Panggilan itu datang lewat interkom pukul sepuluh pagi, suara sekretaris Darsana yang datar seperti sudah dihafal luar kepala: "Pak Kuncoro diminta ke ruang panitera sekarang." Kuncoro meletakkan pena, menutup map cokelat yang sedari tadi terbuka di mejanya—map yang sama, dengan salinan putusan Sumirah terselip di antara berkas-berkas lain seolah hanya satu dari puluhan perkara biasa. Ia menyelipkannya ke laci sebelum berdiri, sebuah gerak kecil yang baru ia sadari kemudian: ia menyembunyikan sesuatu, dan itu bukan kebiasaannya.
Ruang Darsana selalu dingin oleh AC yang disetel terlalu rendah, dengan lemari kaca berisi piagam dan foto-foto seremoni yang tersusun rapi seperti pameran. Darsana duduk di balik meja, mengetik sesuatu di layar tanpa menoleh ketika Kuncoro mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"Duduk, Kuncoro." Darsana masih tidak menoleh. Baru setelah dua ketukan jari terakhir di papan tombol ia mengangkat wajah, tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Sudah dua puluh tahun, ya. Kau tahu aku selalu bilang ke orang-orang: Kuncoro itu juru sita paling bersih yang pernah pengadilan ini punya."
"Bapak terlalu memuji."
"Bukan memuji. Fakta." Darsana menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya menyatu di depan dada. "Makanya aku heran lihat perkara Sumirah masih menggantung. Nomor 114, Jalan Pasar Lama. Sudah masuk minggu ketiga sejak putusan berkekuatan tetap."
Kuncoro menjaga wajahnya tetap datar, kebiasaan lama yang selama ini menjadi keahliannya: tidak merasa, atau setidaknya tidak menunjukkan rasa. "Masih saya lengkapi administrasinya, Pak."
"Administrasi apa lagi yang perlu dilengkapi? Putusan sudah ada, berita acara tinggal ditandatangani." Darsana condong sedikit ke depan. "Aku dengar kau menunda tanda tangan penuh. Kenapa?"
Ada jeda yang terlalu panjang untuk terasa wajar, dan Kuncoro tahu Darsana menghitungnya. Ia memikirkan angka yang tak cocok itu—tanggal relaas panggilan yang jatuh persis ketika Sumirah dirawat di rumah sakit, sesuatu yang mestinya tidak mungkin tapi ada di atas kertas berkop pengadilan. Ia memikirkan bagaimana kejanggalan semacam itu, jika diucapkan di ruangan ini, akan seperti melempar batu ke air yang tenang tanpa tahu apa yang tinggal di dasarnya.
"Ada beberapa lampiran yang saya cek ulang," katanya akhirnya. "Supaya berita acaranya kuat, tidak bisa digugat balik."
"Kuat." Darsana mengulang kata itu seperti mencicipi rasa yang asing. "Kuncoro, aku menghargai kehati-hatianmu. Selalu begitu, dari dulu. Tapi kehati-hatian itu ada batasnya. Minggu ini harus selesai."
"Kenapa harus minggu ini, Pak?"
Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan, dan untuk sepersekian detik ia melihat sesuatu berkelebat di mata Darsana—bukan marah, lebih mirip kalkulasi cepat, seperti orang yang menghitung ulang berapa banyak yang boleh dikatakan.
"Karena itu tugasmu," jawab Darsana, nadanya melembut, seolah baru sadar telah bicara terlalu keras. "Dan karena pengadilan ini punya nama untuk dijaga. Setiap perkara yang menggantung terlalu lama jadi pertanyaan bagi pengawas, bagi Komisi Yudisial, bagi siapa saja yang cari-cari alasan menuduh kita main-main dengan eksekusi." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih personal, hampir seperti seorang paman menasihati keponakan. "Kau sendiri, dua tahun lagi pensiun. Aku sudah usulkan namamu untuk penghargaan masa kerja. Jangan sampai catatan menggantung begini jadi soal di akhir, Kuncoro. Sayang."
Kuncoro diam. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi: bukan ancaman terbuka, hanya seutas benang yang ditarik pelan-pelan—pensiun, reputasi, penghargaan—benang yang selama dua puluh tahun cukup untuk membuatnya patuh tanpa banyak tanya. Ia teringat berapa kali ia berdiri di depan rumah orang, mengetuk pintu, memasang pita merah-putih, lalu pulang dan tidur nyenyak karena semua sudah sesuai prosedur. Prosedur adalah tempat ia berlindung selama ini. Tapi kali ini prosedur itu sendiri yang berbau busuk, dan ia belum tahu seberapa dalam baunya menembus.
"Sudah saya urus, Pak," katanya, dan begitu kata-kata itu keluar ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—bukan lega, lebih mirip berat yang baru saja ditambahkan. "Berkas sudah beres. Minggu ini saya jadwalkan eksekusi."
Itu bohong, dan ia tahu persis bahwa itu bohong. Berkas belum beres; justru sebaliknya, berkas itulah yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak tiga malam terakhir. Tapi kalimat itu keluar begitu lancar, begitu wajar, seolah lidahnya sudah lama berlatih untuk saat seperti ini tanpa sepengetahuannya.
Darsana tersenyum, kali ini senyum yang sampai ke mata. "Nah. Begitu dong. Aku tahu kau bisa diandalkan." Ia kembali menghadap layar komputernya, tanda percakapan selesai. "Kabari aku begitu berita acara final ditandatangani. Jangan tunda-tunda lagi."
Di lorong menuju ruangannya sendiri, Kuncoro berjalan lebih lambat dari biasanya, memperhatikan lantai ubin yang sudah ia injak ribuan kali selama dua puluh tahun, seolah baru sekarang lantai itu terasa asing di bawah sepatunya. Ia baru saja berbohong kepada atasannya—hal yang tak pernah ia lakukan bahkan pada masa-masa tersulit kariernya, ketika ia diminta menyita barang dari orang yang menangis di depannya, ketika ia harus menahan diri agar tetap "tidak merasa."
Ia tidak tahu kenapa kebohongan itu terasa berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia berbohong bukan untuk melindungi sistem, melainkan untuk membeli waktu melawannya. Sebuah garis, tipis dan nyaris tak kasat mata, baru saja ia lewati—dan seperti banyak garis dalam hidupnya yang lain, ia baru menyadarinya setelah kakinya sudah berada di sisi yang lain.
Sesampai di mejanya, ia membuka laci, menarik map cokelat itu keluar, dan menatap nomor perkara yang tertera di sampulnya lama-lama, seolah angka-angka itu bisa balas menatapnya dan menjelaskan sendiri kejanggalan yang ia lihat.