Malam semakin larut.
Jam di dinding kamar berdetak pelan, menunjuk angka sebelas. Suaranya terasa jauh lebih keras di tengah keheningan yang menyesakkan.
Kinanti duduk di tepi ranjang besar itu, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Sesekali ia melirik ke arah pintu.
Masih tertutup.
Tidak ada suara langkah. Tidak ada tanda-tanda seseorang akan masuk.
Ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Aneh,” bisiknya pelan.
Ini malam pertama mereka.
Seharusnya tidak seperti ini.
Meski ia tidak mencintai Zayn, tetap saja situasi ini terasa janggal. Bahkan sedikit menakutkan.
Rumah ini terlalu besar. Terlalu sunyi.
Dan ia sendirian.
Kinanti memeluk dirinya sendiri, berusaha mengusir rasa dingin yang entah datang dari mana. Ia mencoba berbaring, memejamkan mata.
Namun tidak bisa.
Pikirannya berisik.
Hatinya gelisah.
Akhirnya, dengan napas tertahan, ia bangkit dari tempat tidur.
“Mungkin,” gumamnya ragu.
Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Koridor lantai dua itu remang. Lampu-lampu redup menciptakan bayangan panjang di dinding.
Kinanti berjalan pelan, langkahnya hati-hati.
Ia berhenti di depan sebuah pintu.
Kamar Zayden.
Tangannya terangkat, lalu mengetuk pelan.
“Zayden…?” panggilnya lirih. “Apa kamu masih bangun? Aku tidak bisa tidur.”
Hening.
Tidak ada jawaban.
Kinanti menggigit bibir bawahnya, ragu. Namun ia belum ingin kembali ke kamar itu.
Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras.
Tetap tidak ada suara.
Kinanti menghela nafas pelan.
“Ah… mungkin sudah tidur,” gumamnya.
Ia pun berbalik, bersiap kembali ke kamar.
Namun—
Pintu di belakangnya terbuka.
Kinanti refleks menoleh.
Zayden berdiri di sana, mengenakan Piagam berwarna hitam, rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan saat melihat sosok di depannya.
“Kinanti?” suaranya rendah.
Kinanti menatapnya beberapa detik, lalu sedikit canggung.
“Maaf aku ganggu,” ucapnya pelan. “Zayn belum datang ke kamar.”
Zayden membeku.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
“Aku tidak bisa tidur,” lanjut Kinanti, suaranya semakin kecil. “Rumah ini sepi sekali.”
Ia menatap Zayden, ragu, lalu berkata pelan—
“Bisakah kamu menemaniku?”
Zayden benar-benar terdiam.
Permintaan itu terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, tapi juga terlalu sulit untuk ia tolak.
Melihat ekspresi Zayden, Kinanti buru-buru menambahkan, sedikit salah tingkah—
“Em maksudku, temani aku nonton di ruang keluarga.”
Zayden mengembuskan napas pelan, ada kelegaan yang samar di matanya.
“Ya… tentu,” jawabnya akhirnya.
Ruang keluarga terasa hangat dibandingkan kamar yang dingin tadi.
Lampu temaram, sofa empuk, dan televisi besar di depan.
Kinanti langsung mengambil remote, lalu memilih sebuah drama Korea romantis. Layar menyala, menghadirkan suasana yang sedikit mengusir sepi.
Ia duduk di salah satu sofa.
Sementara Zayden memilih duduk di sofa lain, menjaga jarak.
Beberapa saat, hanya suara dialog drama yang terdengar.
Namun pikiran Kinanti tidak benar-benar ada di sana.
Ia melirik Zayden sekilas.
“Zayden,” panggilnya pelan.
Zayden menoleh. “Ya?”
Kinanti menatap layar, tapi suaranya terdengar serius.
“Apa kamu tidak melihat Zayn?”
Zayden terdiam.
“Kalian kembar, kan?” lanjut Kinanti.
