Seperti biasanya, kehangatan keluarga kecil terasa menenangkan di saat pria itu telah berganti peran.
Di ruangan utama kedua orangtua Zhenia saling berpelukan. Sembari menyaksikan film kesukaan Nyonya utama di rumah itu.
"Hahahahh..."
"Hhahhh..."
Tawa keduanya jelas terlihat berbeda. Mama Anin tertawa karena benar-benar menyukai adegan yang baru ia saksikan. Sedangkan Ayah Toni tertawa karena istrinya juga tertawa.
"Sayang kenapa tawamu terdengar aneh? Kamu tidak menyukai film ini?" Mama Anin menatap suaminya.
"Siapa bilang aku tidak menyukainya. Semua yang istriku suka, aku juga menyukainya." Ayah Toni memberikan sautan dengan senyuman sumringah di wajahnya.
Kecupan manja di berikan di kening istrinya. "Jangan hanya memperhatikanku saja. Perhatikan filmnya."
Pukulan lembut penuh kasih sayang di layangkan tepat di d**a suaminya. "Kamu selalu saja membuatku malu."
Alfie yang masih termenung menatap kearah ruang tamu. Masih tidak sadar. Kemeriahan kecil itu telah mengisi ruang sepi dalam hatinya.
"Mama, Ayah."
"Zhenia sudah pulang." Mama Anin bangkit dari sofa. Di ikuti suaminya. "Mama sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Hanya tinggal menunggu kamu pulang."
Wanita paruh baya itu menarik lembut tangan putrinya. "Kita makan malam bersama."
Dalam hidup Alfie kalimat, 'Kita makan malam bersama.' Seperti mustahil bagi dirinya. Dan dia tidak pernah berharap akan mendengar kalimat itu dengan begitu santai, tenang dan hangat.
"Em." Alfie hanya memberikan anggukan.
Mereka bertiga makan malam bersama. Setelah selesai, Alfie baru mengungkapkan niatnya. "Ma, Yah. Aku ingin tinggal di luar. Aku harap kalian tidak akan keberatan dengan pilihanku."
Mama Anin diam untuk beberapa saat. Begitu juga Ayah Toni.
Melihat itu hati Alfie terasa terganggu. Ada ganjalan yang sulit ia ungkapkan.
Hela napas pelan terdengar. "Kamu ingin kembali tinggal di apartemen pernikahan?"
Jawaban itu membuat alis Alfie hampir menyatu. "Apartemen pernikahan?"
"Iya. Sebelum kamu kecelakaan. Bukankah kamu sudah membeli apartemen untuk kamu tempati setelah menikah. Apa kamu lupa?" Kata Mama Anin.
"Iya, aku akan tinggal di sana." Alfie menjawab mengikuti alur yang ada.
"Zhenia, lebih baik kamu putus dengannya. Pria yang tidak memiliki pendirian dan tidak peduli saat pacarannya sendiri koma. Putus saja." Wajah Ayah Toni terlihat marah.
"Mama juga tidak pernah menyangka jika Argun akan setega itu. Pergi tanpa kabar sedikit pun." Mama Anin meraih tangan putrinya. "Mama hanya ingin kamu bahagia. Namun jika kamu menemukan pria yang salah. Mama tentu tidak akan bisa menerimanya."
"Zhenia mengerti."
~~~
Keesokan paginya, Alfie benar-benar pergi dari rumah keluarga Zhenia. Dia kembali ke rumahnya yang saat ini di tempati wanita yang jiwanya berada di tubuhnya.
Baru saja sampai, Sekertaris Dian segera pergi keluar rumah untuk menyambut kedatangan Bos aslinya.
"Bosss... Aku sangat merindukanmu." Dia berlari ingin memeluk wanita di depannya. Tapi langsung berhenti di saat tatapan mematikan itu terarah kepada dirinya. "Aku mengerti."
"Di mana dia?" Kata Alfie.
"Di kamar," ujar Sekertaris Dian dengan suara menekan.
Perasaan Alfie langsung tidak enak setelah melihat gelagat aneh dari Sekertarisnya.
Pria itu segera pergi menuju kamar utamanya yang ada di lantai dua.
Cekllakk...
Ganggang pintu di tarik.
Saat terbuka. Wajah Alfie menjadi abu-abu. Kamar utamanya telah berubah warna menjadi kamar yang penuh warna. Seprai berwarna hijau dengan motif dedaunan mungkin masih dapat ia terima. Tapi tempok kamarnya sudah menjadi kanvas untuk pelatihan anak TK.
