Ketegangan di antara Cahaya dan Zydan setelah makan malam keluarga itu tidak lagi bisa disangkal. Setiap pandangan, setiap pesan, dipenuhi dengan beban pengakuan Zydan. Cahaya berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya memanfaatkan situasi ini untuk melukai Satria, tetapi suara hati kecilnya terus berbisik bahwa perasaan itu nyata. Gairah itu terlalu jujur untuk sekadar akting.
Satria, di sisi lain, menjadi semakin paranoid. Ia mulai memeriksa tagihan telepon Cahaya dan secara tiba-tiba muncul di rumah saat jam kerja. Ia tidak pernah menyebut nama Fida wanita selingkuhannya atau meminta maaf secara tulus. Ia hanya mengawasi Cahaya, mencari tanda-tanda kepergian dan rencana cahaya entah dendam atau perceraian yang ia tahu akan datang, tetapi ia tidak pernah menduga bahwa Zydan lah yang akan menjadi senjatanya.
Tiga hari setelah insiden di taman, Cahaya merasa tertekan. Tekanan dari Satria, gejolak perasaannya sendiri terhadap Zydan, dan penatnya menjaga rahasia. Ia menelepon Zydan, bukan untuk membahas desain, tetapi untuk memintanya datang.
“Aku perlu kau melihat tata letak kabel studio yang baru,” kata Cahaya melalui telepon, suaranya tegang. “Kau satu-satunya yang bisa kupercaya.” guamamnya.
“Aku akan segera ke sana, Kak Cahaya,” jawab Zydan, nadanya segera berubah menjadi protektif. Ia tahu itu bukan hanya tentang kabel.
Sore itu, langit di atas Jakarta berubah kelabu. Saat Zydan tiba, hujan turun dengan deras, disertai guntur yang menggelegar. Satria, untungnya, sedang menghadiri konferensi mendadak, memberinya alibi yang sempurna.
Zydan masuk, jaketnya basah kuyup. Ia tampak gagah dan berantakan, dan pemandangan itu membuat jantung Cahaya berdebar kencang.
“Aku sudah melihat tata letakmu, tapi hujan deras di luar,” kata Cahaya, menutup pintu studio di belakang Zydan. Suara hujan di atap meredam segalanya, menciptakan ruang privat yang sunyi dan menenangkan.
“Tidak masalah. Aku bisa menunggu,” jawab Zydan, mencoba bersikap profesional, tetapi matanya mengkhianati dirinya, menatap wajah Cahaya dengan kerinduan.
Cahaya mendekat ke arah Zydan Ia melihat air hujan menetes dari rambut Zydan, membasahi bahu kausnya. Terlihat dadanya yang bidang otot perutnya yang sedikit terlihat, Ia tidak bisa menahan diri. Niat dendamnya memudar yang tersisa hanyalah kebutuhan yang membakar.
“Aku tidak bisa pura-pura, Zydan." ucap cahaya dengan sedikit menggoda.
“Pura-pura apa, Kak?” tanya Zydan, suaranya pelan dan rentan.
Cahaya mengangkat tangannya dan menyentuh rambut basah Zydan, merapikan helai rambut yang jatuh di dahinya. Sentuhan itu tidak didasari dendam itu didasari keinginan yang murni.
“Pura-pura bahwa aku tidak merasakan apa-apa saat kau menyentuhku. Pura-pura bahwa kau hanyalah adik iparku." jawabnya, "Pura-pura bahwa semua ini adalah permainan.” sedangkan batin Cahaya merasa bersalah dan kasian, mendengar itu Zydan terdiam, napasnya tertahan. Matanya yang cokelat gelap menatap mata Cahaya, mencari kebenaran.
“Aku sudah lelah menjadi Nyonya Sempurna yang diabaikan. Aku lelah dengan kebohongan Satria. Aku lelah dengan kesepian.” Suara Cahaya bergetar dengan menundukkan wajahnya, ia menunggu respon dari adik iparnya itu.
“Kau pantas mendapatkan lebih dari itu, Kak Cahaya,” Zydan berbisik, nadanya kembali pada kepastian yang ia miliki saat pengakuannya di taman. “Aku sudah bilang, aku mencintaimu.”
