Quinia Ra’sya Zadith, sering dipanggil Quin atau Zadith. Merupakan seorang gadis remaja blasteran Afrika-Arab, ia memiliki kulit gelap dan pahatan wajah yang begitu indah, bahkan mata birunya dapat mengalihkan siapapun yang melihatnya untuk pertama kalinya.
Zadith sekarang sedang berjalan di area Kingdom, ia hanya suka menyendiri dan mengamati sekitarnya tanpa tujuan yang jelas. Dengan sebuah buku yang dipegang oleh tangan kanannya, Zadith membaca buku itu dengan imajinasi yang luar biasa hebat, tidak lupa kemampuan dirinya dalam ilmu politik dan ilmu pengetahuannya yang sangat luas.
Zadith emang termasuk ke dalam salah satu putri dari kerajaan yang ada di daerah Arab, ia dituntut untuk menjadi sempurna seperti kehidupan putri kerajaan pada umumnya, hanya saja Zadith berbeda dari kebanyakan putri raja. Zadith sedari awal dilahirkan sudah memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, ia bahkan dapat memikat siapapun hanya dengan memohonkannya, juga imajinasinya yang tinggi membuat sosoknya terlihat misterius dan memiliki aura yang sangat khas.
“Cecilia mengambil sebuah pedang dan menghunuskannya pada Raja besar istana yang merupakan sosok Ayahnya sendiri..” ujar Zadith membacakan kalimat di buku yang sedang dilihatnya.
“Tamat.” Zadith menjatuhkan bebas tangan yang memegang bukunya itu, lalu ia menghirup udara sebanyak mungkin dan membuangnya dalam hitungan detik.
“Kenapa di setiap novel cerita selalu berakhir tragis? Tidak bisakah mereka menulis cerita yang memiliki jalan realtis? Terlalu banyak drama dan membosankan,” keluh Zadith entah kepada siapa. Ia menyepak kerikil kerikil kercil yang ada pada pinggiran sungai di dalam Kingdom.
Sebuah sungai kecil yang mengalir dengan terdapat sebuah jembatan kecil pula yang digunakan untuk penghubung sungai tersebut. Zadith menatap takjub bagaimana keindahan sungai yang sedang ada di hadapannya sekarang, matanya mengikuti alur kemana air sungai itu mengalir dan ternyata itu mengarah ke sebuah tembok besar pembatas Kingdom.
“Yah.. bagaimana mereka bisa membuat lelucon seperti ini? Memberi dinding pembatas, tetapi di bawah dinding itu terdapat sebuah aliran sungai dimana terdapat sebuah lubang seukuran tubuh manusia pada umumnya.” Zadith masih menatap lubang itu dengan pandangan bertanya, untuk apa lubang seperi itu ada? Ayolah, tidak ada suatu kebetulan di dunia ini bukan?
“Benar... Seharusnya mereka membentuk danau buatan di dalam Kingdom ini. Ah tidak, mereka harusnya menghubungkannya saja dengan danau yang jaraknya sekitar 50 meter dari sini, tetapi kenapa malah membiarkan sungai seperti ini mengalir dengan tujuan yang tidak jelas?” Zadith menggelengkan kepalanya kuat, ia terlalu banyak berpikir, mungkin ini ada hubungannya sama suatu kepentingan, dan tidak seharusnya Zadith mencampuri urusan itu.
Gadis remaja itu kembali melangkah meninggalkan sungai kecil tersebut, ia ingin kembali ke kamarnya saja dan meminum beberapa hidangan hangat. Zadith mengamati sekitarnya saat ia melangkah kembali ke dalam Kingdom, tidak ada satupun orang yang berada di bangunan luas ini, kecuali beberapa pelayan yang berjaga. Semuanya pergi kemana? Itulah pertanyaan yang memutar-mutar di dalam pikiran Zadith, karena Zadith yakin bahwa Starzy bukanlah seorang introvert yang selalu berdiam di kamar atau melakukan kegiatan mereka sendiri. Atau jangan-jangan karena tempat yang besar ini? Tidak mungkin, Zadith pasti setidaknya bakalan berpapasan dengan salah satu sosok Starzy, tapi nyatanya? Tidak sama sekali.
“Rei, lo jalan bisa pelan dikit nggak sih?”
“Lo yang terlalu pelan, Stella.”