“Seharusnya… kalian punya ikatan batin yang kuat.”
Ia menelan ludah, lalu berkata lebih pelan—
“Atau… Zayn meninggalkanku setelah pernikahan?”
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.
Zayden tidak langsung menjawab.
Tangannya mengepal pelan di atas pahanya.
“Kenapa diam?” tanya Kinanti, kini menoleh langsung padanya.
Zayden menarik napas panjang.
“Maaf, Kinan…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah. “Aku juga tidak tahu Zayn ke mana.”
Kinanti terdiam.
Tatapannya kembali ke layar, tapi pikirannya semakin jauh.
Sementara di sisi lain, Zayden hanya bisa menatap lurus ke depan—
Menyimpan kebenaran yang terasa semakin berat di dadanya.
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan.
Suara dari televisi tetap mengalun—dialog romantis, musik lembut, tawa para tokohnya—namun tak satu pun benar-benar masuk ke dalam benak mereka.
Kinanti dan Zayden sama-sama menatap layar.
Namun pikiran mereka jauh dari sana.
Kinanti memeluk bantal kecil di pangkuannya, matanya sesekali berkedip, tapi fokusnya kosong. Adegan di layar hanya lewat begitu saja tanpa arti.
“Zayn ke mana?”
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Ia mencoba mengingat kembali hari ini. Tidak ada yang aneh. Semua berjalan lancar. Zayn juga tidak menunjukkan penolakan apapun sebelumnya.
“Apa dia terpaksa menikahiku? Dan kini meninggalkanku?”
Hatinya terasa sedikit nyeri memikirkan kemungkinan itu.
Kinanti menggigit bibirnya pelan, menahan perasaan tak nyaman yang semakin menguat.
Di sisi lain, Zayden duduk dengan tubuh tegak, kedua tangannya saling menggenggam erat. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya berantakan.
“Harus sampai kapan aku diam?”
Ia melirik sekilas ke arah Kinanti.
Kinanti itu terlihat tenang tapi ia tahu, itu hanya di permukaan.
Zayden menelan ludah.
Kebenaran itu terasa seperti bom waktu.
Semakin lama disimpan, semakin menyakitkan saat meledak.
“Tapi bagaimana cara bilangnya?”
Bahwa pria yang menikahinya bukan Zayn.
Bahwa sejak tadi, sejak akad yang berada di sisinya adalah dirinya.
Bukan kakaknya.
Zayden menghela napas panjang, pelan, berusaha tidak menarik perhatian.
Ia ingin jujur.
Sangat ingin.
Tapi melihat Kinanti duduk di sana, dengan wajah lelah dan pikiran yang jelas sedang kacau.
Ia tidak punya keberanian.
Episode drama itu berganti tanpa mereka sadari.
Kinanti akhirnya bersandar di sofa, matanya mulai terasa berat, tapi pikirannya masih enggan berhenti.
“Zayden,” panggilnya pelan lagi, hampir seperti gumaman.
“Ya?” jawab Zayden cepat.
Namun Kinanti tidak langsung melanjutkan. Ia hanya menatap layar beberapa detik, lalu berkata lirih—
“Kalau Zayn tidak datang malam ini, apa itu aneh?”
Zayden terdiam.
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau yang menekan dadanya.
“Iya…” jawabnya pelan, jujur.
Kinanti mengangguk kecil, seolah menguatkan sesuatu dalam dirinya.
“Hm… aku juga merasa begitu.”
Hening kembali turun.
Kali ini lebih dalam.
Lebih berat.
Zayden menutup matanya sejenak.
“Maaf, Kinan…” Kalimat itu hanya berani ia ucapkan dalam hati.
Sementara di sampingnya, Kinanti tetap menatap layar— mencari jawaban yang tidak akan ia temukan malam itu.
Dalam malam itu Kinanti dan Zayden tidur bersama.
Hingga akhirnya...