Jalan Pasar Lama menyambutnya dengan bau yang sama seperti dua minggu lalu: oli bekas, karat, dan sisa hujan yang menggenang di selokan depan bengkel. Kuncoro memarkir motor dinasnya agak jauh, di bawah pohon mahoni yang daunnya menua ke ¬kuning, seolah jarak itu bisa membuat kedatangannya tampak kebetulan. Ia membawa map cokelat yang sama, tapi kali ini isinya bukan berita acara yang sudah lengkap. Ada dua lembar salinan yang sengaja ia bawa sebagai alasan — sesuatu yang bisa ia sebut sebagai "kelengkapan berkas" bila ada yang bertanya kenapa juru sita datang lagi padahal eksekusi belum jatuh tempo.
Bagas sedang jongkok di depan sepeda motor bebek tua, kap mesinnya terbuka, tangannya belepotan gemuk berwarna hitam. Ia tidak langsung menoleh saat mendengar langkah. Baru ketika bayangan Kuncoro jatuh di atas aspal becek dekat rodanya, ia mendongak, dan raut wajahnya berubah dari konsentrasi kerja menjadi kewaspadaan yang cepat-cepat ia sembunyikan.
"Bapak juru sita." Bagas berdiri, mengelap tangan ke lap yang sudah lebih hitam dari tangannya sendiri. "Belum waktunya, kan? Pak Darsana bilang minggu depan."
"Saya cuma perlu lihat beberapa hal buat berkas," kata Kuncoro. Ia mendengar sendiri betapa kalimat itu terdengar seperti yang sudah ia latih semalam di depan cermin kamar mandi. "Nomor rumah, luas bangunan, kondisi sekarang. Supaya berita acaranya akurat."
"Akurat," ulang Bagas, pelan, seperti mengecap rasa kata itu dan mendapatinya pahit. Ia menoleh ke motor yang tengah dikerjakannya. "Ini punya Pak Slamet, tukang sayur di ujung gang. Sudah tiga hari saya janjikan selesai. Kalau bengkel ini disita sebelum saya kelarin, dia naik apa ke pasar?"
Kuncoro tidak menjawab. Ia melangkah masuk lebih dalam, melewati rak-rak besi berisi onderdil yang disusun rapi menurut ukuran — sesuatu yang mengejutkannya, karena ia sudah terbiasa melihat bengkel-bengkel yang berantakan, tapi yang ini punya sistem, punya tangan yang telaten merawatnya. Di dinding tergantung kalender bengkel dari tahun ke tahun, ditumpuk seperti orang menyimpan riwayat, bukan membuang yang lama.
Sumirah muncul dari pintu dalam, membawa dua gelas teh yang uapnya masih naik. Ia berjalan lebih lambat dari yang Kuncoro ingat dari kunjungan sebelumnya, dan ada plester kecil di lengannya — bekas jarum infus, mungkin, dari rawat inap yang tanggalnya persis bersamaan dengan tanggal relaas panggilan yang tak pernah sampai.
"Duduk dulu, Pak," katanya, meletakkan gelas di atas bangku kayu yang biasa dipakai pelanggan menunggu. "Saya tahu Bapak cuma jalankan tugas. Bagas, jangan galak-galak sama tamu."
"Ibu terlalu baik sama orang yang mau ambil rumah kita," gerutu Bagas, tapi ia kembali membungkuk ke mesin, seolah menyerahkan urusan bicara pada ibunya.
Kuncoro duduk, meski enggan. Ia membuka map, pura-pura memeriksa data luas bangunan, tapi matanya mencuri pandang ke arah Sumirah yang duduk di kursi seberang, menyeka keringat di lehernya dengan ujung selendang.
"Bu Sumirah," katanya akhirnya, memilih kata dengan hati-hati, "berkas menyebut kredit macet delapan bulan di koperasi Sinar Mekar. Boleh saya tanya — Ibu masih simpan buku tabungannya?"
Sumirah menatapnya sesaat, seperti menakar apakah pertanyaan itu jebakan atau bukan. Lalu ia bangkit, masuk ke kamar di belakang, dan kembali membawa buku tabungan kumal bersampul biru pudar, sudutnya terlipat karena terlalu sering dibuka.
"Ini," katanya, meletakkannya di atas meja seperti orang menaruh bukti di meja hakim. "Saya nggak pandai baca hukum, Pak. Tapi saya bisa baca angka. Saya setor tiap bulan, kadang malah lebih cepat dari tanggal jatuh tempo, karena saya takut lupa."
Kuncoro membuka lembar demi lembar. Tulisan tangan teller koperasi tercetak rapi di setiap baris — tanggal, jumlah setor, saldo berjalan — dan tidak satu pun kolom yang menunjukkan tunggakan. Bulan-bulan yang disebut dalam berkas sebagai "menunggak" justru tercatat lunas, bahkan salah satunya disetor dua kali dalam sebulan.
"Bulan Maret," gumam Kuncoro, lebih pada dirinya sendiri. "Di berkas, Ibu disebut menunggak sejak Maret."
"Maret saya malah nyicil dua kali," kata Sumirah. "Karena bulan sebelumnya saya lupa, jadi saya bayar dobel biar nggak ketinggalan. Saya masih ingat, karena waktu itu Bagas baru beli sparepart buat kompresor, saya sampai pinjam dari tetangga."
Bagas berhenti bekerja. Ia berdiri di ambang antara ruang bengkel dan ruang duduk, tangan masih memegang kunci pas, memandangi ibunya membuka buku yang selama ini disimpannya sendiri, seolah baru sekarang ia sadar betapa buku kecil itu bisa jadi senjata sekaligus luka.
"Kalau memang lunas," kata Bagas, suaranya tercekat di antara marah dan harap, "kenapa ada surat yang bilang kami nunggak? Siapa yang bikin surat itu, Pak?"
Kuncoro menutup buku tabungan pelan-pelan, seakan kalau ia menutupnya terlalu keras sesuatu di dalamnya bisa rusak. Ia tidak menjawab pertanyaan itu — bukan karena tidak mau, tapi karena ia sendiri belum punya jawaban yang bisa ia pertanggungjawabkan. Yang ia tahu hanya bahwa deretan angka di depannya bertentangan telak dengan deretan angka di map cokelatnya, dan salah satu dari keduanya berbohong.
"Saya akan periksa lagi," katanya, dan kali ini ia tidak berbohong. "Boleh saya pinjam ini sebentar? Saya foto, lalu saya kembalikan."
Sumirah mengangguk, meski matanya menyimpan kewaspadaan yang tak pernah sepenuhnya reda. Kuncoro memotret setiap halaman dengan telepon genggamnya, tangannya lebih hati-hati dari biasanya, seperti orang yang sedang menyalin sesuatu yang bisa dipakai melawan dirinya sendiri suatu hari nanti.
Ketika ia pamit, Bagas mengantarnya sampai ke pintu, motor Pak Slamet masih menunggu setengah terbongkar di tengah bengkel. "Bapak," katanya pelan, "kalau memang salah, Bapak bakal bilang, kan? Bukan cuma nyimpen buat diri sendiri?"
Kuncoro menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun kariernya, ia tidak segera punya jawaban yang biasa ia ucapkan pada keluarga-keluarga yang akan ia sita.
"Saya akan periksa," ulangnya, lalu berjalan ke motornya di bawah pohon mahoni, membawa map cokelat yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya — bukan karena isinya bertambah, tapi karena ia mulai curiga isinya salah.