Seharian Kinanti menghabiskan waktu di kamar. Ia duduk di ujung ranjang, punggungnya tegak, berusaha meyakinkan diri jika nanti akan terjawab Zayn kemana.
Tiba-tiba ponsel di tangannya menyala—satu nama terpampang jelas di layar.
Ayah. Itu Mardana. Ayahnya.
Ia mengusap ujung jarinya yang terasa dingin, lalu menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tersisa. Setelah beberapa detik, ia mengangkat panggilan itu.
“Assalamualaikum, Ayah…” suaranya lembut, dipaksa ringan.
“Waalaikumsalam, Nak.” Suara itu hangat, menenangkan—terlalu menenangkan untuk keadaan hatinya saat ini. “Ayah cuma mau dengar kabarmu. Kamu baik-baik saja, kan?”
Kinanti tersenyum.
“Alhamdulillah, Kinan baik, Yah,” jawabnya pelan. “Di sini… semuanya baik. Keluarga Zayn juga baik sekali.”
Kata-kata itu mengalir tanpa hambatan, seolah sudah ia latih berkali-kali. Padahal setiap hurufnya terasa seperti menggores luka yang belum sempat sembuh.
Di seberang sana, Mardana mengangguk puas, meski tak terlihat. “Syukurlah. Ayah tenang dengarnya. Kalau Zayn? Dia memperlakukanmu dengan baik, kan?”
Pertanyaan itu membuat waktu seperti berhenti sejenak.
Jantung Kinanti berdetak lebih keras.
“Iya, Yah…” jawabnya akhirnya, nyaris berbisik. “Zayn baik.”
Ia menelan ludah dan ia berpikir jika ayahnya tak perlu tahu jika sebenarnya Zayn menghilang setelah resepsi usai.
“Bagus.” Nada suara Mardana penuh keyakinan. “Ayah memang percaya dia laki-laki yang tepat buat kamu.”
Kalimat itu tidak menghancurkan seketika, tapi cukup untuk membuatnya sesak.
Kinanti memejamkan mata.
“Ayah bangga sama kamu,” lanjut Mardana. “Kamu sudah jadi istri sekarang. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa cerita ke Ayah.”
“Iya, Yah…” Suaranya melemah tanpa ia sadari. “Doakan Kinanti.”
“Selalu, Nak.”
Panggilan itu berakhir.
Dan dunia yang tadi ia tahan akhirnya runtuh.
Ponsel di tangannya perlahan turun. Begitu layar menggelap, senyum yang sejak tadi ia paksa langsung hilang—seolah tak pernah ada.
Tangannya naik menutup wajah. Bahunya bergetar kecil.
Tangisnya jatuh tanpa suara.
Ia tidak menangis keras. Tidak ada isakan yang terdengar. Hanya air mata yang terus mengalir, seperti luka yang tak lagi bisa dibendung.
Ia telah berbohong.
Bukan karena ingin menipu, tapi karena tak punya keberanian untuk mengatakan bahwa di hari pertamanya sebagai istri, ia ditinggalkan.
Dan di tempat lain, seorang ayah tersenyum lega, percaya bahwa putrinya bahagia—tanpa tahu bahwa anaknya sedang belajar menahan hancur sendirian.
Satu jam kemudian.
Ruang makan kembali hidup oleh cahaya lampu kristal yang hangat. Meja panjang telah terisi berbagai hidangan, aroma masakan memenuhi udara.
Kinanti duduk di kursinya.
Setiap kali pintu terbuka karena pelayan keluar masuk, matanya refleks terangkat—cepat, penuh harap. Berharap jika yang datang adalah Zayn. Tapi ternyata bukan.
Nana memperhatikannya diam-diam, tatapannya lembut tapi sarat rasa iba. Zayden duduk tak jauh, tubuhnya kaku, seolah setiap gerakan harus ia pikirkan terlebih dahulu. Davin di ujung meja, wajahnya serius seperti biasa.
Percakapan yang terjadi hanya seperlunya. Kata-kata yang tidak benar-benar ingin diucapkan.
“Masakannya enak, Bu,” ujar Kinanti akhirnya, mencoba mengisi ruang kosong itu.
Nana tersenyum tipis. “Kalau kamu suka, Ibu senang.”
Lalu hening kembali mengambil alih.
Sendok di tangan Kinanti bergerak pelan. Ia makan, tapi tanpa rasa. Pikirannya sibuk menghitung waktu dan kemungkinan.
Kinanti berkata dalam hati, “apa Zayn menghilang untuk memberiku kejutan?”
Kinanti berpikir seperti itu. Ia berpikir postif hingga saat makan malam itu ia merasa menikmati hidangan makan malam yang memang lezat. Dan makan malam selesai tanpa kehadiran yang Kinanti tunggu.
