Kertas-kertas itu sudah tidak lagi terasa seperti kertas biasa begitu Kuncoro menatanya berjajar di meja dapur, dua belas map cokelat lusuh yang ia keluarkan satu demi satu dari kotak sepatu, ditambah dua lagi yang ia salin ulang dari ingatan karena aslinya sudah lama musnah. Tuti sudah tidur. Rumah gelap kecuali lampu meja yang menyorot satu titik saja, dan di titik itu Kuncoro duduk membungkuk seperti orang yang sedang menghitung dosa.
Ia mulai dari yang paling lama: eksekusi rumah petak di Kebon Manggis, sepuluh tahun silam. Nomor perkara ia tulis di kertas folio kosong, lalu di bawahnya ia catat nama kreditur, nama notaris yang mengesahkan akta jaminan, dan nama pemenang lelang. Kebiasaan lama sebagai juru sita membuatnya rapi tanpa sadar—kolom-kolom itu ia buat sendiri, seperti membuat berita acara untuk dirinya sendiri.
Koperasi Sinar Mekar. Ia menulis nama itu, lalu berhenti sebentar, pena tertahan di atas kertas. Ia teringat sudah menulisnya sekali, dua map sebelumnya. Ia membolak-balik lagi, menyusuri map ketiga: benar, Koperasi Sinar Mekar lagi, sebagai kreditur yang mengajukan permohonan eksekusi.
Ia tidak buru-buru menyimpulkan apa pun. Dua puluh tahun mengurus sita membuatnya tahu, kebetulan itu biasa. Kota ini tidak besar, koperasi simpan pinjam yang aktif menggugat memang tidak banyak, wajar namanya berulang. Ia melanjutkan, membuka map keempat, kelima, keenam, menuliskan nama-nama itu satu per satu dengan tangan yang mulai terasa dingin meski malam tidak sedingin itu.
Map kelima: Koperasi Sinar Mekar lagi. Map ketujuh: Koperasi Sinar Mekar, dengan notaris yang sama pula—Ratna Wulandari, tertera di akta jaminan fidusia. Ia menajamkan matanya membaca tanda tangan Ratna di bagian bawah, memori samar mengenai perempuan itu muncul dari suatu masa yang tidak begitu ia ingat detailnya, hanya wajah ramah di ruang notaris yang pernah ia datangi untuk mengambil salinan akta.
Ia berhenti, meminum air putih yang sudah tak lagi dingin, lalu melanjutkan dengan kolom baru: pemenang lelang. Ini yang paling ia malas urus dulu—setelah palu diketuk dan berita acara ia buat, urusan pemenang lelang bukan lagi wewenangnya. Tapi salinan-salinan risalah lelang yang menyertai berkas eksekusi tetap ia simpan, karena kebiasaan lama panitera mengharuskan arsip lengkap.
Ia membuka satu per satu, mencatat nama pembeli. Sebagian nama orang perorangan, sebagian atas nama badan usaha dengan singkatan yang berbeda-beda—CV ini, PT itu—tapi ketika ia mencocokkan alamat kantor yang tertera di kop suratnya, tangannya berhenti bergerak. Alamat yang sama. Bukan sekali dua kali, tapi berulang di tujuh berkas, delapan berkas, dengan nama badan usaha berlainan namun kantor yang satu, seolah-olah satu gedung menampung banyak wajah.
Ia menghitung ulang dari awal, kali ini bukan sekadar mencatat tapi menandai dengan pensil merah setiap map yang punya paling sedikit dua dari tiga unsur yang sama: Koperasi Sinar Mekar sebagai kreditur, Ratna Wulandari sebagai notaris, dan alamat kantor pemenang lelang yang itu-itu juga. Ketika ia selesai, jarinya gemetar menghitung tanda merah di kertas folionya.
Empat belas.
Ia menghitung ulang sekali lagi, memastikan tidak keliru, sebab dua puluh tahun bekerja di dunia yang penuh angka membuatnya tak percaya pada hitungan pertama. Ia mengurutkan nomor perkara berdasarkan tahun, dari yang paling lama sampai yang paling baru, dan pola itu makin telanjang: setiap satu sampai dua tahun, ada satu eksekusi yang lewat tangannya sendiri, dengan wajah berbeda—kadang keluarga pedagang, kadang buruh pensiunan, kadang seperti Sumirah sekarang—tapi mesin di baliknya sama.
Ia meletakkan pena. Dingin yang menjalar bukan dari udara malam, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat keringat tipis merembes di tengkuknya meski kipas angin di sudut ruangan berputar pelan seperti biasa. Ia teringat semua rumah itu, semua tanda tangan yang ia bubuhkan di berita acara dengan tangan yang sama sekali tidak gemetar, karena ia sudah lama melatih dirinya untuk tidak merasa.
Empat belas pintu. Empat belas kali ia berdiri di ambang rumah orang, membacakan putusan, menempelkan pita merah-putih berstempel pengadilan, lalu pulang dengan hati yang sudah ia matikan lebih dulu sebelum berangkat. Dan selama itu ia mengira dirinya hanya menjalankan hukum, bukan menjalankan sesuatu yang jauh lebih rapi dan lebih dingin daripada hukum itu sendiri.
Ia menatap daftar itu lama, mencoba mencari celah, kemungkinan bahwa ini semata kebetulan statistik di kota kecil dengan lembaga keuangan yang terbatas. Tapi semakin ia mencari alasan untuk tidak percaya, semakin jelas pola itu menolak dibantah: bukan koperasi yang kebetulan sering menggugat, melainkan koperasi yang seperti sengaja dipasang untuk menggugat, dengan notaris yang sama mengesahkan jaminan yang sama rapinya, dan pemenang lelang yang seperti sengaja disiapkan untuk menampung apa pun yang jatuh.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menyibak gorden sedikit. Jalan di depan rumah sepi, hanya lampu jalan yang berkedip pelan karena kabelnya sudah tua. Ia bisa melihat bayangannya sendiri di kaca, seorang laki-laki berumur hampir lima puluh yang selama ini bangga karena tak pernah menerima uang haram, tak pernah membiarkan tangannya kotor—dan baru sekarang sadar bahwa kebersihan tangannya barangkali justru yang paling mereka butuhkan.
Ia kembali ke meja, menyalin ulang daftar empat belas nomor perkara itu ke kertas baru, rapi, seperti membuat berkas resmi untuk sidang yang belum tentu pernah ada. Di bagian paling bawah ia menulis satu baris kecil untuk dirinya sendiri, bukan untuk siapa pun: bukan kebetulan.
Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke map cokelat yang paling baru, lalu duduk lagi menatap kegelapan di luar jendela, memikirkan kepada siapa ia harus membawa temuan ini—dan menyadari, dengan berat yang belum pernah ia rasakan sepanjang kariernya, bahwa daftar nama di tangannya sekarang jauh lebih besar daripada satu rumah di Jalan Pasar Lama.