Hujan gerimis mengetuk kaca jendela kantor juru sita ketika Kuncoro membuka map cokelat yang tadi ia bawa pulang setengah sembunyi-sembunyi dari ruang arsip. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat. Hanya lampu meja yang menyala, cahayanya kuning pucat jatuh di atas tumpukan kertas yang mulai menguning di sudut-sudutnya. Sulastri duduk di kursi seberang, masih memakai jaket yang basah oleh gerimis, rambutnya lepek di pelipis.
"Ini yang kusalin semalam," kata Sulastri, menyodorkan map tipis berisi fotokopi relaas dan surat kuasa. "Tapi saya juga bawa yang ini—akta yang dilampirkan di berkas gugatan koperasi."
Kuncoro menerima lembaran itu tanpa buru-buru. Dua puluh tahun ia membaca dokumen semacam ini, dan tangannya sudah hafal iramanya sendiri: telunjuk menyusuri kop surat lebih dulu, lalu turun ke nomor akta, baru ke nama-nama yang tercetak di bawah meterai. Kop itu berbunyi Ratna Wulandari, S.H., M.Kn.—Notaris & Pejabat Pembuat Akta Tanah, dengan alamat kantor di ruko tiga lantai yang pernah ia lewati entah berapa kali tanpa pernah singgah.
Ia berhenti di nama itu lebih lama daripada biasanya.
"Ada apa, Pak?" Sulastri memperhatikan wajahnya.
"Tidak apa-apa," jawab Kuncoro, meski tangannya tetap menahan kertas itu di udara, seolah menimbang beratnya. "Lanjutkan bacanya."
Akta itu adalah akta pengikatan jaminan—rumah dan bengkel Sumirah dijadikan agunan atas pinjaman yang, menurut berkas, macet sejak dua tahun lalu. Di bagian kreditur, tertulis nama lembaga yang tak pernah disebut dalam berita acara maupun putusan yang selama ini ia pegang: Koperasi Simpan Pinjam Sinar Mekar. Di bawahnya, tanda tangan pengurus koperasi, dengan nama yang diketik rapi di sampingnya: Gunawan.
Sulastri membaca nama itu keras-keras, seolah mengujinya di lidah. "Sinar Mekar. Gunawan. Bukankah nama koperasi itu juga muncul di lampiran perhitungan tunggakan? Yang jumlahnya beda dari buku tabungan Bu Sumirah?"
"Iya," jawab Kuncoro pendek.
Tapi yang mengganggu bukan soal angka yang sudah lebih dulu janggal. Yang mengganggu adalah rasa—samar, seperti bau yang tercium sebentar lalu hilang sebelum sempat dikenali—bahwa ia pernah membaca dua nama ini sebelumnya. Bukan sekali. Entah di berkas mana, entah tahun berapa. Kuncoro menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata sebentar, mencoba menariknya keluar dari lapisan ingatan yang sudah terlalu tebal ditumpuk oleh ratusan eksekusi.
Ratna Wulandari. Ia ingat nama itu pernah tercetak di sebuah akta lain, bertahun lalu, saat ia menyita sepetak sawah di pinggiran kota atas nama seorang petani yang tak pernah ia ingat wajahnya lagi. Atau mungkin bukan itu. Mungkin sebuah rumah toko di dekat terminal lama. Ingatan itu tidak utuh, hanya kepingan—kop surat yang sama, gaya tanda tangan yang sama, huruf R yang melengkung tajam di ujungnya seperti kail.
Dan Gunawan. Nama itu lebih umum, bisa siapa saja. Tapi kombinasi dengan kata "Sinar Mekar" membuat sesuatu di kepalanya bergeser sedikit, seperti laci yang macet lalu tiba-tiba terbuka setengah jengkal.
"Pak Kuncoro?"
Ia membuka mata. "Aku merasa pernah lihat nama-nama ini," katanya pelan, hati-hati memilih kata, seolah takut kalimatnya sendiri akan membawanya ke tempat yang tak sanggup ia hadapi malam itu. "Notaris ini. Koperasi ini. Entah di mana."
Sulastri menegakkan badan. "Di berkas kita yang lain? Perkara yang Bapak tangani sebelum ini?"
"Bisa jadi." Kuncoro meraih pulpen, tapi tidak menulis apa-apa. Ia hanya memutar-mutar benda itu di antara jari-jarinya, kebiasaan lama yang muncul setiap kali pikirannya berkecamuk lebih dari yang ingin ia tunjukkan. "Sudah dua puluh tahun aku pegang perkara. Ratusan berkas. Wajar kalau nama notaris atau koperasi terulang. Kota ini tidak sebesar itu."
"Tapi Bapak tidak yakin itu cuma kebetulan," kata Sulastri, bukan bertanya.
Kuncoro tidak menjawab langsung. Ia menutup akta itu, meratakan lipatannya dengan telapak tangan, lalu meletakkannya di atas tumpukan yang lain—relaas panggilan yang tanggalnya bertabrakan dengan hari Sumirah dirawat, tanda tangan yang berbeda dari KTP, dan sekarang nama notaris serta koperasi yang samar-samar pernah ia temui.
"Aku tidak yakin apa pun malam ini," katanya akhirnya. "Tapi kalau nama yang sama muncul dua kali dalam dua puluh tahun kerjaku, aku ingin tahu berapa kali lagi ia muncul yang tidak sempat kucatat."
Sulastri diam sejenak, lalu berkata, hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh, "Berarti bukan cuma soal Bu Sumirah."
Kuncoro tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatap kertas-kertas yang tersebar di meja, cahaya lampu memantul di permukaannya yang mengilap bekas fotokopi, dan untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun ia bertugas, ia merasa berkas di depannya bukan sekadar satu perkara yang harus diselesaikan atau ditunda, melainkan ujung benang dari sesuatu yang jauh lebih panjang, yang ujung satunya lagi tersembunyi entah di laci mana, di map mana, di antara ratusan eksekusi yang selama ini ia jalankan tanpa banyak bertanya.
Ia mengambil pulpen lagi, kali ini benar-benar menulis: dua nama, di selembar kertas kosong, terpisah dari berkas resmi mana pun. Ratna Wulandari. Gunawan—Sinar Mekar. Hanya itu. Tidak ada kesimpulan, tidak ada tuduhan, hanya dua nama yang ia simpan sendiri seperti orang menyimpan bara dalam saku, belum tahu akan dijadikan apa, tapi tak sanggup membuangnya begitu saja.
Di luar, hujan makin rapat, dan kantor yang kosong itu terasa lebih sunyi daripada biasanya, seolah ikut menahan napas bersama dua orang yang baru saja menyadari bahwa apa yang mereka kira satu pintu, ternyata baru pintu pertama dari yang entah berapa banyak lagi.