Retakan pada Kaca Kristal
Udara di ruang makan terasa dingin, meskipun pemanas ruangan dihidupkan pada suhu yang nyaman. Lilin-lilin beraroma vanilla mahal berjejer di atas meja mahoni, memantulkan cahaya redup ke taplak linen putih yang dibordir tangan. Malam itu adalah malam ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh angka yang katanya melambangkan krisis, dan Cahaya mulai percaya takhayul itu.
Cahaya duduk sendirian. Gaun malam silk berwarna burgundy membalut tubuhnya dengan anggun, namun ia merasa gaun itu hanyalah kostum untuk sebuah peran yang sudah lama ia lakoni Nyonya Sempurna. Piring perak di depannya berisi hidangan Wagyu dingin dan sup Truffle yang tidak tersentuh.
Pukul 21.45. Satria seharusnya sudah pulang dua jam yang lalu.
Cahaya menyalakan ponselnya, layar itu menunjukkan pesan terakhir Satria, dikirim pukul 18.00
“Sayang, maaf. Klien di Bandung minta ketemu mendadak untuk teken kontrak krusial. Aku harus check-in hotel sekarang. Pulang besok sore. Ulang tahun kita, aku janji tebus saat aku kembali. Love you soo much (emot tanda cinta dan ciuman).” isi pesan dari Satria seperti biasa, penuh kemesraan dan manja.
Cahaya menatap kata-kata itu. Kata-katanya manis, meyakinkan, profesional. Tapi ada yang salah yaitu sebuah aroma kebohongan.
Cahaya teringat kejadian enam tahun yang lalu, di mana ia merasa hancur dan menjadi wanita bodoh yang mengemis akan cinta dan ketulusan Satria.
Satria adalah manajer investasi ia selalu mengatur jadwalnya seperti Swiss watch. Kontrak krusial di hari ulang tahun pernikahan?
Ia bangkit, kakinya membawanya ke ruang kerja Satria yang steril. Aya bukanlah tipe istri yang suka menggeledah, tetapi rasa dingin di dadanya menuntut sebuah jawaban.
Ia membuka laci meja Satria, mencari dompetnya. Tentu saja tidak ada di dalam sana. Namun, di bawah tumpukan dokumen, terselip sebuah kwitansi parkir, Aya mengulurkan tangannya dan mengambilnya.
Tertulis jelas di sana "Hotel The Serenity, Jakarta Pusat. Waktu masuk 17.30." berhenti sejenak, "Bandung?" lanjutnya.
"Itu adalah kebohongan yang ceroboh, Satria sayang. Bahkan tidak perlu repot-repot membuat alibi yang meyakinkan aku," gumamnya seraya menatap lurus dengan tatapan tajam yang menusuk.
Kali ini ia sudah bertekad, karena wanita saat ini bukan lagi cahaya yang haus akan cinta, ia tidak lagi percaya kata-kata manis suaminya.
Jakarta Pusat, yang hanya berjarak satu jam dari rumah mereka. Pemicu dalam diri Aya langsung terangkat. Bukan air mata yang tumpah, melainkan gelombang panas yang membakar. Ini bukan pertama kalinya ia merasakan keraguan, tetapi ini adalah bukti tak terbantahkan.
Tujuh tahun sebuah rumah tangga yang penuh lika liku, restu orang tua, anak yang tak kunjung datang, hibahan para sanak saudara, karier yang ia bantu bangun, dan ini balasan Satria?
Tanpa membuang waktu, Aya berganti pakaian dengan jaket kulit hitam, celana jins, dan sepasang sepatu bot ankle yang praktis.
Ia mengambil kunci mobilnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan, tetapi kali ini ia harus melihatnya dengan kedua matanya sendiri. Perjalanan ke The Serenity terasa seperti terowongan waktu. Aya mengemudi dengan kecepatan tinggi, pikirannya dipenuhi dengan kilasan kenangan pahit di masa lalu. tatapan kosong Satria saat mereka berdua di ranjang, malam-malam ia tidur sendirian di kamar tamu karena Satria "harus bekerja larut," dan senyum palsunya di depan keluarga besar mereka menunjukkan suami idaman dan soleh.
"Heh, sungguh miris!" gumamnya dengan senyum dinginnya. Ia merasa bodoh dengan dirinya yang selalu menjadi istri yang baik dan taat.
Setelah beberapa menit, hampir satu jam ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, sampailah ia di sebuah lobi mewah The Serenity, Ia menatap lorong itu, jantung Aya berdetak keras sampai terdengar jelas di telinganya. Ia menuju meja resepsionis, berpura-pura tenang.