“Kalian berdua terlalu brisik, hanya suara kalian yang terdengar sekarang.”
“Sudahlah, berhenti bertingkah layaknya anak kecil.”
Zadith yang mendengar sedikit percakapan itu hanya tetap diam dan berjalan dengan sedikit pelan untuk balik ke kamarnya, “Mereka ... Kenapa selalu bersama seperti itu ya?” Zadith bertanya-tanya dalam kepalanya dan melihat kepergian mereka keluar dari dalam bangunan yang megah itu menuju halaman luas di Kingdom.
“Mereka tidak terlihat seperti berteman, tetapi musuh dalam selimut. Sangat bodoh dan arogan,” gumam Zadith. Lalu, ia pergi dengan cepat menuju kamarnya.
***
Angkasa memakan sebuah apel yang tadi diambilnya di sebuah pohon. Angkasa semakin memasuki kedalaman hutan yang ada di Starlight School. “Kenapa coba hutan di daerah sini tidak ada penjagaan?” keluh Angkasa. Bukan tanpa alasan, hanya saja hutan ini pasti akan menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mengembangkan bakat buruknya.
Starlight School hanya memilih mereka yang cerdas dan kaya, tetapi masalah attitude? Sepertinya itu tidak penting, maka dari itu sekolah ini memiliki banyak sisi misteriusnya yang membuat siapa saja akan bergidik ngeri ketika memasukinya.
Angkasa tetap memasuki hutan yang luas itu, ia melangkah dengan pelan-pelan takut ada binatang berbisa yang dapat membunuhnya dalam sekejap saja, matanya juga liar kesana-kesini mencari sosok orang yang ingin ditemuinya, tetapi ia selalu mengumpat kecil karena tidak kunjung dapat menemukan sosok orang yang sedang ingin ditemuinya tersebut.
“Stella!” teriak Angkasa kuat, ia bahkan tidak takut berteriak seperti itu di dalam hutan.
“Lo dimana sih, udah sejaman gue cari juga..” lirih Angkasa. Ia mengambil ponselnya dan tidak terdapat jaringan pada ponsel itu.
“Lo cariin gue?” tanya seorang yang asal suaranya dari atas.
Angkasa melihat ke atas dan menemukan Stella yang sedang duduk santai sambil menikmati buah strawberry yang ntah darimana ia memetik buah tersebut.
“Lo? Gue kuliti juga ya lo lama lama,” ujar Angkasa kesal pada Stella.
“Lo terlalu lama mencari gue untuk seukuran seorang pria,” ucap Stella.
“Apa hubungannya? Siapa juga yang mau bertemu di tempat mengerikan seperti ini?”
“Tempat ini merupakan tempat yang paling tenang dan susah dijangkau di Starlight School, jadi gue aja lo kesini supaya pembicaraan kita aman,”
“Aman? Bukannya malah semakin berbahaya ya karena binatang buas? Dan mungkin saja disini ada mereka yang menyalahgunakan kecerdasannya,”
“Binatang buas dan berbisa disini tidak akan menyerang kecuali lo menganggu mereka..” Stella bergerak turun dari atas pohon dengan melompat dari ranting yang tinggi ke ranting yang rendah.
“..dan juga mungkin saja ada mereka seperti yang lo sebut itu, tapi ingat juga posisi lo di Starlight School gimana. Ada orang yang dengan cerobohnya bakal nyerang lo secara cuma-cuma?” tanya Stella.
“Tidak ada dan tidak akan pernah ada, mereka tidak mungkin melakukan hal seperti itu Angkasa,” sambung Stella.
“Benar juga, tapi lo kok tau jalan pkiran mereka? Seakan orang itu adalah lo sendiri,” ujar Angkasa.
“Gue seperti mereka, tetapi niat gue baik. Lo nggak bisa bedakan ya mana niat buruk dan mana niat baik?”
“Tidak, memikirkannya saja sudah membuat gue malas.”
“Anak tingkat 1 emang berbeda ya,” ungkap Stella entah itu merupakan sebuah pujian atau hinaan.
“Terus, lo mau bilang apa?” tanya Angkasa langsung kembali ke topik awal mereka.
“Lo tau Sana? Bisa tidak lo coba bunuh dia? Lo bilang bakal melakukan apa saja untuk membuat kedamaian kan?”