Nana berdiri lebih lama dari yang seharusnya di ambang ruang keluarga. Waktu seolah melambat di matanya.
Pandangan itu bolak-balik—dari Kinanti yang meringkuk di sofa panjang, tubuhnya kecil di bawah cahaya lampu redup, ke Zayden di sofa seberang, tertidur dalam posisi duduk dengan kepala sedikit tertunduk.
Ia menarik napas dalam, menahannya sejenak, seolah mencoba menelan semua kekacauan yang sedang ia saksikan.
Langkahnya pelan, hati-hati, seakan takut suara kecil saja bisa membangunkan anak dan menantunya. Ia meraih selimut tipis dari sandaran kursi, lalu mendekat ke Kinanti.
Dengan gerakan lembut, ia menyelimutinya hingga ke bahu.
Kinanti bergerak sedikit. Alisnya berkerut, bibirnya menggumam pelan—seperti seseorang yang sedang berusaha lari dari mimpi yang tidak nyaman. Tapi ia tidak bangun.
Nana menahan nafasnya sejenak lalu menghembuskannya perlahan.
Matanya beralih ke putranya.
Piyama hitam cukup untuk menjadi bukti yang tak terbantahkan. Bukan Zayn. Itu Zayden.
Ia berjongkok di sisi sofa, menatap wajah anaknya. Ada bayangan gelap di bawah mata itu. Bukan sekadar kurang tidur—ini wajah seseorang yang kelelahan karena menyimpan sesuatu terlalu lama, terlalu dalam.
“Terima kasih sudah mau menggantikan posisi kakakmu, Nak…” bisiknya, suaranya hampir pecah.
Tangannya terangkat, nyaris ingin menyentuh pipi anaknya, tapi berhenti di udara. Ia takut—takut sentuhan itu justru membangunkannya.
Langkah kaki pelan terdengar dan Nana menoleh cepat.
Davin. Itu suaminya.
Refleks, ia mengangkat jari ke bibir, memberi isyarat pada suaminya untuk diam. Davin berhenti. Pandangannya mengikuti arah Nana, lalu membeku.
Ia mendekat, berdiri di samping Nana. Matanya bergantian menatap Kinanti lalu Zayden.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
“Jadi mereka tidur di sini semalaman?” tanyanya akhirnya, suara rendah, berat.
“Sepertinya Kinanti tidak bisa tidur,” jawab Nana pelan. “Dan Zayden menemaninya.”
“Aku yang memintanya menggantikan Zayn,” katanya, nyaris seperti pengakuan dosa. “Aku yang menyeret anak kita ke posisi ini,” bisik Davin.
Nana menggenggam tangan Davin. Erat.
“Dan aku tidak menghentikanmu,” balas Nana lirih. “Kita sama-sama memilih ini.”
Bukan saling menyalahkan. Tapi juga bukan pembenaran.
Tiba-tiba Zayden bergerak. Kelopak matanya berkedip, lalu terbuka. Pandangannya masih kabur sesaat sebelum akhirnya fokus—dan langsung menemukan kedua orang tuanya berdiri di sana.
Ia tersentak.
“Ayah… Ibu…” suaranya serak, kering. Ia buru-buru duduk tegak. “Maaf. Aku—”
“Pelan-pelan,” potong Nana cepat, matanya melirik Kinanti.
Zayden langsung menoleh.
Wajahnya melunak sekejap saat melihat Kinanti masih tertidur lalu kembali tegang.
“Kinanti cuma minta ditemani. Kami cuma nonton.”
Seolah ia sedang membela diri padahal belum ada yang menuduh. Davin mengangguk pelan.
“Ayah tahu.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Zayden semakin menunduk.
“Aku akan jaga jarak,” ucapnya pelan, tapi tegas. “Aku janji.”
Nana berjongkok di hadapannya. Tatapannya lembut—terlalu lembut untuk situasi seberat ini.
“Ibu percaya kamu,” katanya. Lalu, suaranya berubah sedikit lebih dalam. “Tapi ingat Kinanti belum tahu apa pun.”
Zayden menelan ludah.
Satu jam kemudian.
Ruang makan kediaman mewah Nana dan Davin terasa tegang.
Meja panjang berlapis marmer itu dipenuhi hidangan—sup bening hangat yang masih mengepul, telur, roti panggang, buah segar. Semuanya sempurna.
