"Dia sangat tampan."
"Dia tampan sekali."
Pandangan para wanita yang ada di sepanjang jalan membuat Zhenia semakin memperlihatkan pesonanya. Jas hitam yang ia pakai langsung di lepas. Kemeja putih yang ia kenakan cukup ketat. Membuat d**a bidang Alfie keluar tanpa perlawanan.
Sekertaris Dian berbisik pelan. "Nona Zhenia, jika Tuan mengetahui hal ini. Dia pasti akan marah hilang hampir gila."
Bibir samping Zhenia menungging. "Itu yang aku inginkan. Dian, kau foto aku dari belakang. Keluarkan seluruh pesona Tuanmu. Lalu kirim foto itu kepadanya." Senyuman cengil terlihat di wajah tampannya. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah marahnya yang seperti bubuk cabai. Pasti akan sangat memuaskan."
Wajah cengil Zhenia membuat Sekertaris Dian merinding. Selama bekerja dengan Bosnya. Dia tentu tahu pria dingin, kaku dan memiliki obsesi akan kebersihan itu. Sangat benci dengan yang namanya sentuhan seorang wanita.
Terkadang ia bahkan berpikir jika Bosnya menyukai seorang pria.
"Kenapa diam saja," ujar Zhenia.
Sekertaris Dian memberikan anggukan. "Oh, mm..." Menuruti keinginan bos barunya. Sekalipun jiwa wanita itu bersemayam di tubuh Tuannya. Tetap saja, tubuh yang ia tempati adalah tubuh orang yang ia hormati.
Dia mengabadikan momen di mana Alfie berdiri di jalur pejalan kaki. Dengan tubuh atletisnya dan wajah tampan juga jam tangan mahal yang ia kenakan. Semakin menarik minat para wanita yang juga melewati jalur itu.
Tatapan kagum para wanita itu membuat Zhenia semakin bersemangat.
~~~
Triingg...
Satu pesan masuk di ponsel Alfie.
Matanya terbelalak setelah melihat isi pesan. Foto dirinya berdiri dengan pose menggoda.
"Apa yang dia lakukan dengan tubuhku." Gertakan gigi terdengar cukup kuat.
"Zhenia, kau ingin mati." Ponsel di tangannya di remas dengan kuat.
Bangkit dari tempat duduk.
"Dia sengaja menarik perhatian rubah-rubah licik."
(Sebutan untuk wanita yang hanya menyukai tampilan dan kemewahan yang di miliki para pria.)
Alfie menatap ke arah cermin yang ada di ujung ruangan kamar. Bibirnya menyungging dengan senyuman licik.
~~~
Setelah satu jam berlalu. Alfie datang ke tempat Zhenia dan asisten pribadinya berada. Saat keluar dari taksi semua perhatian langsung tertuju kearahnya.
Beberapa wanita menatapnya dengan sinis. Bahkan senyuman aneh juga terlihat sangat jelas mengitari di sekelilingnya.
Talk...
Tellkakk...
High heels setinggi lima belas senti di kenakan dengan rok mini melebihi lutut. Gaun berwarna merah menyala dengan lengan terbuka. Sangatlah mengoda.
Melihat kehebohan para pelanggan. Membuat Zhenia yang tengah di sibukkan dengan hidangan dan minuman kesukaannya. Langsung mengalihkan pandangannya.
Bruuurrrssss...
Beberapa tegukan jus jeruk tanpa gula yang baru saja mengaliri tenggorokan Zhenia. Langsung menyembur keluar tanpa perlawanan. "Dia sudah gila."
"Ada apa?" Sekertaris Dian melihat kearah yang sama.
Trreengg
"Aaagrhhh..." Garpu di tangan Sekertaris Dian jatuh. Tubuhnya mematung. Mulutnya tidak bisa menutup karena saking syoknya.
Dia tidak pernah menyangka Bosnya akan melakukan perlawanan yang sengit.
Saat Alfie duduk kedua matanya seperti bilah pisau yang siap menyayat habis bawahannya.
Rasa dingin langsung menjalar dari kaki menuju kelapa. Sekertaris Dian memutar wajahnya. Tapi dia tidak bisa. "Bos, aku bersumpah hanya mengikuti keinginan Bos. Tidak. Ahz, aku salah. Tidak akan mengulanginya lagi."
Brkakk...
Gebrakan meja terdengar kuat.
"Alfie cepat ganti."
Semua mata tertuju padanya. "Maaf, maaf." Zhenia melihat ke sekelilingnya. Memohon maaf kepada para pelanggan yang telah terganggu.
