Tangga menuju ruang arsip berbau lembab dan kapur, seolah waktu berhenti di anak tangga ketujuh sejak lampu neon terakhir diganti. Kuncoro menghitungnya tanpa sadar, kebiasaan lama dari bertahun-tahun turun-naik membawa map cokelat yang lebih berat dari isinya. Di tangannya kali ini hanya secarik kertas: nomor perkara yang ia salin sendiri dari berkas Sumirah, dan satu pertanyaan yang belum berani ia ucapkan keras-keras sejak semalam.
Ruang arsip lantai bawah lebih mirip gudang daripada kantor. Rak-rak besi berkarat berdiri berbaris seperti barak, memunggungi jendela kecil di sudut atap yang nyaris tak pernah dibuka. Bau kertas lapuk bercampur minyak tanah dari lampu darurat yang jarang dinyalakan. Petugas arsip, seorang lelaki setengah baya bernama Wardoyo, duduk di balik meja kayu yang penuh cap dan bantalan tinta kering, mengipas diri dengan map yang sama sekali tidak ia baca.
"Nomor berapa, Pak Kuncoro?"
Kuncoro menyebutkan nomor perkara itu, lambat-lambat, seperti membaca sesuatu yang bisa retak kalau diucapkan tergesa. Wardoyo membuka buku besar peminjaman, jarinya menyusuri kolom-kolom yang tintanya berbeda warna dari satu baris ke baris lain, pertanda buku itu diisi dalam beberapa waktu yang tidak berdekatan meski nomor urutnya berurutan rapi, seolah seseorang menyalin ulang halaman itu belakangan dan lupa menyamakan tintanya.
"Sedang dipinjam, Pak."
"Dipinjam siapa?"
Wardoyo menutup buku itu lebih cepat dari yang dibutuhkan untuk sekadar menandai halaman. "Bagian lain, Pak. Saya nggak catat detail, cuma titip nama peminjam kalau lengkap semua."
"Kalau lengkap. Ini nggak lengkap?"
"Kadang begitu, Pak. Sudah biasa." Wardoyo tersenyum, senyum yang dua puluh tahun lalu mungkin masih bisa meyakinkan Kuncoro, tapi kini terasa seperti pintu yang buru-buru ditutup sebelum ada yang sempat mengintip ke dalam.
Kuncoro tidak mendesak lebih jauh. Ia tahu caranya sendiri untuk membuat orang bicara, dan itu bukan dengan berdiri di depan buku besar yang bisa ditutup kapan saja. Ia hanya diam sejenak, menatap rak nomor yang seharusnya menyimpan berkas itu, rak yang, ia perhatikan, kosong satu slot, tanpa map pengganti, tanpa kartu keterangan peminjaman yang biasanya diselipkan di celah rak sesuai prosedur. Dua puluh tahun ia turun ke ruang ini, dan baru sekarang ia benar-benar memperhatikan betapa mudahnya sebuah rak dikosongkan tanpa jejak.
"Kalau ketemu, kabari saya," katanya, lalu berbalik.
Ia baru sampai di ambang pintu ruang arsip ketika suara langkah menyusulnya. Sulastri berdiri di sana, map di tangan, seperti sedang lewat begitu saja, tapi Kuncoro tahu betul jam segini ia semestinya masih di ruang panitera, bukan di lorong bawah tanah yang jarang didatangi orang selain petugas arsip dan juru sita yang kebetulan butuh berkas lama.
"Bapak cari apa?"
"Berkas rutin."
"Berkas rutin nggak bikin Bapak berdiri lima menit di depan rak kosong."
Kuncoro menoleh. Sulastri tidak tersenyum, tidak juga bertanya lagi. Ia hanya menatapnya dengan cara yang menahan diri, seperti seseorang yang tahu kapan harus berhenti mendesak dan kapan harus menunggu.
"Nomor perkara Sumirah," kata Kuncoro akhirnya, karena tidak ada gunanya berbohong pada orang yang jelas-jelas sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. "Berkas induknya katanya dipinjam. Nggak ada nama peminjam di buku."
Sulastri diam sebentar, matanya beralih ke arah ruang arsip, ke Wardoyo yang pura-pura sibuk menyusun map yang sudah tersusun rapi.
"Saya kenal petugas shift malam," katanya pelan, hampir berbisik meski tak ada orang lain di lorong itu. "Dia yang isi buku kalau siang ada tamu dari luar. Kalau Bapak mau, saya bisa tanya, bukan tanya Pak Wardoyo. Tanya yang benar-benar catat."
"Kamu nggak usah ikut campur, Sulastri. Ini bukan urusanmu."
"Saya juru sita di pengadilan yang sama, Pak. Berkas hilang di arsip itu urusan siapa saja yang masih pegang map cokelat." Ia berkata datar, tanpa nada menantang, hanya menyampaikan sesuatu yang menurutnya sudah semestinya jelas.
Kuncoro menatapnya lebih lama daripada yang ia rencanakan. Ada sesuatu dalam caranya bicara yang mengingatkannya pada dirinya sendiri dua puluh tahun lalu, sebelum ia belajar bahwa terlalu banyak bertanya bisa membuat seseorang dipindahkan ke pos yang jauh, atau lebih buruk, membuat berkas yang seharusnya ada tiba-tiba tidak pernah ada. Ia ingin menyuruhnya pulang, kembali ke mejanya, berpura-pura tidak melihat apa yang baru saja terjadi di lorong ini. Tapi mulutnya mengucapkan hal lain.
"Kalau kamu tanya," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, "jangan sebut nama saya."
Sulastri mengangguk sekali, singkat, seperti menerima instruksi yang sudah ia duga akan datang. Ia tidak berjanji apa-apa yang berlebihan, tidak pula bertanya lebih jauh soal alasan Kuncoro sebegitu hati-hati. Ia hanya membalikkan map di tangannya, menyelipkan secarik kertas kosong di antara halaman-halamannya, seakan mempersiapkan tempat untuk sesuatu yang belum ditulis.
Mereka naik tangga itu terpisah, berjarak beberapa anak tangga, seolah tidak pernah bicara. Di lantai atas, koridor pengadilan sudah ramai oleh langkah-langkah yang tergesa menuju ruang sidang, oleh map-map yang berpindah tangan tanpa seorang pun benar-benar membaca isinya. Kuncoro berjalan ke ruang kerjanya sendiri, meletakkan secarik kertas berisi nomor perkara itu di laci paling bawah, di bawah tumpukan berita acara lama yang tak pernah ia buang.
Ia belum tahu apa yang akan Sulastri temukan, atau kapan. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia baru saja membiarkan orang lain ikut memikul sesuatu yang semestinya cukup ia tanggung sendiri. Dan entah kenapa, alih-alih merasa lega, yang muncul justru rasa berat yang baru, seperti map cokelat yang bertambah satu lagi di tumpukan yang belum juga ia serahkan, dan kali ini bukan hanya namanya sendiri yang tertulis di sampulnya.