Kotak sepatu itu ada di rak paling atas lemari, di balik tumpukan seprai cadangan yang jarang dipakai. Kuncoro menyeretnya turun dengan hati-hati, seolah isinya bisa tumpah kalau ia terlalu tergesa. Debu menempel di tutupnya, membentuk lapisan tipis keabu-abuan yang baru terusik setelah bertahun-tahun. Ia membawanya ke meja makan, tempat lampu neon menyala paling terang di rumah itu, dan duduk seperti orang yang hendak membuka sesuatu yang tak seharusnya dibuka pada jam sepuluh malam.
Di dalamnya ada map-map kecil, masing-masing diikat karet gelang yang sudah getas, sebagian putus begitu disentuh. Ia menyusunnya berdasarkan tahun, kebiasaan lama yang tak pernah ia sadari kenapa ia pertahankan. Setiap map berisi salinan berita acara eksekusi yang pernah ia tandatangani, potongan koran bila perkaranya sempat diberitakan, kadang secarik catatan tangannya sendiri tentang alamat atau nama yang ia rasa perlu diingat. Dua puluh tahun. Ia menyimpannya bukan untuk kenangan, melainkan—begitu ia dulu meyakinkan diri—sebagai bukti bahwa tangannya bersih. Bahwa setiap pintu yang ia segel, setiap pita merah-putih yang ia rekatkan, punya dasar yang sah.
Ia membuka map paling atas. Tahun ini. Di dalamnya salinan berkas Sumirah, nomor perkara yang sudah ia hafal luar kepala sekarang, dan di sampingnya, terselip dengan sengaja, fotokopi putusan yang tanggalnya tak pernah ia cocokkan dengan rekam medis rumah sakit. Ia meletakkan keduanya berdampingan di atas taplak meja, seolah menata kartu domino, lalu diam cukup lama menatap dua angka yang tak mau berdamai.
Dari dapur terdengar suara kulkas dibuka, lalu ditutup pelan-pelan, seperti seseorang yang berusaha tidak membangunkan siapa pun padahal seisi rumah sudah terjaga.
Tuti muncul di ambang pintu dengan gelas air di tangan, rambutnya sudah tergerai lepas dari cepolan siang tadi. Ia melihat meja makan yang berubah jadi meja kerja, kotak sepatu terbuka, map-map berserak seperti bekas dikunyah.
"Jam segini," katanya, bukan pertanyaan.
"Sebentar lagi aku beres," jawab Kuncoro tanpa menoleh penuh.
Tuti tidak langsung pergi. Ia menarik kursi di seberang, duduk, meletakkan gelasnya, dan memperhatikan suaminya membuka map demi map dengan cara yang tak biasa—bukan menata rapi seperti dulu, melainkan membanding-bandingkan, mencari sesuatu yang ia sendiri belum tentu tahu bentuknya.
"Ini sudah malam ketiga," kata Tuti akhirnya. "Kamu tidur jam berapa tadi malam?"
Kuncoro meletakkan pulpen yang sejak tadi ia pegang tanpa dipakai. "Nggak lama."
"Nggak lama itu bukan jawaban."
Ia diam. Di luar kebiasaannya, ia tidak segera mengarang jawaban yang menenangkan seperti biasa ia lakukan kalau Tuti mulai bertanya soal pekerjaan. Selama dua puluh tahun ia sudah menyusun jawaban-jawaban semacam itu sampai hafal: pekerjaan biasa, cuma capek, besok juga selesai. Kali ini kalimat-kalimat itu tak mau keluar.
"Ada yang nggak beres di satu berkas," katanya pelan. "Yang di Pasar Lama."
"Rumah Bu Sumirah itu?"
Kuncoro mengangguk. Ia menunjuk fotokopi putusan, lalu salinan catatan rumah sakit yang sudah ia simpan sejak menemui Sulastri di ruang arsip. "Relaas panggilannya—surat yang bilang dia sudah dipanggil sidang dan nggak datang—tanggalnya pas dia dirawat. Nggak mungkin dia terima surat itu, apalagi datang ke sidang."
"Terus?"
"Terus aku nggak tahu itu salah orang yang buat surat, atau memang..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ada jarak antara kesalahan administratif dan sesuatu yang lebih disengaja, dan ia belum siap mengucapkan kata yang menjembatani keduanya.
Tuti menatap kotak sepatu itu, lalu map-map yang menumpuk sepanjang dua puluh tahun karier suaminya. "Buat apa kamu simpan semua ini selama ini? Aku pikir kamu sudah lupa kotak itu ada."
"Buat jaga-jaga," jawab Kuncoro. "Kalau suatu hari ada yang bilang aku tandatangan sembarangan, aku punya bukti aku kerja sesuai aturan."
"Sekarang malah kamu yang pakai buat mengecek orang lain."
Kalimat itu sederhana, tapi menohok tepat di tempat yang belum sempat Kuncoro pikirkan sendiri. Ia memandangi map-map itu lagi—bukti kerja bersih yang ia rawat bertahun-tahun—dan menyadari untuk pertama kalinya bahwa arsip itu bisa dibaca dari dua arah. Sebagai perisai bagi dirinya, atau sebagai peta bagi sesuatu yang lebih besar dari dirinya, yang selama ini luput dari matanya sendiri karena ia memang tak pernah diminta melihat.
"Aku cuma mau pastikan berkas Bu Sumirah nggak salah," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Tuti.
"Terus kenapa kamu nggak bisa tidur kalau cuma itu?"
Ia tidak menjawab segera. Ditatapnya dua lembar kertas yang berdampingan di atas meja—putusan dan catatan rumah sakit—seakan keduanya bisa berbicara sendiri kalau ditatap cukup lama. Ada sesuatu yang mulai bergerak di dadanya, semacam kegelisahan yang belum berbentuk jelas, seperti melihat retak rambut di dinding yang belum tahu seberapa dalam menembus fondasi.
"Karena kalau ini benar salah," katanya akhirnya, suaranya turun jadi nyaris bisik, "berarti bukan cuma satu berkas yang salah."
Tuti menatapnya lama. Ia tidak bertanya lagi malam itu, tapi juga tidak beranjak. Ia mengambil salah satu map tua dari tahun-tahun awal, membukanya asal, membaca judul perkara yang sudah menguning, seolah ingin tahu apa yang selama ini disimpan suaminya di kotak berdebu itu tanpa pernah ia lihat isinya. Kuncoro membiarkan. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, ia tidak buru-buru menutup map itu dari pandangan istrinya.
Di luar, angin malam menggoyang daun jendela yang tidak tertutup rapat, dan lampu neon di atas meja makan berkedip sekali sebelum kembali stabil, menyinari dua puluh tahun kertas yang mulai, pelan-pelan, berubah jadi sesuatu yang lain dari yang Kuncoro maksudkan saat pertama kali menyimpannya.