Halaman belakang.
Zhenia duduk di kursi kecil. Keringat di keningnya bercucuran tanpa henti. Berkebun di taman kecil di belakang vila utama. Terasa menyenangkan dan membuat pikiran lebih jernih.
"Bagaimana?" Menatap dengan senyuman kearah Alfie.
"Cukup memuaskan. Bisa melatih kesabaran dan ketenangan." Alfie baru saja keluar dari rumah melalui pintu belakang. Di kedua tangannya terdapat dua botol air minum. Satu botol untuk dirinya dan satunya lagi untuk Zhenia.
"Besok aku sudah harus bekerja." Membuka tutup botol. Menenggak beberapa kali sebelum melanjutkan perkataannya. "Jangan pernah mematikan panggilan telepon." Zhenia menggoyangkan ponselnya.
Sebagai tanda jika hanya dengan begitu Alfie bisa menjadi dirinya. Dan dia bisa memantau dengan tenang.
Alfie memutar matanya. "Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri."
Zhenia menatap dengan kerutan jelas di keningnya. "Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu."
Sekertaris Dian datang membawa panggilan telepon dari kantor. "Bos." Memberikannya kepada Alfie.
Tapi Alfie hanya diam menatap tajam.
"Oh..." Sekertaris Dian mengalihkan ponsel ke arah Zhenia.
Wanita yang saat ini jiwanya berada di tubuh bosnya.
Zhenia menekan tombol pengeras suara. "Katakan." Suaranya terdengar dingin.
Seseorang dalam sambungan telepon dengar panik :
"Direktur utama, pengelolaan keuangan perusahaan tengah mengalami penurunan yang cukup tajam. Artis utama yang telah bersedia bekerja sama dengan perusahaan kita. Saat ini tengah di terpa isu perselingkuhan. Publik terus menyerang dalam kolom komentar. Dan terus merambah ke pemberian reting buruk pada prodak yang kita jual."
Zhenia menatap Alfie.
Alfie melirik Sekertaris Dian.
Sekertaris Dian segara berlari mengambil buku dan bulpen. "Bos."
Alfie menuliskan semua yang ingin ia katakan.
Sedangkan Zhenia sebagai perantara yang menyampaikan tulisan itu. "Putus semua kontrak yang berhubungan dengannya. Tulis pernyataan resmi di akun resmi perusahaan jika kita tidak ada lagi hubungannya dengan sang artis."
"Besok aku akan datang untuk rapat pembahasan pengalihan kontrak."
"Baik kami mengerti." Ujar orang dalam sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon terputus. Zhenia menatap dengan wajah memelas. "Apa aku besok benar-benar harus pergi?"
"Em."
"Kalau begitu temani aku," kata Zhenia.
"Bukankah kamu bilang besok. Kamu sudah mulai kerja," saut Alfie.
"Aku hanya pekerja kantoran biasa. Tidak mungkin bisa mengatasi para eksekutif yang ada di kantor besarmu itu." Zhenia memelas.
"Ada Dian. Dia akan menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh kamu kerjakan. Ikuti saja pengaturannya. Semua akan baik-baik saja." Alfie bangkit dari tempat duduknya. Dia kembali ke ruangan kerjanya. Mengenakan semua dokumen resmi kantor.
Zhenia datang membawa beberapa camilan. "Aku juga tidak ingin membebaniku. Bantu aku."
Hela napas keluar dengan pelan. "Benar juga. Jangan sampai orang luar menyadari keanehan kita." Alfie menarik kursi lain berada di sampingnya. "Kesini. Akan aku jelaskan beberapa hal."
"Baik."
Zhenia duduk dengan tenang di samping Alfie. Dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Tidak ada yang tertinggal.
Namun perlahan fokus wanita itu teralihkan. 'Dia terlihat dingin, keras. Tapi semua itu hanya ia ungkapkan di luar. Sedangkan hatinya!"
"Apa yang kamu lihat?" Alfie menyadarinya.
"Tidak ada." Zhenia mengelak.
"Fokus." Tegas Alfie.
"Em."
Seharian penuh mereka berdua berdiskusi cukup lama di dalam ruangan kerja. Sekertaris Dian bahkan tidak berani mengganggu.
Di jam delapan malam.
"Aaaaa.mmm..." Zhenia merenggangkan tubuhnya. "Aku mengerti." Menyandarkan tubuhnya di kursi.
Ia pejamkan matanya sebentar. Mencoba membuat pikirannya lebih santai.
Alfie menatap wajah yang terlihat lelah. Tapi hatinya menolak dengan keras. Untuk memberikan rasa kasihan. Karena setiap melihat Zhenia. Dia harus melihat wajahnya sendiri.
