“Cahaya?! Apa yang kau lakukan di sini?” matanya terbelalak sempurna.
Cahaya mundur selangkah. Ia tidak menangis, tidak berteriak. Yang keluar dari bibirnya hanyalah seringai tipis, dingin, dan mematikan.
“Selamat ulang tahun pernikahan yang ketujuh, Satria,” kata Cahaya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan, namun menusuk seperti es.
Tanpa menunggu jawaban, Cahaya membalikkan badan, berjalan keluar kamar dan menutup pintu itu dengan pelan.
Ia tidak berlari, ia tidak menoleh ke belakang. Ia berjalan kembali ke mobilnya, menahan seluruh emosi yang bergejolak di dalam dadanya.
Saat ia mencapai mobilnya, ia duduk di kursi pengemudi, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.
"Dendam! Bukan perceraian! Aku tidak akan memberinya kebebasan semudah itu. Aku akan membuatnya merasakan sakit yang sama, dilipatgandakan." batinnya dengan tatapan matanya yang tajam penuh luka dan dendam.
Cahaya melajukan mobilnya, tanpa ada bayangan Satria yang mengejarnya. Dengan dadanya yang terus bergemuruh, ia terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Ckiittt" ia menghentikan lajunya di tepi jalan yang sedikit sepi, ia menundukkan kepalanya dan menjatuhkan setir mobilnya ke tepi jalan.
"Ah, sakit." Cahaya meremas dadanya yang terasa tertusuk.
"Hahahaha ..." gelak tawa yang penuh luka ia keluarkan.
"Jangan mati dulu, dong. Sayang amat kalo sakit ini tak terbalaskan. Rugi dong sayang," gumamnya dengan menyeka air matanya.
"Dia menyakiti aku sedalam ini, enam tahun lalu sudah aku maafkan. Kini ia mengulanginya lebih parah lagi." gumamnya dengan tatapan tajam.
Saat itu pikirannya kalut, ia harus mencari ke mana dendam itu harus lebih menyakitkan dari yang ia rasakan.
Saat itu juga, di tengah malam yang sunyi, bayangan seseorang melintas di pikirannya "Zydan! Hahah ... Benar sekali, bukannya lebih indah jika aku jadikan Zydan sebagai senjataku? Justru itu pedang yang lebih tajam. Ibarat kan ... Dia adalah pedang dua sisi, lebih sempurna untuk menusukmu lebih mematikan sayang." senyumnya dingin matanya tajam melihat ke arah jalan yang sepi.
Adik iparnya yang tampan, yang mata polosnya selalu menatap cahaya dengan kekaguman yang tersembunji.
Ide itu tiba-tiba datang, mengerikan dan memabukkan. "Jika Satria berani mengambil gairah dari orang asing, aku akan mengambil gairah dari orang yang paling dekat dengannya." Api dingin dendam telah dinyalakan. Dan korbannya, ia tahu, tidak akan hanya satu orang tapi seluruh keluarga wiangga dan nama baiknya akan ikut hancur.
~~~~
Cahaya mengendarai mobil pulang dalam keadaan mati rasa. Jalanan ibu kota yang biasanya ramai terasa sunyi dan buram di mata Cahaya. Ia tidak memikirkan Satria, atau Fida, atau janji-janji palsu yang hancur. Pikirannya dipenuhi dengan kalkulasi, seperti seorang ahli strategi yang merancang serangan balik.
Pukul 02.00 dini hari, ia tiba di rumah. Lampu di garasi menyala, menandakan Satria telah tiba. Ia pasti buru-buru menyusul setelah ia pergi dari hotel. "Atau bisa jadi dia melakukannya ronde berikutnya sebelum mengejar aku tadi, hehehe ... 15 menit cukuplah untuk perpisahan," gumamnya seperti orang gila.
Cahaya memasuki rumah tersebut dengan tatapan layaknya tidak terjadi apapun dalam dirinya. Terlihat Satria berdiri di ruang tengah, pakaiannya kusut, wajahnya pucat dan tegang. Rasa takut terpancar jelas di matanya. "Cih! Lihat b******n itu?" gumamnya lirih, dengan menggelengkan kepalanya.
“Aya, dengarkan aku,” Satria memulai dengan suara gemetar, mendekati Cahaya, istrinya.
Anya mengangkat tangan, gerakan yang dingin dan tegas, menghentikan langkah Satria tepat di tempatnya. Ia menanggalkan jaket kulitnya dan melemparkannya ke sofa. Wajahnya adalah topeng yang terbuat dari porselen, tanpa emosi sedikit pun.
“Jangan mendekat, Satria,” katanya, suaranya pelan dan rendah, namun memiliki kekuatan yang jauh lebih mengancam daripada teteriakan
“Aku tidak ingin mendengar kebohongan lain dari mulutmu malam ini.” mendengar itu Satria menghela napas, putus asa.
“Itu hanya ... sebuah kesalahan. Hanya satu kali. Itu tidak berarti apa-apa, Aya. Percayalah, aku mencintaimu.” mendengar itu Cahaya tertawa. Tawa itu tidak memiliki kegembiraan, hanya ironi pahit.
Setelah beberapa detik Ia langsung menghentikan tawanya dan Ia menatap tajam ke arah Satria dengan menunjuk jari ke arahnya.
“Satu kesalahan tidak meninggalkan mawar dan Champagne di hotel, Sayang. Itu adalah sebuah perayaan. Dan omong-omong, kau lupa menyebutkan pada istrimu betapa ‘sibuknya’ kau dengan Fida selama empat bulan terakhir.” mendengar itu Satria tersentak.
Ia tahu Cahaya pasti sudah menyelidiki. Ia terdiam, kekalahannya tampak jelas.
“Aku tidak akan memohon kau sadar, cukup sudah dulu aku seperti pengemis. Memohon waktu dan cintamu, nyatanya kau ulangi lagi. Jadi sekarang terserah kau mau apa. Jika mau sudahi pernikahan ini maka aku akan menyetujui permintaanmu itu." ucap cahaya dengan santai.
"Tapi aku tidak akan meminta cerai sekaran,” lanjut Cahaya, berjalan perlahan mengelilingi ruang tengah, seolah mempertimbangkan nilai setiap perabotan di sana.
“Perceraian terlalu mudah untukmu. Itu akan membebaskanmu, dan kau bisa melanjutkan hidupmu dengan 'kesalahan' baru itu tanpa konsekuensi.” batin Cahaya, sedangkan Satria menatap cahaya dengan matanya yang penuh harap.