Di dalam studio yang diterangi oleh kilatan petir sesaat, Cahaya dan Zydan akhirnya melepaskan diri dari ciuman yang memabukkan. Napas mereka memburu, dan suasana di antara mereka tebal dengan gairah yang baru saja dilepaskan. Hujan di luar terus mencurahkan air, menciptakan tirai suara yang sempurna untuk menyembunyikan rahasia mereka.
Cahaya menyentuh bibirnya yang bengkak. Ini bukan lagi tentang dendam, bukan lagi tentang Satria. Itu adalah realitas yang tiba-tiba dan nyata tentang perasaannya pada Zydan.
“Aku … aku minta maaf,” bisik Cahaya, suaranya lemah. Mendengar itu Zydan menggelengkan kepalanya. Ia meraih tangan Cahaya dan mencium punggung tangannya. “Jangan minta maaf, kak Cahaya. Jangan pernah. Ini adalah hal paling jujur yang pernah terjadi di antara kita. Aku tidak pernah memaksa. Kau memilih ini. Dan aku akan mempertanggungjawabkannya.”
Kata-kata Zydan sangat dewasa dan menenangkan. Ia benar-benar berbeda dari Satria. Zydan tidak hanya lebih gagah secara fisik, ia juga lebih kuat dalam menghadapi emosi dan tanggung jawab.
“Tapi ini salah, Zydan. Kau ini adik iparku,” Cahaya mencoba mengingatkan dirinya dan Zydan tentang batas tak kasat mata yang baru saja mereka langgar.
“Cinta tidak mengenal status, kak Cahaya. Hanya mengenal hati,” jawab Zydan, memeluknya lagi. Kehangatan tubuh Zydan terasa seperti jangkar di tengah badai emosi yang dialami Cahaya.
“Kita harus bicara tentang ini, tapi tidak sekarang. Sekarang, kita hanya perlu tahu bahwa ini nyata. Perasaanmu nyata. Perasaanku nyata.” Cahaya menutup mata, menyerah pada momen itu. Rasa bersalahnya terbungkus rapi di bawah lapisan kelegaan dan gairah. Ia telah melewati batas, sekarang ia harus menerima konsekuensinya atau, lebih tepatnya, kenikmatannya.
Di saat yang sama, mobil Satria membelah jalan yang basah. Hatinya dipenuhi oleh kombinasi amarah dan rasa ngeri. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa rekannya pasti salah lihat, atau Zydan hanya datang untuk mengambil berkas.
"Tidak mungkin! Cahaya tidak akan berani merusak citra keluarga! Zydan sangat menghormati batas! Mereka tidak mungkin melakukan hal serendah itu!" gumam Satria sambil memukul setir mobilnya.
Namun, bayangan Cahaya yang elegan dan penuh dendam, ditambah sifat Zydan yang penuh gairah masa muda, melahirkan kecurigaan yang mencekik. Jika Cahaya sudah tahu tentang Fida, dia pasti akan mencari cara untuk menyakiti Satria dari tempat yang paling ia hargai yaitu keluarganya, pikir Satria.
Satria tiba di rumahnya. Ia melihat mobil Zydan terparkir di dekat studio. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena cinta yang hilang, tetapi karena harga diri yang terancam. Ia keluar dari mobil, berjalan cepat menuju studio. Ia tidak menggebrak pintu. Ia mendekat perlahan, mengintip melalui celah jendela yang sedikit terbuka.
Namun, studio itu gelap, hanya diterangi oleh lampu darurat yang redup karena petir. Ia tidak melihat apa-apa selain siluet perabotan. Cahaya telah mematikan lampu, Satria mencoba membuka pintu namun Terkunci.
“Zydan! Cahaya! Kalian di dalam? Ada masalah apa?” teriak Satria, suaranya keras dan dibuat-buat cemas. Di dalam studio, Cahaya dan Zydan tersentak. Mereka segera menjauh satu sama lain, wajah Cahaya pucat pasi.
“Itu Satria,” bisik Cahaya, panik. “Dia tidak seharusnya pulang sekarang.” ucapnya sedikit penasaran, mengapa satria pulang begitu cepat.
“Tenang. Jangan panik,” Zydan menenangkan, meskipun napasnya sendiri masih belum teratur. Ia dengan cepat menyalakan lampu studio dan mengambil beberapa blueprint desain di meja.
Cahaya segera merapikan pakaian dan rambutnya. Rasa takut yang ia rasakan kini melampaui rasa bersalah. Ketakutan bahwa hubungan ini diketahui banyak orang kini nyata, berdiri di balik pintu.
Zydan membuka pintu. Ia menghadapi Satria dengan wajah setenang mungkin, meskipun matanya dipenuhi gairah dan sedikit rasa bersalah.
"Ada apa, Mas? Kaget aku di sini?" tanya Zydan, mencoba bersikap wajar.
Satria masuk, matanya menyapu ruangan, mencari petunjuk. Ia melihat Cahaya berdiri di sudut, bersandar pada meja, wajahnya terlihat tegang, tapi itu bisa dijelaskan sebagai rasa terkejut.
“Aku cemas, Zydan. Hujan deras sekali, kupikir terjadi sesuatu dengan listrik. Dan kenapa mobilmu ada di sini?” Satria menatap Cahaya, lalu kembali ke Zydan.
“Aku dipanggil Kak Cahaya. Katanya ada masalah dengan instalasi kabel baru di studio. Aku baru saja akan pulang,” jelas Zydan, mengangkat blueprint di tangannya.
Satria memicingkan mata, menyadari ada yang berbeda. Cahaya tampak terlalu cantik, dan Zydan terlihat terlalu bersemangat.
“Baiklah kalau begitu. Kau bisa pulang sekarang. Dan Cahaya, ayo masuk. Kita harus bicara. Ada sesuatu yang ingin kuurus di studio ini.” Satria tidak melepaskan pandangannya dari mereka berdua.
Zydan mengangguk sopan. Ia menatap Cahaya sekali lagi, pandangan singkat namun penuh makna, "Aku akan menghubungi mu nanti,"
Cahaya hanya mengangguk kecil. Ia tahu ini adalah awal dari neraka yang sebenarnya. Ia telah memenangkan peperangan kecil melawan Satria, tetapi kini ia harus menghadapi perang besar dengan dirinya sendiri.
Saat Zydan pergi, dan Satria mengunci pintu studio di belakangnya, Cahaya tahu ia telah memasuki fase paling berbahaya. Perasaan dan niat balas dendam, dan Zydan yang ia gunakan sebagai senjata justru kini ia mungkin akan benar-benar mencintai Zydan, tetapi ia takut pada kehancuran yang akan menimpa seluruh keluarganya jika Satria berhasil membuktikan kecurigaannya. Ia kini berdiri di antara dua Wiangga, yang satu memujanya, yang lain ingin menghancurkannya.