Ia meletakkan tangannya di pinggang Cahaya. Sentuhan itu lembut, tetapi tegas, menunjukkan bahwa ia tidak akan menariknya kembali.
“Aku tahu kau terluka. Aku tahu kau marah. Tapi aku tidak peduli bagaimana ini dimulai. Jika kau ingin menangis, menangislah di pelukanku." ucap Zydan menarik Cahaya ke dalam pelukannya. "Jika kau hanya menggunakan aku sebagai senjata balas dendam pada kak Satria, lakukanlah. Gunakan aku. Aku tidak peduli, selama aku memilikimu.” ucap Zydan, mendengar Kata-kata itu Cahaya tertegun, darimana Zydan tau? Namun ironisnya, membebaskan Cahaya. Kejujuran Zydan membersihkan rasa bersalahnya. Ia tidak menggunakan Zydan tapi Zydan memberinya izin untuk digunakan.
Cahaya menangkup wajah Zydan. “Aku bingung, Zydan. Aku takut.” ucapnya seraya menempelkan keningnya di kening Zydan.
“Jangan takut,” Zydan meyakinkan. “Aku tidak akan pernah menyakitimu.”
Saat itu, Cahaya tidak lagi melihat adik iparnya. Ia melihat pria yang lebih gagah, lebih jujur, lebih tulus daripada Satria. Pria yang sudah mencintainya sejak ia masih seorang gadis.
Ia menutup mata, dan mencium Zydan.
Ciuman itu adalah ledakan yang terkekang. Itu liar dan mendesak. Dendam Cahaya berubah menjadi gairah murni, kehausan yang telah lama terpendam. Bibir Zydan terasa dingin karena air hujan, tetapi napasnya panas. Ia balas mencium Cahaya dengan gairah yang kuat, memeluknya erat seolah takut Cahaya akan menghilang.
Mereka bergerak, tersandung, hingga punggung Cahaya membentur dinding studio. Di tengah gemuruh petir dan suara hujan yang deras, dunia luar terasa jauh dan tidak relevan. Yang ada hanyalah panasnya sentuhan Zydan, kejujuran perasaannya, dan kelegaan yang membanjiri Cahaya.
Ini bukan lagi permainan. Mereka baru saja melintasi batas yang tidak bisa ditarik kembali. Hubungan terlarang itu kini nyata.
~~~~
Sementara itu, di sebuah kafe sepi di pusat kota, Satria, yang ternyata tidak pergi ke konferensi, menerima telepon dari rekan kerjanya.
“Tadi aku lihat adikmu, Zydan, masuk ke lingkungan rumahmu, Satria. Aku pikir dia pergi ke sana untuk bertemu klien. Tapi dia masuk ke rumahmu, padahal kulihat mobilmu tidak ada.”
Satria membeku hatinya di penuhi api cemburu, Ia menatap ponselnya. Zydan selalu hormat. Zydan tidak akan pernah datang ke rumahnya tanpa alasan, apalagi saat ia tidak ada.
Tiba-tiba, mata Satria terbuka. "Apa dia akan balas dendam padaku ... Ah, tidak mungkin. Dia begitu patuh dan menjaga citranya. Bagaimana bisa dia berani melakukan perselingkuhan, apa lagi dia paling benci perselingkuhan, dan tidak mungkin dia berani melakukan hal yang dia benci." gumamnya ia menebak-nebak namun hatinya tudak tenang. Kemarahannya meletus, jauh lebih kuat dari kemarahan akibat Fida.
Pengkhianatan dari orang asing menyakitkan, tetapi pengkhianatan dari adik kandung dan istrinya akan menghancurkan dirinya.
Satria berdiri dari kursinya. Wajahnya kejam dan penuh kebencian. Ia tidak akan menunggu, ia harus pulang, sekarang juga, untuk membuktikan kecurigaannya. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang dalam perjalanan, Cahaya dan Zydan baru saja mengambil langkah pertama menuju kehancuran yang tak terhindarkan.