"Zhenia, Argun sudah menunggu di bawah. Kau harus bergegas. Jangan sampai terlambat menghadiri pesta pernikahan."
Dari lantai bawah terdengar suara wanita paruh baya terus mendesak.
"Tunggu sebentar." Suara sautan juga terdengar dari lantai atas.
"Anak ini memang seperti ini. Kau harus banyak bersabar." Nyonya Anin meletakkan secangkir teh hangat di meja. Juga menawarkan beberapa kue basah yang baru ia beli pagi tadi. "Bukan bermaksud Bibi mendesak kalian. Tapi bagaimana pun juga kalian telah berpacaran selama empat tahun. Sudah waktunya memikirkan pernikahan dan berkeluarga."
Argun hanya memberikan senyuman tipis sebagai balasan. Dia mengambil cangkir teh lalu menyeruput perlahan genangan teh yang masih cukup panas. Untuk memudahkan dirinya menghindari setiap pertanyaan tentang pernikahan.
Takkk...
Suara langkah kaki dari sepatu hak tinggi terdengar menuruni anak tangga. "Mama jangan menakutinya. Hubungan kita berjalan baik-baik saja. Pernikahan bisa di bicarakan saat kami sudah cukup siap." Zhenia menarik tangan kekasihnya. "Aku sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang."
Dia berusaha menyelamatkan kekasihnya dari ibunya yang selalu memberikan tekanan untuk pernikahan.
Hari itu, mereka berangkat cukup pagi. Perjalanan memakan waktu satu jam. Saat sampai Zhenia dan Argun segera menuju ke tempat pernikahan diadakan.
Aula yang cukup megah dengan bunga mawar putih lebih mendominasi untuk dekorasi yang ada di dalam ruangan.
"Aku keluar sebentar." Argun pergi setelah mendapatkan notifikasi dari seseorang.
Sedangkan Zhenia memilih masuk ke dalam aula dan duduk di salah satu kursi kosong. Beberapa tamu undangan juga telah datang. Wanita itu masih di sibukkan dengan ponselnya.
Hingga suara kegaduhan terdengar dari luar aula pernikahan. Semua orang yang ada di dalam aula segera berjalan keluar. Menyaksikan perkelahian dua pria yang harus di lerai banyak orang.
"Beraninya kau berhubungan badan dengan calon istriku. Apa kau gila." Mempelai pria mendorong tubuh sahabat karibnya yang sudah sangat ia percaya. "Argun, dia calon istriku. Dan kau juga sudah memiliki Zhenia."
Palkkk...
Pukulan kuat di layangkan ke wajah Argun tanpa henti.
"Sudah hentikan. Arya, hentikan." Mempelai wanita justru menghadang tepat di depan Argun. Pria yang jelas-jelas hanyalah teman dari calon suaminya.
Dari kejauhan Zhenia mematung diam. Dia tidak pernah menyangka akan menyaksikan hal yang tidak pernah ia inginkan terjadi. Perlahan dia berjalan mendekat. "Argun, kau sudah gila." Suaranya bergetar.
"Sayang." Argun mendorong tubuh Lian menjauh. Dia berlari mendekati kekasihnya. "Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tidak pernah berselingkuh darimu. Hubunganku dengannya hanyalah hubungan semalam. Tidak lebih dari itu."
Plakkk...
Tamparan kuat di berikan Zhenia kepada Argun.
Cincin emas di tangan Zhenia di lepas lalu di lemparkan ke wajah Argun. "Kita putus."
"Tidak, aku tidak ingin putus denganmu. Sayang dengarkan aku. Aku sudah menyiapkan pernikahan kita di tahun ini. Aku mohon jangan memutuskan hubungan kita yang sudah berjalan lama." Argun mencoba menarik tangan Zhenia dan terus memohon.
Namun semua kesalahan yang ia lakukan tidak lagi bisa di maafkan oleh Zhenia.
"Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan." Arya pergi dengan wajah putus asa. Pernikahan yang telah ia siapkan sepenuh hati. Justru menjadi kehancuran untuk dirinya dan hubungan yang telah di bangun selama tujuh tahun.
Lian calon mempelai wanita hanya bisa menekan hatinya. Dia mencintai Argun tapi pria itu justru melupakan malam panas yang telah mereka lewati bersama. Kini pernikahannya juga hancur karena kesalahan yang ia perbuat sendiri.
Zhenia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia pergi meninggalkan kekasihnya memilih untuk mengakhiri hubungan.
Tidak ada air mata yang mengalir di wajah wanita itu. Rasa sakit yang ia rasakan justru menyumbat air mata yang telah menggenang di kelopak matanya.
Dekkk...
"Maaf." Zhenia tidak sengaja menabrak tubuh seorang pria. Dia hanya meminta maaf tanpa melihat siapa pria yang telah ia tabrak. Pikirannya menjadi sangat kacau.
Wanita itu keluar dari gedung pernikahan. Dia masuk ke salah satu taksi yang ada di sana. Di dalam taksi Zhenia menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.
Trrriinggg...
Sejak mobil melaju pergi meninggalkan gedung pernikahan. Ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Telepon itu dari Argun yang terus menerus menghubunginya. Berharap hubungan yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun. Tidak akan putus begitu saja. Namun bagi Zhenia semua tidak lagi berarti.
"Bisa berikan alamat yang ingin Nona tuju?" Kata sopir taksi dengan sopan.
