Mesin fotokopi di sudut kantor juru sita berderak seperti orang tua yang dipaksa bangun tengah malam. Sulastri berdiri membungkuk di depannya, satu tangan menahan tutup kaca supaya tak terbanting, tangan lain menekan tombol dengan gerakan cepat-cepat takut ketahuan. Lampu neon di atas kepalanya berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala penuh, dan cahayanya yang putih pucat membuat wajahnya tampak lebih muda sekaligus lebih tegang dari biasanya.
Kuncoro Wignyo duduk di mejanya, pura-pura merapikan map-map lain, padahal matanya sesekali melirik ke arah pintu. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sudah kosong sejak dua jam lalu, tinggal satpam yang berjaga di pos depan dan mereka berdua yang beralasan "menyelesaikan administrasi tertunda".
"Kalau ada yang tanya," kata Sulastri pelan, tanpa menoleh, "kita bilang saja sedang menyalin untuk arsip cadangan."
"Itu bukan bohong," jawab Kuncoro. "Cuma belum lengkap."
Sulastri tersenyum tipis, getir. Ia mengangkat lembar terakhir dari mesin, meniupnya sebentar seolah tinta bisa basah kembali, lalu menyusunnya rapi bersama tumpukan lain: relaas panggilan, surat kuasa, dan salinan putusan verstek atas nama Sumirah. Semua itu seharusnya sudah kembali ke map cokelat berkas dan dikunci di lemari arsip. Tapi malam ini mereka meminjamnya sebentar, dengan cara yang tidak akan pernah tercatat di buku peminjaman mana pun.
Kuncoro menariknya duduk di kursi seberang mejanya. Ia membuka map cokelat yang sudah dua minggu ini tak pernah lepas dari tasnya, mengeluarkan fotokopi KTP Sumirah yang ia minta langsung dari Bagas — alasan resminya untuk "melengkapi berkas eksekusi". Ia meletakkannya di sebelah surat kuasa hasil salinan Sulastri.
Untuk beberapa detik tak ada yang bicara. Hanya suara kipas angin tua di sudut ruangan yang berputar malas, dan detak jam dinding yang tiba-tiba terasa lebih keras dari biasanya.
"Coba lihat ini," kata Kuncoro akhirnya, menunjuk kolom tanda tangan di surat kuasa.
Sulastri mencondongkan tubuh. Tanda tangan di surat kuasa itu tegas, huruf S besar melengkung penuh dengan garis bawah panjang yang menukik ke kanan, seperti orang yang terbiasa menandatangani dokumen penting. Ia lalu memindahkan pandangannya ke fotokopi KTP: tanda tangan Sumirah di sana kecil, agak gemetar, huruf-hurufnya nyaris tak terbaca, seperti coretan orang yang tak biasa memegang pena untuk urusan resmi selain menandatangani kuitansi bengkel.
"Beda," gumam Sulastri.
"Bisa saja beda karena waktu," kata Kuncoro, mencoba adil pada kemungkinan paling ringan. "Orang menandatangani KTP sepuluh tahun lalu, tanda tangannya bisa berubah."
"Sepuluh tahun bisa mengubah bentuk huruf. Tapi bukan tangan yang gemetar jadi tangan yang mantap begitu saja, Pak." Sulastri mengambil kedua lembar itu, menyejajarkannya di bawah cahaya lampu meja, memiringkan sedikit supaya bayangan tinta terlihat jelas. "Coba Bapak lihat tekanan penanya. Yang di KTP ini tipis, kadang putus di tengah huruf, seperti orang yang menahan sakit di tangan. Yang di surat kuasa ini rata, tebal, tidak ada jeda sama sekali. Itu bukan tanda tangan orang yang sama."
Kuncoro tidak langsung menjawab. Ia mengambil kaca pembesar kecil dari laci mejanya — benda yang biasa ia pakai untuk memeriksa nomor seri uang kertas saat menyita perabot, dulu sekali, di masa ia masih menganggap pekerjaan ini sekadar soal ketelitian administratif. Ia menempelkannya di atas dua tanda tangan itu bergantian.
Detik itu ia merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari tengkuk ke lengan.
"Sulastri," katanya, suaranya lebih pelan dari yang ia sadari, "bandingkan juga dengan relaas."
Sulastri mengeluarkan lembar ketiga: relaas panggilan sidang, dokumen yang menyatakan bahwa juru sita telah menyampaikan panggilan kepada Sumirah secara sah dan patut. Di kolom penerima, tertera tanda tangan yang sama persis dengan yang ada di surat kuasa — huruf S besar, garis bawah menukik ke kanan, tebal dan rata.
"Sama," kata Sulastri. "Tanda tangan di relaas dan surat kuasa itu identik. Tapi keduanya beda dari KTP."
Kuncoro meletakkan kaca pembesar itu di meja. Tangannya sendiri, yang dua puluh tahun terbiasa menandatangani berita acara tanpa gemetar, kini terasa kaku memegang lembar-lembar kertas itu.
"Berarti dua dokumen ini," ujarnya lambat, memilih kata seolah tiap kata punya berat sendiri, "ditandatangani oleh orang yang sama. Tapi bukan oleh Bu Sumirah."
Sulastri mengangguk, matanya tak lepas dari kertas-kertas itu, seperti takut kalau ia menoleh maka kenyataan itu akan berubah lagi jadi sekadar kecurigaan yang bisa dibantah.
"Itu berarti relaas panggilan itu palsu," katanya, hampir berbisik, seolah kalimat itu terlalu berat untuk diucapkan keras-keras di ruangan yang sepi. "Dan kalau relaasnya palsu, sidang verstek itu—"
"—dijalankan tanpa Bu Sumirah pernah tahu ada gugatan," sambung Kuncoro.
Ia menatap tumpukan kertas itu lama, seperti orang yang baru sadar sedang memegang sesuatu yang bisa meledak. Selama ini ia menganggap kejanggalan tanggal relaas—yang bertepatan dengan Sumirah dirawat di rumah sakit—sebagai kelalaian administratif, sesuatu yang bisa diperbaiki dengan surat susulan. Tapi tanda tangan yang berbeda ini bukan kelalaian. Itu perbuatan yang disengaja, dirancang, dan dijalankan oleh tangan yang tahu persis apa yang sedang dikerjakannya.
"Kita harus menyimpan ini baik-baik," kata Kuncoro akhirnya, mengumpulkan kembali lembar-lembar itu, memasukkannya ke amplop polos yang sudah disiapkan Sulastri, bukan map cokelat berkas resmi. "Bukan di kantor. Bukan di rumah dinas."
Sulastri menutup mesin fotokopi, mematikan lampunya, lalu berdiri diam sesaat di ambang pintu, menoleh ke arah lemari arsip yang esok pagi akan dibuka lagi seolah malam ini tak pernah terjadi.
"Pak," katanya sebelum melangkah keluar, "kalau ini benar pemalsuan, ini bukan cuma soal berkas Bu Sumirah lagi, kan?"
Kuncoro tidak menjawab. Ia hanya mematikan lampu mejanya sendiri, membiarkan amplop itu tersimpan rapat di balik map-map lain di dalam tasnya, dan berjalan keluar ke lorong kantor yang sudah gelap, membawa kecurigaan yang untuk pertama kalinya punya bentuk, punya berat, dan punya nama yang belum sepenuhnya berani ia ucapkan.