“Saya mencari suami saya, Satria wiangga. Kami ada sedikit salah komunikasi, ia seharusnya menginap di sini malam ini.” ucap Cahaya dengan lemah lembut dan menunjukkan senyuman yang manis.
Resepsionis itu tersenyum sopan. “Tuan Satria Wiangga, check-in di kamar nomor 1205. Apakah Anda ingin saya menghubunginya?”
Aya menggeleng cepat. “Tidak, tidak perlu. Saya ingin memberinya kejutan. Bisakah Anda memberi saya kunci duplikat? Ia sering lupa kuncinya.” mendengar itu para resepsionis sedikit bingung, resepsionis itu saling tatap ke salah satunya.
"Ah, apakah ada masalah?" tanya Cahaya melihat ekspresi kedua wanita itu. Ia mencoba meyakinkan kedua resepsionis. "Masalahnya hari ini kami merayakan hari jadi pernikahan yang ke tujuh, tapi tadi saya ada sedikit kendala." ucap Cahaya dengan wajah santai dan meyakinan dua resepsionis itu.
Setelah sedikit bujukan dan menunjukkan kartu identitas, Aya mendapatkan kartu akses itu. Di lift, ia melihat bayangannya di cermin perunggu. Wajahnya pucat, tetapi matanya bersinar dengan resolusi yang menakutkan. Ia tidak lagi peduli dengan pernikahannya ia hanya ingin menghadapi kenyataan, cukup sudah menjadi istri yang bodoh.
Koridor lantai 12 sunyi, diterangi lampu chandelier kristal. Langkahnya perlahan mendekati pintu 1205. Ia menggesek kartu akses itu. Lampu hijau menyala, dan ia mendorong pintu itu hingga terbuka.
"Ahh, geli! Kamu ini nakal," suara perempuan yang tak asing di telinga Cahaya menusuk ke telinganya hingga ke dalam ulu hati.
Cahaya melangkahkan kakinya pelan, ia sedikit mengendap-endap agar tak di ketahui keberadaannya. Pemandangan itu menusuknya lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Fida berada di atas pangkuan sang suami, "ahhh, sayang ... goyanganmu masih sama seperti dulu ..." ucap Satria dengan suara yang berat.
Walaupun sudah pernah ia rasakan sakit hati, tapi melihat secara langsung membuat ia lemas tak berdaya. Walaupun ia sudah bertekad namun nyatanya hatinya dan pikirannya tidak mampu menampung semua rasa kecewa dan sakit itu.
Ia terduduk lemas dengan berusaha menutupi mulutnya agar tak bersuara, isak tangisnya tak mampu menutupi suara desahan mereka yang heroik.
"Ahhhh ..." lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya. Namun itu belum seberapa, mereka melanjutkan aktifkan itu setelah beristirahat sejenak.
"Kamu ini, ahhh ..."
"Aku belum cebok, masa langsung ..." ucapannya terputus tak kala Satria langsung menyambar bibir wanita itu dengan bibirnya.
Suara kecupan dan desahan menghiasi ruangan tersebut. Cahaya mengepalkan tangannya, ia bertekad dan kembali bberdiri kembali, ia mengambil ponselnya dan merekam aksi heroik mereka di atas ranjang hingga selsai. Berbagai macam gaya bahkan gaya yang belum pernah cahaya rasakan.
Kamar yang remang-remang, dihiasi dengan mawar dan sisa Champagne. Dan di tempat tidur king size, di bawah selimut sutra yang berantakan, Satria tertawa riang. Di sampingnya, seorang wanita muda, sekretaris barunya yang bernama Fida yang ia ingat pernah disindir Satria karena mengenakan rok terlalu pendek.
Satria tidak melihat Aya. Ia terlalu sibuk mencium dahi Fida.
“Aku sudah bilang, aku akan urus istriku besok. Dia tidak akan curiga. Dia selalu sibuk dengan desainnya,” bisik Satria, suaranya terdengar bahagia dan santai suara yang sudah lama tidak didengar Aya.
Cahaya berdiri membeku di ambang pintu. Ia melihat mereka dalam diam selama hampir satu jam penuh. Cukup untuk merekam setiap detail, kebahagiaan sejati Satria, keintiman mereka yang jujur, dan pengkhianatan yang utuh.
"Ya sudah, aku membersihkan diri dulu." ucap wanita itu seraya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, namun ia sedikit tersenyum nakal seperti menyadari keberadaan Cahaya.
"Atau kita mau mandi bareng?" tanya wanita itu di depan pintu kamar mandi, namun sebelum Satria beranjak wanita itu segera menutup pintunya.
Satria tersenyum bahagia karena kejahilan wanita selingkuhannya itu, lalu Satria menoleh. Senyumnya langsung lenyap, digantikan oleh kengerian yang murni.