Zayn tersenyum tipis.
“Tidak.”
Satu kebohongan lagi.
Numa tampak puas. Ia langsung berbaring dan menarik selimut. “Tidur yuk. Aku capek.”
Lampu dimatikan. Gelap memenuhi ruangan.
Tak lama, nafas Numa teratur—ia sudah terlelap.
Namun Zayn tetap terjaga.
Matanya menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat.
Di tempat itu, ia bersama seseorang yang ia pilih.
Hanya cahaya kota yang menyelinap dari balik tirai tipis.
Numa sudah terlelap di ranjang, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang hidup sendirian.
Zayn berdiri di depan jendela. Kota di bawah sana berkilau, indah sekaligus dingin.
“Apa aku salah?”
Bayangan Kinanti muncul begitu saja—wajah pucatnya, matanya yang penuh harap di hari pernikahannya dengan dirinya.
Rahang Zayn mengeras.
“Aku meninggalkannya di hari pernikahan kami.”
Dadanya sesak. Namun pandangannya beralih ke arah kamar.
“Numa sendirian,” bisiknya dalam hati. “Dia tak punya siapa-siapa.”
Alasan itu terasa cukup meski ia tahu itu hanya pelarian. Pelarian dari perjodohan yang Mardana sangat inginkan. Kinanti memang tidak Zayn cintai tapi ia merasa kasihan sekarang pada Kinanti.
“Kinanti akan baik-baik saja,” gumamnya, lalu menggeleng pelan.
Ia terdiam lagi. Tak yakin dengan apa yang diucapkan.
“Ayah…” desahnya lirih. “Kalau beliau tahu—”
Bayangan hidup yang sudah tersusun rapi tiba-tiba terasa jauh. Semua menjadi kabur. Zayn ingat jika perusahaan keluarga mungkin nanti dibawah kendalinya. Tapi sekarang ia merasa tak yakin itu benar-benar akan terjadi.
Zayn menatap dompet di tangannya. Kartu-kartu itu berkilau—simbol kemudahan yang ia punya.
“Aku harus berhenti menggunakan ini semua? ”
Zayn tetap berdiri di sana, terjebak di antara pilihan dan akibatnya.
Pagi datang dengan cahaya lembut di kediaman mewah Nana dan Davin.
Kinanti berdiri di depan cermin. Rok span dan atasan sederhana membingkai dirinya dengan anggun.
Ia tersenyum tipis. “Aku sudah siap bekerja.”
Begitu keluar kamar, ia berpapasan dengan Zayden.
“Hai, Zay.”
Langkah Zayden terhenti.
Untuk sesaat, ia hanya menatap. Terlalu lama.
“H-halo, Kinan,” Ia menelan ludah. Ia sungguh terpesona dengan penampilan Kinanti. Tapi ia merasa orang lain tak boleh melihat Kinanti pakai rok seperti itu.
“Bisa… pakai celana saja?” pinta Zayden.
Kinanti mengerjap. “Aku tidak cocok pakai rok?”
“Bukan.” Zayden menggeleng cepat.
Lalu kalimat itu terlepas begitu saja—
“Aku tidak mau kamu terlihat terlalu cantik di mata orang lain.”
Hening.
Pipi Kinanti memerah. Senyum kecil tak bisa ia tahan.
“Oh…”
Zayden langsung mengalihkan pandangan. “Maksudku… demi kenyamanan.”
Kinanti mengangguk, masih dengan senyum yang tersisa. “Baik.”
Ia kembali ke kamar, langkahnya terasa lebih ringan.
Sementara Zayden berdiri kaku di lorong, mengusap wajahnya.
“Memalukan,” batinnya.
Di ruang makan, formasi di meja makan itu hanya ada Zayden, Kinanti, Nana dan Davin.
Kinanti sudah berganti celana. Tetap sederhana, tetap anggun.
Zayden menatap sekilas. Ada rasa hangat yang muncul tanpa izin.
“Dia mendengarkanku.”