"Aku sedang tidak ingin pulang. Pak, jalan saja mengelilingi setiap jalur di kota ini." Jelas Zhenia.
"Baik."
Seperti keinginan penumpangnya. Sopir taksi terus mengarahkan mobilnya menuju setiap jalur di kota. Dari siang hari hingga malam hari. Perjalanan masih belum juga terhenti.
Dalam kekalutan di hari itu, Sopir taksi menyalakan lagu galau yang cukup terkenal di tahun itu. Lagu itu berjudul, 'Kenangan yang padam.'
Creettt...
Tttiiiiiii....
Suara musik yang menyala terdengar terputus-putus. Membuat Zhenia menjadi kurang nyaman. "Pak, tolong matikan saja."
"Baik, nona."
Belum sempat sopir taksi menekan tombol off. Suara radio berubah seketika.
"Hari ini tepat di seribu tahun, keajaiban langka bulan darah yang akan terjadi sebentar lagi."
"Tunggu." Zhenia menghentikan gerakan tangan sopir taksi. "Tidak perlu di matikan."
Sopir taksi itu mengangguk mengerti.
Pembawa acara di stasiun radio memberikan ungkapan yang telah ia modifikasi :
"Dalam kepercayaan orang-orang terdahulu. Bulan darah menjadi pertanda bencana dan ketakutan. Sebagai pembawa acara di malam berkabut. Aku berharap setiap pendengar akan memiliki kekuatan yang dapat menghilangkan ketakutan ini."
"Lagu bulan dalam genggaman akan menjadi obat penenang bagi setiap jiwa yang tengah merasakan ketakutan."
~~~
*Lagu mengalun pelan : Rembulan Dalam Genggaman*
Ku gantung rembulan dalam gelapnya malam.
Penuh kesunyian namun mampu menenangkan kegelapan dalam hati.
Jika waktu mampu terhenti.
Ku bawa mimpi ini kembali ke masa.
Cinta belum menjadi benci.
Melukis kembali dunia tanpa dirimu.
Di saat kegelapan datang.
Kau kembali membawa luka yang tidak pernah terobati.
Aku mencintaimu, tapi bukan berarti bersedia mati untukmu.
Aku mencintaimu, bukan berarti melupakan
siapa diriku.
Rembulan dalam genggaman, jatuh di antara sela kegilaanku.
~~~
Suara musik menggema di dalam mobil yang tengah berjalan lebih pelan. Kemacetan di malam itu membuat beberapa pengendara mobil memilih untuk turun.
"Nona, bagaimana jika kita memilih jalan kecil agar bisa melewati kemacetan?"
"Baik."
Mobil langsung berbelok arah menuju jalur kecil. Selang sepuluh menit mobil dapat keluar dari jalur kecil menuju jalur utama kembali.
Zhenia terus memandangi pemandangan di luar kaca mobil. Selama lima belas menit lagu yang sama di putar berulang kali. Kesadarannya hampir mencapai batasnya. Sehingga dirinya terlalu malas untuk meminta sopir taksi mematikan radio yang masih di putar.
Di saat kegelapan mencapai puncaknya.
Tttiiiiiii...
Suara klakson mobil terus berbunyi.
Dari arah belakang mobil besar melaju kencang. Kearah deretan mobil yang masih menunggu giliran melewati lampu lalu lintas yang telah berwarna hijau.
Tanpa aba-aba.
Tanpa peringatan.
Dreeeerrr...
Drakkkk...
Mobil besar itu langsung menabrak empat mobil yang ada di depannya. Keempat mobil itu menabrak mobil lain hingga terjadi tragedi tabrakan beruntun.
Dengan tenaga yang tersisa. Zhenia mencoba keluar dari dalam taksi yang telah terbalik. Seluruh tubuhnya terasa sangat menyakitkan. Namun dia tidak ingin mati. Wanita itu merangkak keluar melewati serpihan kaca yang sangat tajam. "Aaaa... Iiisss... aku tidak ingin mati hari ini." Tubuhnya berlumuran darah segar.
"Huhhhh..." Napasnya tersengal-sengal di saat dia telah berhasil keluar dari dalam taksi. Dia merebahkan tubuhnya di atas aspal yang sangat dingin. Bahkan rasa dingin itu menusuk setiap tulang yang terasa menyakitkan.
Tepat di atasnya bulan berwarna merah darah tergantung tanpa menyangga. "Bulan darah." Gumam Zhenia lirih.
Dari sisi kanannya, sebuah tangan meraih tangan kanannya. Zhenia melihat kearah sosok pria yang berada tepat di sampingnya. Sebagian tubuhnya masih berada di dalam mobil hitam keluaran terbaru. Yang hampir hancur karena banyaknya benturan.
"Apa kau takut?" Suara pria itu terdengar pelan.
Zhenia mengangguk pelan.
"Jangan takut. Kematian tidak semenakutkan kedengarannya," ujar pria itu.
Zhenia kembali memandangi langit dan bulan yang ada di atasnya.
Pria itu juga menatap ke langit. Melihat bulan darah seperti wanita yang ada di depannya.
"Orangtuaku hanya memiliki satu putri. Jika aku mati hari ini. Mereka pasti akan sangat kesepian," ujar Zhenia. Air matanya mengalir. Detik setelahnya wanita itu tidak sadarkan diri.
Pria di sampingnya juga memejamkan kedua matanya. Pingsan karena tubuhnya sudah tidak bisa menahan rasa sakit di setiap luka yang mengangga.