Setiap masalah harus di selesaikan dengan ketenangan
Selang satu minggu setelah Zhenia terbangun dari komanya. Jiwa yang tengah bersemayam di tubuh wanita itu juga mulai menunjukkan kesadarannya.
Saat terbangun Alfie juga mengalami kebingungan. Dia melihat sepasang suami istri terus melihat dirinya tanpa henti.
"Zhenia, putriku. Akhirnya kau bangun juga. Mama sangat merindukanmu." Mama Anin menangis terharu melihat putrinya siuman. Rasa bahagianya tidak hanya ia ungkapkan dengan kata-kata dan tindakan. Namun juga air mata bahagia yang terus mengalir di kedua matanya.
Ayah Toni menghela napas lega.
Dokter dan perawat segera memeriksakan keadaan pasien. Setelah selesai mereka segera pergi.
Belum sempat Alfie bertanya kepada sepasang suami istri yang terus mengatakan jika dia putrinya. Tentang siapa mereka sebenarnya. Sosok yang sangat ia kenal masuk ke dalam ruangan kamar. Dengan membawa buah-buahan segar. Itu adalah dirinya. Yang tengah duduk di atas kursi roda. Dan Sekertaris kepercayaannya tengah mendorong kursi roda itu. 'Apa aku sudah gila? Melihat diriku sendiri di sana.'
"Nak Alfie, tidak perlu repot-repot. Kau juga membutuhkan istirahat yang cukup." Mama Anin terlihat senang melihat pria yang cukup santun dan ramah. Alfie yang datang setiap hari tentu membuat dirinya cukup sungkan. Apa lagi Zhenia masih memiliki kekasih dan hubungan mereka berjalan hampir lima tahun."
Zhenia tersenyum lembut.
Alfie yang melihat dirinya sendiri bisa tersenyum dan berbicara dengan keramahan. Tentu merasa sangat aneh. "Aku ingin berbicara berdua dengannya." Kata Alfie dengan nada serius dan dingin.
Meski awalnya Mama Anin dan Ayah Toni cukup binggung. Tapi setelah melihat putrinya baik-baik saja. Mereka keluar dari ruangan kamar bersama Sekertaris Dian.
Alfie duduk bersandar di tumpukan bantal.
"Saat aku bangun. Ekspresiku juga sama dengan dirimu," ujar Zhenia. "Sekarang jiwamu ada di dalam tubuhku. Entah karena kecelakaan itu atau karena fenomena langka bulan darah di malam kecelakaan itu. Yang pasti aku tidak ingin terlalu lama berada di dalam tubuhmu."
Alfie melihat kedua tangannya.
"Tunggu, kau tidak bisa menyentuhnya." Zhenia segara menghentikan gerakan Alfie. Yang ingin menyentuh di bagian dadanya.
"Oke. Aku mengerti sekarang. Jiwa kita tertukar setelah kecelakaan di hari itu. Aku adalah kamu dan kamu adalah aku," kata Alfie.
"Benar."
"Tapi tunggu dulu. Kau sudah bangun terlebih dulu. Jadi..." Alfie menatap tidak percaya jika seluruh tubuhnya telah di lihat wanita di depannya. Bahkan bagian pribadinya telah tersentuh tangan wanita yang tidak ia kenal. Rasanya dirinya telah di lecehkan dengan begitu berani. Tanpa rasa bersalah.
"Eehhemm..." Berdeham. Zhenia memalingkan wajahnya. "Seharusnya kau berterima kasih kepadaku. Berkat diriku tubuhmu terawat dengan baik."
Alfie memejamkan mata menahan rasa malu. "Yang benar saja."
Detik setelahnya. Kedua tangannya langsung menyentuh gunung kembar yang kental.
"Kau!?" Zhenia berteriak terkejut. "Lepaskan." Dia ingin meraih tangan itu. Tapi kedua kakinya masih tidak bisa di gerakkan leluasa. Seminggu yang lalu saat dia ada di dalam kamar mandi. Berniat untuk buang air kecil. Zhenia menahan dirinya agar tidak buang air kecil. Tubuhnya telah berubah gender menjadi pria. Tapi jiwanya masih sepenuhnya wanita. Dan selama hidupnya dia belum pernah melewati batasan dengan seorang pria.
Gejolak penolakan di hatinya membuat dirinya terus mondar-mandir di dalam kamar mandi. Hingga Ia tidak sengaja terpleset. Kaki kanannya terkilir dan masih sangat sakit jika digunakan berdiri. "Alfie lepaskan."
"Sudah berapa kali kau menyentuhnya?" Alfie melihat kearah selakangan.
Wajah Zhenia merah padam. "Tidak tahu. Aku tidak menghitungnya."
Tangan kanan Alfie langsung menyentuh bagian intim di tubuh Zhenia.
"Yahhh... Kenapa kau sangat mesum." Zhenia bertarik semakin kuat.
"Kita harus impas," kata Alfie menatap seperti b******n.
Kedua tangan Alfie di angkat. Saat ketiga orang yang ada di luar mendengar teriakan dari dalam ruangan kamar pasien.
"Ada apa?" Tanya Ayah Toni.
"Zhenia, apa kau baik-baik saja?" Ujar Mama Anin.
Teriakan suara laki-laki terdengar menggema. Membuat semua orang yang ada di luar ikut panik. Takut Alfie yang ada di kursi roda bersikap kurang ajar kepada Zhenia yang ada di atas tempat tidur.