Sarapan berlangsung ringan. Pujian, anggukan, percakapan biasa—namun di sela itu, Kinanti diam-diam mencuri pandang.
Zayden pura-pura tak sadar.
Padahal dadanya tidak setenang itu.
Setelah Nana dan Davin pergi, tersisa mereka berdua.
Sunyi tapi tidak sepenuhnya canggung.
“Terima kasih,” ucap Kinanti pelan. “Aku jadi lebih percaya diri.”
Zayden hanya mengangguk singkat. “Kita berangkat.”
Kinanti tersenyum kecil, lalu mengikutinya.
Mobil melaju tanpa suara berarti.
Zayden fokus ke jalan. Tangannya mantap di setir, wajahnya tenang—terlalu tenang.
Di sampingnya, Kinanti duduk tegak, menatap keluar jendela.
Tak ada percakapan.
Hanya dua pikiran yang berjalan berlawanan arah.
“Jangan sampai ada yang terlalu dekat dengannya di kantor,” batin Zayden, rahangnya menegang.
Sementara itu, Kinanti menggenggam tasnya lebih erat.
“Semoga aku punya teman…” doanya lirih dalam hati.
Mobil terus melaju—membawa dua orang dengan keinginan yang saling bertolak belakang.
Di tempat lain pagi terasa sunyi di apartemen yang kini menjadi tempat tinggal Zayn setelah pergi dari rumah mewah orang tuanya.
Zayn menatap kopinya, lalu mengangkat suara, “Aku mau keluar hari ini.”
Numa menatapnya. “Ke mana?”
“Cari kerja.” Jawabannya singkat, tapi tegas.
Hening sejenak.
Lalu Numa tersenyum kecil. “Aku juga mulai kerja hari ini. Di restoran.”
Kinanti menatap ke atas—kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya pagi. Dadanya berdebar.
Ia turun mengikuti Zayden.
Langkah mereka memasuki lobi terasa berat bagi Kinanti, ringan bagi Zayden.
“Kalau kamu masuk ke ruangan ayah, aku ke mana?” bisiknya pelan.
“Kamu ikut aku,” jawab Zayden tanpa ragu.
Lift membawa mereka naik.
Di depan pintu besar bertuliskan nama Davin, ayah mertuanya dan nafas Kinanti tertahan sejenak.
Setibanya di dalam ruangan.
“Duduk.” Suara Davin tegas dan terdengar sangat formal.
Tatapannya singgah lebih lama pada Kinanti—menilai, tanpa banyak bicara.
“Mulai hari ini kamu bekerja di sini. Divisi administrasi ya.”
“Baik, Pak,” jawab Kinanti, berusaha tenang dan menjawab formal.
Davin beralih ke Zayden.
“Kamu bertanggung jawab. Tidak ada perlakuan khusus di sini. Tidak semua karyawan di sini tahu jika kamu menantu saya.”
“Aku mengerti.”
Kalimatnya singkat. Tapi tegas.
Saat mereka berdiri untuk keluar, Kinanti melirik sekilas ke arah Davin.
Ada sesuatu yang terasa disembunyikan ayah mertuanya itu. Dan entah kenapa, itu membuat dadanya semakin sesak.
Zayden mengantar Kinanti ke ruangan administrasi tanpa banyak mengobrol.
Ruang administrasi ramai dan Zayden mengenalkan Kinanti sebagai pegawai baru.
“Ini Kinanti. Karyawan baru.”
Suara Zayden menarik perhatian.
Kinanti melangkah maju sedikit.
“Mohon bantuannya,” ucapnya lembut.
Senyum-senyum menyambut.
Zayden menunjuk satu meja. “Itu tempatmu.”
Kinanti mengangguk.
Sebelum pergi, Zayden menatapnya sekilas.
“Kerja yang baik.”
“Terima kasih.”
Zayden pergi.
Dan untuk pertama kalinya, Kinanti benar-benar sendirian di tempat itu.
Ia duduk perlahan, menatap meja barunya.
“Aku harus cari tahu Zayn sebenarnya kemana dan kenapa dia pergi.” Bisiknya.