Pengakuan di Balik Tirai
Dua minggu berlalu sejak kunjungan pertama Zydan. Cahaya telah meningkatkan intensitas permainannya dengan presisi yang hati-hati. Ia tidak lagi hanya menggunakan desain studio sebagai alasan ketemuannya. kini ia menggunakan keheningan rumahnya sebagai umpan.
Sedangkan Satria, setelah konfrontasi dingin di malam ulang tahun pernikahan mereka, kembali ke rutinitas lamanya yaitu pulang larut, menghindari kontak mata, dan menyibukkan diri di kantor. Ia hidup dalam ketakutan sunyi, terus bertanya-tanya tentang perkataan Cahaya.
Sementara itu, komunikasi Cahaya dengan Zydan menjadi lebih intim. Mereka tidak hanya bertukar sketsa arsitektur mereka bertukar pesan teks larut malam, membahas segala sesuatu mulai dari kegagalan desain hingga kekecewaan hidup.
Cahaya duduk di balkon, memandangi lampu-lampu kota yang berkelip, membaca pesan terakhir Zydan.
“Ide pencahayaan itu terinspirasi dari bintang-bintang di kampung halaman kakek. Aku selalu merasa desain harus membawa kita ke tempat yang lebih baik, Kak Cahaya. Sama seperti dulu, saat melihat Kakak, aku selalu merasa … semua baik-baik saja.” Pesan itu lembut, jujur, dan sedikit terlalu dalam.
Cahaya merasakan sengatan aneh di hatinya, campuran antara rasa bersalah dan sensasi kekuatan. Takut akan perasaan bersalah dan salah langkah. Bukan hanya dirinya yang hancur jika balas dendam itu ia lancarkan, tapi seluruh keluarga dan nama baiknya dan Zydan tentunya.
Ia teringat bocah kecil yang dulu ia rawat, ia manjakan dan ia suapi. Cahaya tidak tau perasaan Zydan telah tumbuh di waktu ia masih bocah.
@~~~
Malam itu, keluarga Wiangga mengadakan acara makan malam kecil untuk merayakan promosi salah satu rekan Satria. Cahaya berdandan dengan cermat gaun cocktail hijau zamrud yang menonjolkan kulitnya yang cerah. Ia tahu ia tampak menakjubkan, dan ia menggunakan keindahan itu sebagai baju perang.
Di meja makan, Satria berperan sebagai suami yang penuh perhatian di hadapan kolega dan keluarganya. Namun, Cahaya menangkap pandangan waspada Satria, matanya terus-menerus memindai ruangan, takut melihat amarah Cahaya.
Zydan duduk di sebelah Cahaya. Ia terlihat sangat tampan malam itu, mengenakan setelan gelap yang membuat sosoknya yang tinggi dan atletis semakin menonjol. Setiap kali Satria menoleh, Cahaya akan memastikan ia tertawa akrab dengan Zydan, atau bersandar sedikit ke arahnya saat berbisik. Saat Satria sedang sibuk berbicara dengan atasannya, Cahaya mencondongkan tubuh ke Zydan.
“Aku sudah melihat sketsa pencahayaanmu. Cantik, Zydan,” bisik Cahaya, suaranya dipenuhi kehangatan yang dibuat-buat. Ia membiarkan ujung jarinya menyentuh punggung tangan Zydan di bawah meja.
Sentuhan itu singkat, tetapi efeknya langsung di rasakan Zydan, ia tersentak hingga tanpa sengaja menjatuhkan garpu kecil ke piringnya. Suara denting itu cukup keras untuk menarik perhatian Satria yang langsung menoleh. Zydan dengan cepat mengambil garpu itu, wajahnya memerah.
“Maaf,” gumam Zydan, menatap piringnya, menghindari mata Satria.
Cahaya tahu ia harus mundur sebelum Satria mulai mencurigai sesuatu yang konkret. Ia beranjak dari meja, beralasan mencari udara segar di taman.
Zydan mengikutinya beberapa saat kemudian. Ia berjalan cepat, tampak gelisah.
“Kak Cahaya, jangan lakukan itu,” kata Zydan, suaranya berat, matanya menyiratkan emosi yang rumit. “Jangan sentuh aku seperti itu di depan umum.”
