“Jadi, kau akan memaafkanku?” ucapnya penuh harap dan kepuasan terlihat jelas di matanya.
Cahaya berhenti di belakang soffa dan membungkukkan tubuhnya. Ia menatap Satria, dan senyum dingin kembali tersungging di bibirnya. “Tidak juga," jawabnya. "Aku akan membuatmu membayarnya. Kau akan hidup di bawah atap yang sama denganku, memainkan peran suami yang setia di depan umum, dan setiap hari kau akan bertanya-tanya 'apakah Aya tahu? Apakah ia sudah membalas?” batinnya.
Satria mengernyitkan keningnya sedikit bingung dengan perkataan Cahaya, Ia tidak paham setelah di cerna beberapa kali. “Apa maksudmu?” Satria bertanya, suaranya terdengar takut.
“Aku hanya mengatakan, SAYANG,” jawab cahaya mengambil napas dalam-dalam, menahan gejolak di hatinya. "Aku tidak akan cerai untuk saat ini, karena ada proyek besar. Dan itu sayang banget, juga harus sibuk urus akta cerai belum lagi harta gono gini, belum lagi ekspresi terkejutnya kedua orang tua kita. Aku belum siap untuk itu," lanjutnya dengan alibi sebuah pekerjaan. Walaupun memang itu benar adanya.
“Permainan sudah berubah. Dan aku akan memimpin babak selanjutnya.” sedangkan batin cahaya berbeda. lalu Ia berbalik dan menaiki tangga menuju kamar tamu, meninggalkan Satria berdiri sendirian di ruangan yang terasa begitu besar dan kosong. Dendamnya bukan hanya tentang seksualitas, itu tentang d******i dan kehancuran harga diri.
Keesokan harinya, Anya bangun dengan tujuan baru yang jelas. Ia menatap dirinya di cermin. Ia bukan lagi wanita rapuh yang menangis di kursi pengemudi. Ia adalah seorang predator yang merencanakan mangsanya.
Mangsa itu adalah Zydan wiangga.
Zydan adalah adik ketiga Satria baru berusia 24 tahun. Secara fisik, ia adalah versi yang lebih baik dari Satria lebih tinggi, lebih ramping, dengan bahu yang lebar dan tatapan mata cokelat yang lembut. Ia memiliki hasrat dan idealisme yang telah lama terkikis dari sosok Satria.
Cahaya mengingat setiap interaksi mereka. Zydan selalu menghormatinya, menjaga jarak, tetapi matanya selalu berhenti padanya terlalu lama. Ada rasa kagum di sana, rasa yang terpendam, terikat oleh status Cahaya sebagai Kakak Ipar.
Cahaya membuka laptopnya. Ia segera mengirim pesan kepada Zydan.
Kepada: Zydan W.
Subjek: Bantuan Mendesak untuk Studio
"Zydan, maaf mengganggumu. Aku sedang mempertimbangkan perubahan drastis untuk studio desainku. Satria sedang sibuk sekali akhir-akhir ini. Bisakah kita bertemu hari ini untuk membahas beberapa ide kasar? Aku butuh mata arsitek yang segar.
Cahaya
Hanya lima menit kemudian, balasan dari Zydan masuk. Ia begitu cepat.
Dari: Zydan W.
Kak Aya, tentu saja. Aku selalu bersemangat dengan proyek barumu. Jam berapa? Aku bisa datang setelah makan siang. Pukul 14.00?
Cahaya tersenyum tipis. "Akses menuju balas dendam itu terbuka lebar." gumamnya, Cahaya pun membalasnya dengan menyetujui pertemuan jam 14.00 di rumah.
Pukul 14.00, tiba di rumah. Ia mengenakan kaus polo berwarna gelap dan celana khaki, tampak santai namun elegan. Kontrasnya dengan Satria yang selalu berbalut jas mahal dan aura tegang sangat jelas.
“Maaf mengganggumu di akhir pekan, Zydan,” kata Cahaya, ia menyambutnya di ruang tamu. Ia mengenakan celana palazzo sutra longgar dan atasan camisole berenda tipis, pakaian yang nyaman namun provokatif.
“Sama sekali tidak, Kak. Aku lebih suka berada di sini daripada di kantor,” jawab Zydan, matanya sebentar terpaku pada garis leher camisole Aya, sebelum ia dengan cepat memalingkan muka. Rasa malu yang jujur.
Aya melihat ekpresi Zydan lalu tersenyum tipis, "Sangat mudah," pikirnya dingin.
Mereka menuju studio, ruangan yang terpisah dari rumah utama. Zydan membuka lipatan gambar desainnya, dan mulai menjelaskan ide-ide struktural dengan gairah. Ia berbicara tentang cahaya, ruang, dan menciptakan suasana, bukan hanya sebuah ruangan.
Saat Zydan membungkuk di atas meja untuk menunjuk detail denah lantai, Aya mendekat dari belakang. Ia berdiri sangat dekat, sehingga ia bisa merasakan aroma cologne Zydan, aroma hutan yang segar, bukan aroma tembakau dan minyak wangi kantor milik Satria.
“Aku suka ide ini, Zydan,” bisik Aya, suaranya lebih dekat ke telinga Zydan daripada yang seharusnya. Ia mengangkat tangannya, bukan untuk menunjuk denah, melainkan untuk menyentuh sebentar lengan bawah Zydan.
Sentuhan itu singkat, tidak sengaja. Namun, Zydan langsung menegang.
“Ya, bagus,” kata Zydan, suaranya sedikit serak.
Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang aman di antara mereka. Ia mulai mengoceh tentang perhitungan beban. Cahaya tahu ia telah memicu sesuatu. Rasa bersalahnya sedikit mengganggu, tetapi pikiran akan wajah Satria yang hancur karena mengetahui adiknya sendiri telah merangkul istrinya menguatkan hatinya.
“Aku sebenarnya butuh ide tentang pencahayaan yang lebih intim,” kata cahaya, tersenyum dengan makna ganda yang hanya ia dan mungkin alam bawah sadar Zydan yang paham.
“Sesuatu yang membuat studio ini terasa seperti tempat pelarian, kau tahu?” mendengar itu Zydan mendongak. Mata mereka bertemu. Tidak ada lagi arsitek dan klien di sana, hanya seorang wanita cantik yang terluka dan seorang pria muda yang dipenuhi gairah tersembunyi.
“Aku ... aku akan membuat sketsa pencahayaan yang lebih baik, Kak Aya. Aku akan mengirimkannya padamu malam ini.” Zydan mengambil buku catatannya dengan cepat, terlihat gelisah dan gugup.
“Aku menantikannya, Zydan. Terima kasih banyak,” jawab Aya, langkah pertamanya telah berhasil.
Ia menyaksikan Zydan berjalan tergesa-gesa keluar, dan ketika pintu tertutup, Aya menyentuh tempat tangannya menyentuh lengan Zydan tadi. Senyum dinginnya melebar.
"Permainan baru saja dimulai, sayang." Ia akan menggunakan Zydan sebagai senjata, dan Satria akan menanggung seluruh kerugiannya.