Di ruangan dengan alat-alat medis. Zhenia terbaring koma selama satu bulan penuh. Saat kesadarannya mulai kembali. Telinganya mulai mencari bunyi-bunyi yang ada di sekitarnya. Namun hanya suara alat medis dan detak jantungnya yang bisa ia dengar.
Dari luar kamar pasien VVIP, seorang pria masuk dengan kemeja putih dan wajah lelah. "Bos, kau sudah sadar?" Dia segera memencet tombol untuk memberikan informasi kepada para perawat dan dokter jaga.
Tidak selang lama dokter pria dan dua pesawat datang memeriksa keadaan pasien.
Zhenia mencoba mengeluarkan suara. "Kau siapa?" Melihat kearah pria yang terlihat lega. Saat sadar kata yang keluar dari mulutnya itu terdengar seperti suara pria. Dia segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. 'Kenapa dengan suaraku?'
Dalam kebingungan itu. Sekertaris Dian semakin menekan kekhawatirannya.
"Bos, apa kau melupakanku! Aku sekertaris pribadimu Dian." Pria itu terus menatap dengan khawatir. "Bos, apa otakmu sedang konslet? Atau benturan saat kecelakaan membuatmu kehilangan semua ingatan?"
Zhenia menatap binggung. "Kecelakaan?" Dia mengingat kembali kejadian itu. Tepat di malam saat keajaiban seribu tahun sekali terjadi. Sebelum dia memejamkan matanya bulan merah tergantung indah di atasnya.
Dokter kembali memeriksa keadaan pasiennya. Setelah selesai dia pergi bersama pria yang mengaku sebagai sekertaris pria di atas tempat tidur pasien. Dua perawat juga ikut pergi.
Setelah beberapa menit berlangsung. Sekertaris Dian masuk ke dalam ruangan pasien. Dia menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Pria itu duduk di kursi tepat di samping kiri ranjang pasien. "Bos, hidupmu benar-benar malang. Persaingan bisnis telah membuatmu memiliki banyak musuh. Di tambah tidak ada satupun dari keluargamu yang datang. Hanya sekedar menjenguk saja tidak ada. Sekarang kau harus menghadapi kenyataan jika seluruh ingatanmu hilang. Huuhhhfff..." Mengeluarkan ingus yang keluar cukup banyak.
"Sungguh malang. Huaaaaa..." Tangisan Sekertaris Dian sangat kencang.
Zhenia menekan keningnya. Dia masih tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. "Bisa diam. Kepalaku semakin sakit mendengar tangisanmu." Memijat kepalanya.
"Maaaa...aaff, aku tidak bisa menahannya. Phuhffdtttt..." Ingus di keluarkan berulang kali. Sekertaris Dian menjawab dengan tersengal-sengal.
Drakkk...
"Booossssss..." Seorang pria bertubuh gempal dengan tinggi mencapai seratus sembilan puluh centimeter. Berjalan masuk dengan kaki yang pincang. Kaki kirinya terdapat gips untuk pemulihan patah tulang. Tangan kanannya juga berada dalam penyangga setelah di perban cukup tebal. "Syukurlah bos bisa segera sadar. Aku sangat merindukanmu bos."
Baru saja sampai di dekat Bosnya, pria bertubuh gempal itu langsung memeluk kuat pria di atas tempat tidur. "Boss... Kau bisa membunuhku. Tapi aku tahu Bos orang yang baik hati. Tidak akan mungkin tega membunuh pekerja imutnya."
"Kaaau mencekikku," kata Zhenia.
"Ah." Pria bertubuh gempal itu melepaskan pelukannya. Dia mundur memberikan ruang untuk Bos besarnya.
"Aku siapa?" Tanya Zhenia.
Pria bertubuh gempal menatap punggung ke arah Sekertaris Dian.
"Tuan muda Alfie, CEO utama di perusahaan Arlo. Perusahaan pembuatan mobil terbaik yang telah memenangkan penghargaan terkemuka di setiap tahunnya." Sekertaris Dian menjelaskan secara terperinci.
"Bos, hilang ingatan?" Tanya Pria bertubuh gempal. "Aku, Bobby pelayan setiamu. Yang selalu siap menerima panggilan dari Bos besar."
Zhenia menggelengkan kepalanya. Dia hanya bisa terus bergumam dalam hatinya. 'Aku harus bisa mengendalikan diriku. Saat ini jiwaku berpindah ketubuh pria yang tidak aku kenal.' Menarik napas dalam lalu mengeluarkannya. "Dian, bisa kau cari seseorang untukku?"
"Tentu. Aku siap menerima perintah," ujar Dian.
