Setelah perawatan di rumah sakit selesai. Zhenia kembali ke sebuah kediaman megah dengan warna yang sangat suram. Hanya ada dua warna penghias kediaman itu. Yaitu warna abu-abu dan coklat.
"Ah..." Zhenia duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya. Kedua matanya seperti alat pendeteksi. "Tempat ini terlalu gelap. Tapi juga tenang. Meski ada kesan suram."
Sekertaris Dian yang masih belum bisa terbiasa dengan tingkah Bosnya. Hanya bisa diam sembari memperhatikan. "Tubuh gagah, tegap dan atletis itu menjadi terlihat lebih feminim. Tidak..." Menggelengkan kepalanya. "Bagaimana pun juga itu tubuh Bos besar. Harus tetap menghormatinya." Gumamnya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Ujar Zhenia dengan kedua kakinya merapat tanpa jarak. "Aku bukan seseorang dengan mulut besar. Tidak akan mengatakan isi pikiranmu kepada bos besarmu. Kau bisa lebih santai saat bersamaku." Bangkit. "Aku juga masih harus membiasakan diriku."
"Bos, Nona." Kata Sekertaris Dian yang langsung membungkam mulutnya.
"Saat tidak ada orang kamu bisa memanggilku Zhenia. Saat ada orang lain kamu bisa memanggilku seperti kamu memanggil pemilik tubuh ini." Zhenia berjalan menuju setiap ruangan yang ada di rumah besar itu. "Delapan kamar. Dia sangat kaya. Tapi kenapa rumah ini sangat sepi juga kosong?"
"Hanya Bos saja yang tinggal di sini. Dan saya hanya akan tidur di rumah ini jika ada kerjaan. Para pelayan dan pembantu datang dari jam tujuh pagi hingga dua belas siang. Setelah itu mereka akan pulang. Tidak ada satupun dari mereka yang di izinkan menginap." Jelas Sekertaris Dian.
"Orang kaya memang terkadang agak aneh. Lebih suka ketenangan juga suasana yang sunyi," kata Zhenia.
Setelah lelah mengelilingi kediaman besar yang sangat sunyi itu. Zhenia memilih untuk beristirahat di ruangan kamar. Kamar utama yang ada di lantai tiga. "Kau bisa pergi. Jika aku butuh sesuatu. Aku akan memanggilmu."
"Baik." Sekertaris Dian melangkah pergi turun menuju lantai bawah.
Tinggg...
Satu pesan masuk.
Alfie : "Jangan menyentuh barangku tanpa seizin dariku?"
Zhenia berbaring di atas tempat tidur dengan sangat nyaman. Lalu dia mengambil beberapa foto dari sudut berbeda. Senyuman jahil terlihat di wajahnya. Dia mengirimkan semua foto itu dengan pesan :
Zhenia : "Sayangnya, aku sudah menyentuh semuanya. Kenapa? Apa ada rahasia yang kau sembunyikan di rumahmu?"
Sebaliknya, Alfie yang ada di kediaman wanita itu harus berusaha keras memulai kehidupan berbeda. Sejak kecil dia telah hidup dalam ketenangan tanpa perhatian kedua orangtuanya. Karena mereka sibuk bekerja. Saat usianya baru lima belas tahun dia harus kehilangan ibunya karena sebuah tragedi. Kurang dari satu tahun setelah ibunya meninggal. Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat membenci kehadirannya.
Kehidupan keluarga yang tidak pernah ia bayangan. Kini harus ia jalani.
Di dalam ruangan kamar yang di penuhi warna, boneka, rak-rak buku cerita, perhiasan, dan makeup. Alfie menatap pasrah. Dia berdiri di balkon kamar menatap ke arah luar. "Dia wanita yang lancang."
Kembali mengirim pesan.
Alfie : "Jangan macam-macam dengan tubuhku. Atau aku akan berbuat yang lebih dari yang kamu lakukan."
Membaca pesan itu Zhenia terlihat geram.
Zhenia : "Tuan, apa semua hal harus lewat ancaman. Tolong jadilah orang yang normal." (Memutar matanya, membuang ponsel di tempat tidur.)
Alfie tidak lagi membalas pesan. Karena Mama Anin datang membawa buah-buahan segar. Yang baru saja di kupas dan di potong kecil-kecil.
"Kenapa diam di sana? Kamu masih membutuhkan istirahat. Jangan sampai masuk angin." Mama Anin menarik lembut tangan putrinya. Setelah Zhenia duduk di kursi kecil berada di depan meja rias. Wanita itu memberikan piring berisi buah-buahan yang telah ia potong. "Habiskan. Jangan sampai ada sisa." Duduk di ujung tempat tidur sembari memperhatikan putrinya.