Gambar-gambar hewan yang bahkan dia sendiri tidak tahu hewan-hewan apa yang ada di sana. Seperti wajah berbentuk kucing dengan tubuh anjing dan telinga kelinci.
"Zheniaaaa..." Tangannya meremas ganggang pintu.
Zhenia yang ada di ujung ruangan terlihat duduk santai di lantai. "Apa?" Dia menolah dengan wajah penuh coretan pewarna. "Kamu sudah pulang."
Wanita itu bangkit dengan santainya. Tangan yang tengah memegang kuas ia gunakan melambai. Sehingga cat warna ikut menyiprat keselaga tempat.
"Apa yang kau lakukan!?" Gertakan gigit terdengar saling bersinggungan. Alfie menekan amarah dalam dirinya. Yang sudah siap melahap wanita di depannya.
"Membuat karya." Zhenia menunjukkan hasil karya yang sangat ia banggakan. "Bagaimana?" Wajahnya tersenyum tanpa rasa bersalah.
Dia berjalan santai mendekati Alfie. Ia tarik lembut tangan yang masih mengepal kuat. "Jangan terlalu kaku. Ini hanya pewarna yang bisa di hapus. Rumahmu terlalu suram. Aku ingin memberikan sedikit warna."
Setelah Alfie sedikit memberikan penerimaan. Zhenia mengajaknya duduk bersama di lantai.
Namun Alfie justru mengambil bantal agar dia bisa duduk dengan nyaman tanpa perlu takut kotor.
"Tuan muda, kurang seru jika masih menggunakan alas untuk duduk. Lagi pula lantai ini sudah cukup bersih. Bahkan kau bisa meletakkan makanan di bawahnya," ujar Zhenia menggoda.
Dia menarik bantal yang ada di p****t Alfie. Karena tubuh mereka sudah berganti. Dan kini Zhenia berada di tubuh laki-laki. Tentu kekuatannya jauh lebih besar ketimbang Alfie.
Tidak perlu perlawanan sengit Zhenia sudah bisa merebut bantal milik Alfie. "Duduk." Menatap dengan serius.
Alfie hanya bisa mengikuti keinginan wanita di depannya. Dia sudah cukup malas memberikan perlawanan yang sia-sia.
"Pakai ini." Zhenia memberikan kuas baru. "Kita mulai berkarya."
Dia mulai melukis bentuk yang ada di pikirannya. Meski abstrak.
Sedangkan Alfie yang awalnya terus memberikan penolakan. Perlahan-lahan ikut menikmati keseruan itu.
Sekertaris Dian juga tidak ingin ketinggalan bagian.
Waktu seakan berjalan dengan cepat. Mereka bertiga mencoret setiap celah dinding yang ada di ruangan kamar utama. Hingga lukisan-lukisan berbeda dari ketiga tangan berbeda. Benar-benar memberikan warna yang cukup indah.
"Wahhh... Menyenangkan, sangat menyenangkan." Zhenia merebahkan tubuhnya di lantai. Lantai dingin seperti pendingin alami untuk tubuhnya. Sangat menyegarkan.
Alfie berbaring menatap kearah hasil karya mereka bertiga. Terlihat jelas ruangan yang sangat dingin, monoton, menyesakkan dan penuh kesunyian. Berubah menjadi tempat yang terlihat lebih hangat juga hidup.
Perlahan-lahan kedua pandangan matanya teralihkan menuju Zhenia. Wanita yang masuk kedalam hidupnya tanpa di sengaja. Namun telah memberikan warna berbeda. Yang awalnya hanya hitam, putih dan abu-abu. Menjadi berbagai warna yang saling menyatu.
Wajah kakunya juga mulai belajar perubahan ekspresi. Sekarang, senyuman tipis telah menjadi bagian baru dari wajah kaku dan dinginnya.
"Alfie, taman kecil di belakang rumah terlihat tidak terawat. Bagaimana jika besok kita tanami beberapa tanaman bunga dan sayuran?" Zhenia mengalihkan pandangannya kearah Alfie.
Tepat di saat itu juga, pandangan keduanya bertemu.
Keheningan terasa untuk beberapa detik.
"Aku tidak bermaksud menghancurkan kebiasaanmu. Hanya saja aku terlalu bosan. Jika tidak ada pergerakan yang berbeda. Aku bisa mati sampai bosan," ujar Zhenia.
"Baik."
Jawaban Alfie yang langsung mengiyakan tanpa penolakan. Membuat Zhenia semakin senang.