Dia bangkit. Kedua tangannya menjadi penumpu di meja saat tubuhnya ia majukan. "Riasan yang kau buat benar-benar seperti badut. Alfie, kau hebat." Kedua matanya menajam.
"Hemh." Mendengus. Alfie mendekat. "Aku juga bisa melakukan semua kebodohan yang kau lakukan." Tersenyum puas. "Tubuhmu saat ini ada dalam kendaliku."
Zhenia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan kesal. Riasan tebal dengan lipstik merah menyala. Rambut panjang tergerai bebas namun tidak menutupi pundak terlanjangnya.
Membuat dadanya seperti terbakar.
Dia lepaskan jas hitam yang ia kenakan. Lalu berjalan mendekat kearah Alfie. Dengan wajah kesal Zhenia memaksa Alfie untuk mengenakan jasnya.
"Hapus makeup buruk itu dari wajahku."
"Makeup ini cukup bagus. Semua orang sangat menyukainya," ujar Alfie.
'Rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku.' Rasa malu menekan wajah Zhenia.
"Kita pulang."
"Tunggu." Alfie bangkit. Dia menggandeng tangan Zhenia. Langsung menariknya keluar dari restoran.
Sekertaris Dian berjalan lebih cepat sambil sedikit berlari. "Aku akan menggambil mobil."
Setelah menunggu beberapa menit. Mobil telah sampai tepat di hadapan mereka.
Di dalam mobil yang melaju. Genggaman tangan Alfie di lepas. "Kembali ke rumah."
"Bos, kerumah siapa?"
Tatapan tajam yang terlihat di kaca kecil yang ada di bagian depan. Membuat Sekertaris Dian mengerti. Dia memberikan anggukan paham.
Sesampainya mereka di kediaman pribadi Alfie.
Zhenia berdiri diam di luar pintu masuk. "Aku tidak mau tinggal denganmu."
Alfie melirik kearah wanita yang cukup keras kepala. "Kau yakin tidak ingin tinggal berdua denganku."
'Jika aku tidak tinggal berdua. Entah apa yang akan ia lakukan pada tubuhku.' Gejolak di hatinya terus memberikan penolakan. Tapi dia tentu tidak ingin tubuhnya di pergunakan seenaknya.
"Sudahlah. Lagi pula ini hanya sementara." Zhenia masuk kedalam rumah dengan malas. "Tunggu." Berlari mengejar Alfie yang tengah menaiki tangga. "Kau sudah bilang ke mama dan Ayah jika kau akan tinggal di luar?"
"Belum."
"Mereka pasti akan sangat khawatir. Tidak bisa, kau harus menghubungi mereka. Jika kau akan tinggal di luar mulai hari ini." Zhenia berhenti. "Tidak. Kau harus pulang lebih dulu meminta izin secara langsung."
Alfie hanya diam. Dia masuk kedalam kamar utamanya. Menutupnya dan menguncinya dari dalam.
Dooorr...
Pintu di ketuk dari luar cukup kencang.
"Alfie, kau tidak bisa pergi tanpa pemberitahuan."
"Mereka bisa khawatir setengah mati mengetahui putrinya tidak pulang. Jika sampai tidak memberikan kabar."
"Alfie..." Berteriak kuat.
"Huhhdfff..." Menarik napas dalam. "Sabar. Sabar."
"Aku akan mendengarkanmu. Tidak akan lagi melakukan hal yang kau benci." Suara Zhenia melembut.
Sekertaris Dian yang masih mencoba menguping dari tangga. Sampai merinding mendengarkan suara bosnya yang terdengar sangat lembut. Ia segera pergi. Tidak ingin mendapatkan masalah lagi.
Kali ini Zhenia hanya bisa mengalah.
"Alfie, aku mohon. Aku akan mengikuti keinginanmu, aku janji."
Celkk...
Pintu kamar di buka.
Alfie keluar dari kamar dengan wajah dingin. "Selama kau mengikuti semua yang aku katakan. Aku akan bekerjasama denganmu."
"Baik bos."
Zhenia menunduk. "Maaf, beberapa waktu ini banyak hal yang telah terjadi. Sehingga aku hanya ingin mencoba menghibur diriku." Melirik sebentar kearah wajah Alfie. "Menggodamu terasa jauh lebih menyenangkan."
"Ceahh..." Saat Alfie berdecak dengan kening yang kusut.
Zhenia langsung menciut. "Aku tahu salah."
"Untuk kali ini saja," tegas Alfie.
"Baik."
Setelah perundingan yang panjang. Akhirnya Alfie mengikuti keinginan Zhenia. Dia harus pulang kerumah wanita itu lebih dulu untuk meminta izin kepada kedua orangtuanya. Agar bisa tinggal di luar.