"Tidak ada. Kami hanya sedang berdiskusi dan sedikit bercanda," ujar Alfie dengan menggertakkan semua giginya.
Mama Anin melihat ke arah putrinya.
Zhenia mengangguk setuju dengan ucapan Alfie.
Melihat semua baik-baik saja mereka kembali menunggu di luar ruangan kamar pasien.
"Bagaimana pun juga. Kita hanya bisa berdamai dengan keadaan. Kita berdua tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Tubuhku..." Menatap putus asa. "Jaga baik-baik tubuh berhargaku ini. Aku juga akan menjaga tubuhmu sebaik mungkin." Ungkap Zhenia. "Jangan melakukan hal aneh dengan tubuhku. Aku masih sepenuhnya perawan."
Mendengar itu Alfie cukup terkejut. Lalu dia berkata, "Aku juga masih perjaka."
"Haih..." Zhenia menarik napas dalam. Yang terasa menekan tenggorokannya.
"Panggil Sekertarisku untuk masuk. Tanpa bantuan darinya kita akan kesulitan untuk berkomunikasi," ujar Alfie.
"Kau yakin dia orang yang dapat di percaya. Mengetahui rahasia sebesar dan segila ini?" Kata Zhenia.
"Ya. Dia sangat terpercaya. Mulutnya lebih rapat dari kebanyakan orang." Alfie mencoba meyakinkan.
"Baik. Dian..." Zhenia memanggil Sekertaris Dian yang masih ada di luar ruangan.
Mendengar panggilan itu. Sekertaris Dian segera masuk ke dalam ruangan. "Bos, kau memanggilku?"
"Dian, seharusnya kau lebih dulu menghampiriku." Kata wanita yang ada di atas tempat tidur.
Hal itu tentu membuat Sekertaris Dian bingung. "Apa maksudmu?" Langsung menatap ke arah Bos besarnya. "Bos, sejak awal hingga akhir. Aku hanya menjadi orangmu," ujarnya panik.
Dengan santainya Alfie yang ada di kursi roda. Berkata, "Aku benar-benar bukan Bosmu. Dia Bosmu."
"Bos, kau membuangku?" Wajah Sekertaris Dian semakin panik.
Zhenia dan Alfie hanya bisa menarik napas dalam.
Selang lima menit setelah semua kembali tenang. Zhenia yang jiwanya ada di tubuh Alfie berkata. "Aku bisa menjelaskannya. Kau harus mendengarkan setiap ucapkanku dengan serius. Apa aku mengerti."
"Mengerti." Sekertaris Dian mengangguk.
"Sebenarnya aku Zhenia. Dan dia Alfie Bosmu yang asli. Jiwa kami tertukar setelah kecelakaan di hari itu." Jelas Zhenia.
Sekertaris Dian menatap kearah Bosnya lalu menatap wanita yang ada di atas ranjang pasien. "Kalian?"
"Iya. Seperti yang kau pikirkan," kata Alfie yang jiwanya ada di tubuh Zhenia. Sekertaris Dian berjalan kearah wanita di atas ranjang. Dengan wajah kebingungan dia berkata. "Bos?"
Wanita di atas tempat tidur hanya menatap dingin dengan raut wajah dan tingkah laku yang sangat ia kenal. "Booossssss..." Sekertaris Dian memeluk wanita itu. "Aku kira kau lupa segalanya."
"Lepaskan. Sekarang aku wanita. Tidak seharusnya kau bertindak kurang ajar," tegas Alfie.
Sekertaris Dian yang terlalu bersemangat segera melepaskan pelukan itu. "Maaf, aku terlalu senang."
"Sebelum jiwa kita bertukar kembali. Kau hanya bisa menjadi diriku. Dan aku akan menjadi dirimu. Sekertaris Dian, kita kembali sekarang." Zhenia menyandarkan tubuhnya dengan lebih tenang.
"Bos!?" Sekertaris Dian menatap kearah Bos aslinya.
"Lakukan seperti yang di katakan," ujar Alfie. "Jaga tubuhku dengan baik."
"Baik." Sekertaris Dian pergi mendorong kursi roda keluar dari ruangan kamar pasien.
Mama Anin dan Ayah Toni kembali masuk ke dalam kamar.
Di sepanjang perjalanan menuju kamar tempat tubuh Alfie di rawat. Sekertaris Dian terus memikirkan semua ketidakmungkinan yang sedang terjadi. "Hal seajaib ini bahkan bisa terjadi. Dan aku satu-satunya saksi yang tahu masalah ini. Bos besar pasti sangat menghargaiku." Terus tersenyum dengan bodohnya.
"Apa wajahmu tidak lelah terus tersenyum? Semua orang sedang memperhatikan kita. Ekspresi mereka jelas mengatakan jika kita sepasang kekasih," ujar Zhenia.
Sekertaris Dian melihat kesegala arah. Benar saja ekspresi setiap orang yang mereka lewati menunjukkan keanehan. "Aku akan mulai menjaga sikap." Seketika wajahnya menjadi datar.
Setelah kembali ke kamar pasien. Zhenia mengistirahatkan tubuhnya. Sekalipun masalah seperti tidak ada jalan keluarnya. Tetap saja dia harus menghadapinya dengan tenang. Terlalu keras memikirkannya juga tidak akan membuat jiwanya kembali ke tubuh aslinya.