Seketika rasa bersalah dan rasa kasihan berganti dengan kekesalan.
'Kapan tubuhku bisa menjadi milikku lagi.'
Alfie bangkit. "Aku akan mandi."
"Oh." Zhenia ikut berdiri. Tanpa sadar kakinya mengikuti langkah pria itu.
Hingga, Alfie berhenti.
Tubuh Zhenia yang masih belum sadar. Seketika menubruk tubuh Alfie. "Ah."
Alfie melirik dengan tajam. "Kamu ingin ikut aku mandi!" Senyumannya terlihat menyeramkan.
"Tidak. Tentu tidak. Syaraf-syaraf di tubuhmu yang masih memiliki kesadaran mengikuti kemana tuannya ingin pergi," ujar Zhenia. Mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Drakkk...
Pintu kamar mandi di tutup rapat.
"Huhhff..." Hela napas lega keluar dengan cukup leluasa. 'Apa yang aku pikirkan. Dasar bodoh.' Memukul kepalanya cukup kuat. "Ahhhiisss..."
Dia mencium bau di tubuhnya. "Aku juga harus mandi." Berlari keluar menuju ruangan kamar lain.
Di sana, Zhenia membersihkan tubuhnya dan beristirahat dengan cukup nyaman.
~~~
Pagi harinya,
Zhenia berangkat ke kantor utama milik keluarga besar Anan.
Sedangkan Alfie berangkat sebagai karyawan biasa di kantor kecil.
Dengan mobil bermerek terkenal berwarna hitam. Zhenia duduk tenang sembari mengatur ekspresi yang harus ia tunjukkan saat menghadapi semua eksekutif perusahaan.
Mobil sampai tempat di depan lobby perusahaan.
Saat mengetahui Direktur utama turun dari mobil. Semua orang langsung bergegas menyambutnya.
Zhenia berjalan lebih dulu dengan wajah terangkat. Ekspresinya datar, dingin dan penuh aura mematikan.
Sepanjang perjalanan menuju lantai teratas. Di mana ruangan kantor utamanya berada. Semua bawahannya memberikan laporan tanpa berhenti.
Setelah sampai satu kata yang Zhenia ucapkan. "Aku tahu. Berikan semua laporan kepada Dian. Aku akan segera menanganinya."
"Baik." Semua bawahan satu persatu pergi dari ruangan itu.
Ruangan besar dengan pendingin ruangan bekerja dengan baik. Zhenia langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi kerja.
"Ahhh... sangat melelahkan." Semua ekspresi kaku itu hilang dari wajahnya. "Mereka terus menyerbu. Bahkan tidak memberikan aku ruang untuk bernapas."
Melepaskan ikata dasi di lehernya. Satu kancing ia lepaskan untuk memberikan ruang di dadanya.
"Nona Zhenia, sepuluh menit lagi kita akan mengikuti rapat direksi." Sekertaris Dian menyiapkan dokumen yang di perlukan.
Zhenia bangkit. Dia menarik napas beberapa kali. "Baik, aku sudah siap." Membenarkan kembali kerah baju dan dasi.
Hari itu di kantor terbesar yang ada di ibu kota. Zhenia tidak memiliki waktu sekedar keluar untuk buang air kecil.
Dia seperti robot yang di program untuk kesetabilan perusahaan.
Di sisi lain.
Alfie justru duduk santai menikmati secangkir kopi panas. Semua pekerjaan yang di berikan atasannya telah selesai dengan cepat.
Seorang pekerja wanita mendekat. "Zhenia, kamu terlihat berbeda hari ini."
Alfie hanya melirik sebentar tanpa ekspresi.
"Aku sudah dengar masalahmu dengan calon suamimu. Pria bodoh sepertinya tidak seharusnya kamu pertahankan. Kamu berhak mendapatkan yang juah lebih baik dan hebat." Lili Menepuk pundak Zhenia dua kali.
"Em."
Jawaban singkat itu memutus percakapan di antara keduanya.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa?" Lili mengulurkan tangannya ingin menyentuh kening Zhenia.
Tapi tangan Zhenia secepat kilat menepisnya.
Lili cukup terkejut dengan sikap dingin Zhenia.
"Ah, aku hanya merasa kurang nyaman. Tolong jaga sikapmu itu," ujar Alfie.
Lili kembali ke tempatnya lagi. "Apa kepalanya juga ikut terluka saat kecelakaan!? Sikapnya menjadi sangat berbeda."
Untung saja Lili bukanlah wanita yang mudah tersinggung. Sehingga ucapan ketus dari Alfie hanya ia anggap sebagai penolakan biasa.