
"Jalan itu," kata Sulastri lirih, "harus lewat mana, Pak?"
Kuncoro tidak langsung menjawab. Ia menutup matanya sejenak, mengingat rumah-bengkel Sumirah yang berdiri di sudut Jalan Pasar Lama, tepat di persimpangan yang selama ini ia kira tak berarti apa-apa bagi siapa pun kecuali keluarga yang tinggal di sana.
"Lewat rumah Bu Sumirah," katanya akhirnya. "Dan mungkin bukan cuma rumah itu."
Sulastri terdiam, tangannya gemetar memegang kertas. "Jadi bukan soal utang koperasi yang macet. Bukan soal Sumirah nunggak cicilan."
"Bukan," Kuncoro menegaskan, suaranya datar tapi berat, seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang selama ini ia tolak untuk lihat. "Itu cuma alasan. Yang mereka mau dari awal adalah tanahnya. Dan kalau tanah itu penting buat proyek sebesar ini, berarti bukan cuma satu rumah yang jadi sasaran."
Ia memandangi tumpukan kertas di meja, sembilan belas nama perusahaan yang kini terasa seperti sembilan belas topeng dari satu wajah yang sama, dan di baliknya senyum ramah Handoko Reksa di foto koran itu—senyum orang yang tak pernah harus menyentuh sendiri map cokelat, tak pernah harus mengetuk pintu siapa pun, tak pernah harus melihat wajah orang yang kehilangan rumahnya.
Selama dua puluh tahun Kuncoro mengira dirinya hanya menjalankan putusan, angka di atas kertas, perintah dari atas. Malam itu, di kamar kos sempit berbau minyak kayu putih, ia untuk pertama kalinya melihat wajah di ujung rantai yang selama ini ia jadi mata rantai paling depannya—dan menyadari betapa jauh dari sekadar kebetulan semua yang telah ia kerjakan selama ini.
Sulastri mengumpulkan kertas-kertas itu pelan-pelan, menyusunnya kembali ke map, tangannya sudah tak lagi gemetar melainkan mengeras oleh sesuatu yang baru: tekad. "Kita harus tahu berapa banyak lagi, Pak. Berapa banyak Sumirah lain yang belum kita temukan."
Kuncoro mengangguk, menatap map cokelat itu seolah untuk pertama kalinya melihat isinya yang sesungguhnya—bukan berkas perkara, melainkan peta sebuah kejahatan yang jauh lebih besar daripada yang sanggup ia bayangkan ketika mulai bertanya-tanya soal satu tanggal relaas yang tak cocok.