Kecuali selera makan.
Kinanti duduk tegak, sendok di tangannya bergerak pelan. Setiap beberapa detik, matanya melirik ke kursi di sampingnya.
Kursi yang seharusnya menjadi tempat Zayn. Kosong.
Ia menunduk. Menyendok sup.
“Kenapa setelah menikah dia justru menghilang?” batin Kinanti.
Pertanyaan itu berulang, berputar, tak menemukan jawaban.
Di seberang meja, Nana tersenyum tipis—senyum yang dipaksakan. Davin membuka koran, tapi halaman itu tak pernah benar-benar dibaca. Zayden duduk berhadapan dengan Kinanti, bahunya kaku, jaraknya terasa seperti jurang.
Tak ada suara.
Hanya denting sendok yang sesekali menyentuh mangkuk.
Sendok Kinanti berhenti di udara. Ia ingin bertanya. Sangat ingin. Tentang Zayn.
“Ini hari pertamaku sebagai istri,” batinnya lirih. “Aku tidak ingin terlihat, menuntut di depan mertuaku. Walau sebenarnya aku sangat ingin bertanya kemana sebenarnya Zayn.”
Ia menelan pertanyaan itu bersama suapan sup yang terasa hambar.
“Kinan, makan yang cukup,” suara Nana akhirnya memecah keheningan.
Kinanti mengangguk cepat. “Iya, Bu.”
Padahal ia hampir tidak merasakan apa pun.
Zayden menatap piringnya. Nafasnya terasa berat. Setiap detik di meja itu seperti hukuman.
Davin akhirnya menutup korannya. Tatapannya bergeser—ke Zayden, lalu ke Kinanti.
Ada perang di sana. Tapi ia memilih diam. Selalu diam. Tak ada penjelasan.
Tak ada nama Zayn yang diucapkan.
Kinanti berdiri lebih dulu.
“Aku sudah kenyang,” katanya pelan.
Padahal masih ada sisa makanan dipiringnya.
Nana tersenyum tipis. “Kalau begitu, istirahatlah. Kamu pasti masih lelah karena acara kemarin.”
Kinanti mengangguk, lalu pergi.
Langkahnya pelan tapi terasa berat, seolah setiap langkah menyeret sesuatu yang tak terlihat.
Begitu ia menghilang, Zayden mengepalkan tangannya di bawah meja. Menahan gejolak di dadanya. Ia merasa kasihan pada Kinanti, sahabatnya sekaligus istrinya. Tapi ia tak bisa berbuat apapun. Mardana, ayah Kinanti menginginkan Zayn yang menjadi menantunya.
Davin menghela nafas panjang. Nana menutup mata sejenak.
Pintu kamar Zayn tertutup perlahan.
Suara kecil itu terasa seperti garis batas.
Kinanti berdiri di dalam kamar itu. Kamar Zayn.
Kamar yang Kinanti yakini seharusnya menjadi milik mereka berdua.
Namun yang ia rasakan hanya dingin.
Tirai setengah terbuka. Cahaya pagi masuk samar, menyentuh ranjang besar—rapi di satu sisi, berantakan di sisi lain.
Seperti dua kehidupan yang belum sempat bertemu.
Kinanti berjalan pelan, lalu duduk di tepi ranjang. Matanya menyapu setiap sudut.
“Kenapa semuanya diam…” gumamnya pelan.
Sarapan tadi terlintas di pikirannya.
Sikap Nana yang terlalu hati-hati.
Davin yang terlalu diam.
Zayden yang terlihat menjaga jarak.
Semuanya terasa salah.
“Apa mereka sengaja tidak membicarakan Zayn di depanku?”
Pikiran Kinanti mulai berlari.
Tangannya mengepal di atas sprei.
“Jangan-jangan…” suaranya bergetar.
“Zayn menyesal menikah denganku.”
Dadanya langsung sesak. Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam.
“Dan dia pergi begitu saja.” Kalimat itu terasa seperti pisau.
Ia berdiri. Mondar-mandir kecil. Napasnya mulai tidak teratur.
“Kalau begitu…” bisiknya, hampir tak terdengar, “sekarang aku ini apa?”
Langkahnya berhenti di depan cermin.
Refleksi dirinya menatap balik.
Asing.
“Janda?”