"Carikan wanita yang juga korban dari kecelakaan di hari itu. Namanya Zhenia Wayunian Zhia. Mungkin dia juga berada satu rumah sakit denganku. Aku ingin tahu apakah dia selamat dari kecelakaan itu atau..." Zhenia menelan ludah pahit di tenggorokannya. "Telah meninggal."
"Baik." Sekertaris Dian juga mengajak Bobby untuk keluar dari ruangan kamar pasien.
"Tunggu, aku ingin tahu apakah bos masih mengingatku." Belum sempat Bobby melanjutkan ucapannya. Sekertaris Dian tidak memberikan kelonggaran untuk dirinya.
"Bos butuh istirahat." Kata Sekertaris Dian sembari terus menarik Bobby.
Di dalam ruangan yang kembali sunyi. Zhenia mencoba untuk bangkit. Dia berdiri perlahan menarik besi penyangga botol infus. Wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Di saat dia melihat dirinya melalui cermin. Kedua matanya menatap tidak percaya. "Keajaiban seperti ini benar-benar ada. Dan terjadi kepadaku. Huh... Tapi bagaimana mungkin?"
Di pantulan cermin yang terlihat hanyalah wajah seorang pria yang cukup tampan. Tubuhnya atletis dengan d**a bidang. Berat badan yang sangat proporsional. Dengan tinggi tubuhnya mencapai Seratus sembilan puluh lima centimeter. "Dia pria yang sama di waktu itu."
Pria yang telah menggenggam tangannya dan menenangkan dirinya setelah kecelakaan terjadi. Padahal keadaannya tidak jauh berbeda. Sekujur tubuhnya di penuhi darah segar yang terus mengalir dari luka yang mengangga.
Zhenia melihat kearah bawah. Kerutan kening terlihat jelas. Kedua alisnya juga hampir menyatu. "Yang benar saja. Aihhh..."
Perubahan mendadak jenis gender yang ia miliki. Tentu membuat wanita itu harus memikirkan masa depan yang harus ia jalani sebagai seorang pria.
Tokkk...
Suara ketukan pintu kamar mandi terdengar. "Bos, aku sudah mendapatkan informasi dari wanita itu."
Zhenia segera keluar dari kamar mandi. "Antar aku menemuinya."
"Tapi!?"
Dekkk...
Jantung Zhenia berdetak semakin kencang. "Dia telah meninggal?"
"Dia masih hidup. Tapi belum sadar dari koma." Sekertaris Dian melanjutkan perkataannya.
Mendengar kabar jika raganya masih terselamatkan. Hati Zhenia menjadi lega. "Dian."
"Ia Bos."
"Hal seperti ini seharusnya kau ucapkan dalam satu kalimat. Jangan memotongnya. Apa kau mengerti?" Kata Zhenia.
"Mengerti."
Mereka berdua keluar dari ruangan kamar. Di luar ruangan Bobby juga telah menunggu. Zhenia duduk di kursi roda yang tengah di dorong Sekertaris Dian. Meraka bertiga pergi menuju kamar tempat pasien Zhenia Wayunian Zhia di rawat.
"Bos ini ruangannya," ujar Sekertaris Dian.
"Tunggu." Zhenia menarik napas dalam sebelum masuk ke dalam ruangan kamar. Dia memberikan anggukan sebagai isyarat jika dia telah siap untuk masuk ke dalam ruangan.
Di saat dia masuk, Mama Anin bangkit dari tempat duduknya. Wanita paruh baya itu terlihat letih dan lesu. Wajah ceria dan penuh semangat yang selalu terlihat setiap harinya. Seperti hilang begitu saja.
Ayah Zhenia juga ada di sana.
Belum sempat Mama Anin dan Ayah Toni bertanya. Zhenia terlebih dulu berkata. "Tante, Om, aku Alfie teman Zhenia. Yang juga merupakan korban kecelakaan di hari yang sama dengan Zhenia."
"Kalian berada di satu mobil?" Tanya Mama Anin penasaran.
"Tidak. Aku berada di mobil berbeda," saut Zhenia.
Mendengar penjelasan itu. Mama Anin dan Ayah Toni memberikan ruang untuk pria muda itu lebih mendekat ke arah putri mereka. Yang saat ini masih tidak sadarkan diri.
Zhenia menatap tubuh yang seharusnya menjadi miliknya. 'Aku harap kau segera sadar. Alfie, apa kau ada di tubuh ini?' Menggenggam tangan yang saat ini tidak menjadi miliknya. 'Jika kau benar-benar ada di tubuhku. Segeralah sadar. Agar Ayah dan Mamaku bisa tersenyum kembali.'