Alfie cukup kagok karena Mama Anin terus memperhatikan dirinya dengan senyuman di wajahnya. "Tan... Ma, aku akan menghabiskannya. Mama bisa pergi."
"Kenapa meminta Mama pergi?" Wajah Mama Anin berubah sedih. "Apa kamu tidak nyaman jika Mama ada di sini?"
Melihat itu Alfie menjadi tidak tega. "Tidak. Mama bisa tetap di sini." Dia hanya bisa menahan rasa tidak nyaman itu. Tidak selang lama Ayah Toni datang membawa segelas ramuan berwarna hijau pekat.
"Sayang, kamu juga harus meminum ramuan yang Ayah siapkan. Ayah jamin kamu akan segera sembuh dan bisa berlarian lagi dengan ceria." Ayah Toni meletakan gelas itu di meja.
"Menghabiskan ramuan ini?" Kata Alfie menelan ludah pahit di tenggorokannya.
Kedua orangtua Zhenia mengangguk.
Dengan keterpaksaan yang terus menekan batinnya. Alfie berkata, "Baunya sangat menyengat. Ayah yakin aku akan sembuh setelah meminumnya?"
"Jangan hanya mencium baunya. Tapi khasiat yang ada di dalamnya. Ayah akan menunggu." Ayah Toni duduk di samping istrinya.
Alfie langsung menelan setiap tetes ramuan hijau itu. "Emmm..." Menutup mulutnya. Ramuan itu terasa sangat pahit, sepat, getir dan amis. Saat dia akan menelannya. Ramuan itu justru berhenti di tenggorokan. 'Telan.' Dia berusaha sekuat tenaga menelan ramuan yang mengerikan itu. Setelah berhasil menelannya. Ia bernapas lega.
"Putriku, ayah tidak akan berlama di sini. Masih ada banyak pekerjaan yang harus Ayah selesaikan." Ayah Toni pergi terlebih dulu dari kamar dengan membawa gelas bekas ramuan.
"Ibu juga harus keluar. Kau harus istirahat yang cukup." Mama Anin pergi dengan wajah bahagia. Melihat putrinya telah sembuh sepenuhnya.
Alfie bangkit dari tempat duduknya berlari sekuat tenaga masuk kedalam kamar mandi. "Uakkkkk..." Semua cairan di perutnya terasa keluar tanpa sisa. "Uaakkkk..."
Sedangkan Zhenia justru bersantai menikmati waktunya. Dia duduk di kursi kerja dengan membaca salah satu novel online dengan tema perjalanan waktu.
Tingg...
Satu pesan masuk.
Alfie : "Besok aku akan datang. Kita harus mencari cara agar bisa segera bertukar tubuh. Aku tidak lagi mau minum ramuan mengerikan dari Ayahmu."
Zhenia : "Kau meminumnya?" (Tertawa puas.)
Alfie : "Wajah memelas kedua orangtuamu membuatku tidak bisa menolaknya."
Zhenia : "Sebenarnya juga bukan ramuan mematikan. Hanya pare dan beberapa sayuran lainnya di jadikan satu. Memang rasanya cukup membuat mual. Tapi itu menyehatkan." (Menelan ludah kecut di tenggorokannya saat membayangkan minuman buatkan Ayahnya.)
Meletakkan ponsel di meja. Kembali melanjutkan bacaannya.
Selang beberapa menit Sekertaris Dian datang. "Nona Zhenia, sudah waktunya makan malam."
"Akhirnya." Zhenia bangkit dengan semangat. Dia berjalan turun dari ruangan kamar menuju ruang makan yang ada di lantai bawah.
Tapi saat sampai dia hanya melihat sayuran hijau tanpa lauk. "Kau yakin ini makanan untukku bukan untuk kambing?" Zhenia berkata dengan suara menekan.
Sekertaris Dian melangkah mundur. "Aku hanya mengikuti perintah. Dan semua makanan ini yang selalu menjadi menu utama Bos."
"Tidak bisa. Aku sudah hampir gila karena perubahan jiwa ini. Aku tidak ingin lagi menderita." Zhenia membuka semua kulkas besar di sana. Juga semua laci-laci yang ada di dapur. Namun dia tidak menemukan apapun. "Kamu yakin ini rumah tempat tinggal manusia! Kenapa tidak ada satupun makanan yang bisa di makan di sini."
"Bos sangat ketat menjaga pola makan dan kesehatannya," saut Sekertaris Dian.
"Huh..." Zhenia duduk malas. Detik setelahnya dia tersenyum. "Kita keluar." Mengeluarkan dompet yang ada di saku celananya. "Aku harus makan sepuasnya."