Cahaya bersandar ke pilar marmer, melipat tangannya, dan menatapnya dengan tajam. Permainannya kini harus beralih dari godaan menjadi pengakuan emosional.
“Kenapa, Zydan? Apakah sentuhan kecil dari seorang kakak ipar membuatmu takut?” tantang Cahaya, nadanya lembut tetapi menusuk.
"Bukannya dulu kau selalu minta ku suapi? Dulu kita sering melakukan seperti itu, tapi kau tidak komentar," ucap Cahaya.
Cahaya mendekat ke arah Zydan, "atau jangan-jangan kau suka aku?" tanya cahaya di iringi candaan. Namun Zydan tertegun mendengar candaan itu.
“Atau kau takut Satria melihatnya, dan dia akan berpikir kau memiliki keberanian untuk mengambil apa yang seharusnya dia jaga?”
Zydan terdiam sejenak. Ia melihat ke belakang ke arah jendela ruang makan, lalu kembali menatap Cahaya.
Keengganan di wajahnya menghilang, digantikan oleh kejujuran yang tiba-tiba dan mendalam. “Aku takut karena itu membuatku menginginkanmu lebih dari yang seharusnya, Kak Cahaya,” Zydan mengakui, suaranya nyaris seperti desahan. Ia mengambil langkah mendekat, menghilangkan jarak yang telah ia jaga selama ini.
“Aku tidak peduli dengan Kak Satria. Biar kuperjelas! aku mencintaimu!” Pengakuan itu menghantam Cahaya, membuat rencana balas dendamnya goyah. Ia mengira Zydan hanya memiliki kekaguman masa muda, bukan cinta yang tulus.
“Aku mencintaimu sejak aku masih kecil,” lanjut Zydan, matanya menatap mata Cahaya, tanpa rasa malu. “Sejak Satria pertama kali membawamu ke rumah keluarga kita. Kau adalah cahaya di ruangan yang paling gelap. Kau adalah wanita yang paling anggun dan cantik yang pernah kulihat. Aku tahu itu salah, tapi itu selalu ada. Dan sekarang, melihat betapa ia mengabaikanmu, betapa ia membuatmu tidak bahagia … itu menyakitkan.” Air mata mulai menggenang di mata Zydan. Itu adalah kejujuran yang sangat tulus dan menyakitkan.
Cahaya merasakan kebekuan di hatinya mencair. Ini bukan lagi permainan. Pengakuan ini lebih dari sekadar senjata yang ia butuhkan untuk menghancurkan Satria, itu adalah tawaran kebahagiaan sejati. Di satu sisi, ada kebenciannya yang membara, di sisi lain, ada cinta yang murni dan terpendam yang ditawarkan oleh pria yang jauh lebih keren dan gagah dari suaminya.
“Zydan …” Cahaya memanggil namanya, tenggorokannya tercekat.
"Aku tahu aku tidak seharusnya mengatakan ini, tapi aku tidak bisa lagi menahan diri,” Zydan memotongnya, mendesak. Ia mengulurkan tangan dan dengan lembut menyentuh pipi Cahaya.
“Aku tidak memintamu meninggalkan Satria. Aku hanya memintamu untuk mengakui apa yang ada di antara kita. Aku akan menunggumu, selamanya. Aku akan menjagamu dengan cara yang tidak akan pernah bisa dilakukan Satria.”
Sentuhan Zydan begitu lembut, namun gairah yang terpendam di baliknya terasa membakar. Cahaya memejamkan mata, memproses kebenaran yang menakutkan. Niatnya hanya main-main, tetapi ia merasa bersalah jika memainkan perasaan pria yang tulus padanya.
Saat itulah, suara Satria terdengar dari dalam. “Cahaya?” Kepala Cahaya tersentak. Zydan dengan cepat menarik tangannya, tetapi mata mereka terkunci. Cahaya sekarang berada di persimpangan jalan. melanjutkan dendamnya, yang kini berarti menyakiti Zydan, atau menyerah pada perasaannya, yang berarti menghancurkan segala yang ia miliki.
Permainan ini sudah berubah menjadi situasi hidup atau mati emosional. Dan Cahaya tidak bisa lagi mengendalikan jalannya.