Saat pelayan mulai membereskan meja, suara Davin memecah sunyi.
“Kinanti.”
Ia mendongak.
“Mulai besok, kamu ikut Ayah ke kantor.”
Kinanti sedikit terkejut. “Ke kantor?”
Davin mengangguk tenang. “Kamu mulai bekerja di perusahaan Ayah.”
Nana dan Zayden saling berpandangan sekilas, sama-sama tak menyangka, tapi tak ada yang menentang.
“Anggap saja supaya kamu ada kegiatan, bukankah kamu ingin bekerja di perusahaan keluarga kami? Ini saatnya.
Kinanti diam sejenak, lalu mengangguk. “Baik, Ayah.”
Ada sedikit rasa lega, kecil, rapuh. Setidaknya ia punya sesuatu untuk dipegang besok.
Meski ia tahu—kesibukan tidak akan pernah benar-benar menggantikan pikirannya tentang Zayn yang entah kemana. .
Zayden menatapnya diam-diam.
Selesai makan malam semua kembali ke kamar masing-masing.
Di lantai dua Zayden berdiri di depan sebuah pintu.
Pintu yang seharusnya tak asing baginya.
Pintu yang kini terasa seperti batas yang tak boleh ia lewati.
Tangannya sempat terangkat lalu berhenti di udara.
Ia tidak mengetuk.
Hanya berdiri. Diam. Dengan d**a yang terasa semakin berat.
Wajah Kinanti di meja makan terlintas jelas—tenang, sopan tapi kosong. Setiap harapan kecil yang muncul di matanya saat pintu terbuka, dan bagaimana harapan itu padam detik berikutnya.
Zayden melihat semuanya.
Dan itu menyakitkan.
“Dia istriku.” Pikiran itu datang tanpa izin, membuat nafasnya tercekat.
“Sah.” Namun terasa seperti bukan miliknya.
“Aku bahkan tidak punya hak…” gumamnya lirih. “Untuk sekedar menenangkan.”
Tangannya mengepal.
Ia ingin mengetuk. Ingin mengatakan bahwa Kinanti tidak sendirian. Bahwa ada seseorang yang bertanggung jawab atasnya.
Namun satu kebenaran menahannya.
Jika ia melangkah terlalu jauh semuanya akan runtuh.
Zayden menutup mata sejenak, lalu mundur.
“Maaf…”
Ia tak tahu untuk siapa.
Untuk Kinanti. Atau untuk dirinya sendiri. Ia berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya berat, seolah setiap pijakan menahan sesuatu yang ingin kembali.
Di balik pintu itu, mungkin ada seseorang yang sedang menangis dalam diam. Dan ia—yang seharusnya menjadi tempat pulang—
hanya bisa menjaga jarak.
Malam itu, Zayden memahami satu hal yang paling menyakitkan. Menjadi suami tanpa bisa bersikap sebagai suami adalah hukuman yang harus ia jalani, tanpa pernah ia pilih. Dan entah sampai kapan.
Di tempat lain di sebuah Apartemen. Apartemen itu dipenuhi cahaya lampu malam yang lembut.
Numa duduk santai di lantai, melipat pakaian belanjaan dengan ekspresi ringan. Sesekali ia tersenyum kecil, seperti seseorang yang sedang menikmati hidup tanpa beban.
Berbeda dengan Zayn.
Ia berdiri di balkon, memandang ke luar yang gelap. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi tak mampu menenangkan pikirannya.
Ia menyalakan ponsel.
Kosong.
Tak ada pesan. Tak ada panggilan.
Keningnya berkerut.
Hanya diam.
“Kamu dari tadi melamun terus,” suara Numa memecah pikirannya. “Capek ya?”
Zayn mematikan layar. “Sedikit.”
Numa bangkit, mendekat, lalu memeluk lengannya dengan santai. Kepalanya bersandar di bahu Zayn.
“Kamu aman di sini,” katanya lembut. “Kita mulai dari nol.”
Kata nol itu terasa aneh di telinga Zayn.
Seolah semua yang ia tinggalkan bisa dihapus begitu saja.
Tangannya terangkat, ragu, lalu membalas pelukan itu. Bukan karena yakin, tapi karena ia juga tidak ingin merasa sendirian.
“Aku cuma belum terbiasa,” ucapnya pelan.
“Nanti juga terbiasa,” jawab Numa ringan. “Kita punya waktu.”
Zayn memalingkan wajah.
Ia tahu waktu justru akan menjadi musuhnya.
Ia menjauh, duduk di tepi ranjang. Numa ikut duduk di sampingnya.
“Kamu yakin ini nggak bakal jadi masalah?” tanya Numa tiba-tiba.
Zayn menegang. “Maksudnya?”
“Orang tua kamu,” jawabnya santai. “Mereka nggak keberatan kamu di sini?”