Rei sekarang sedang berada di laboratorium pribadi miliknya yang disediakan secara langsung oleh Starlight School, ia juga bersama Xander dan Sera untuk melakukan beberapa percobaan dan membuat sesuatu yang dapat berguna untuk mereka.
“Bagaimana?” tanya Rei pada Xander dan Sera. Sebenarnya Rei hanya memandori mereka berdua saja tanpa membantu apapun, karena emang hal yang mereka lakukan sekarang tidak ada berhubungan dengan Rei.
“Aneh.. tidak mau bereaksi, apa gue ada salah masuki bahan ya?” Sera menjawab pertanyaan Rei dengan tidak meyakinkan.
“Gue juga, tidak mau bekerja sama sekali, mungkin ada beberapa kesalahan teknis yang membuatnya tidak aktif,” ujar Xander. Nada bicaranya terlihat frustasi, tetapi raut wajahnya tetap datar seperti tidak ada beban.
“Gue gak paham,” timpal Rei.
“Ngapain lo nanya kalau nggak tau apa-apa?” sindir Sera pada.
“Apa salahnya coba gue bertanya? Hanya untuk memastikan saja, sepertinta kalian keliatan kesulitan.”
“Bukan sulit sih, masalahnya ini kayaknya masih ada bahan yang kurang,” gumam Sera sembari mengelus dagunya dan memikirkan suatu hal, ia mencari apa yang salah dengan obat bius yang sedang ia coba buat.
“Apa tuh? Lagian lo ngapain coba buat obat bius?” tanya Rei tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sera.
“Ini bakal berguna nantinya,” jawab Sera cepat.
“Efeknya sama saja kan dengan bius biasa?”
“Tidak! Ini berbeda, bius yang sedang kubuat ini dapat mematikan syaraf hingga ke otak utama dan ingatan, jadi mereka kemungkinan dapat lupa banyak hal, atau bisa disebut amnesia sebagian. Parahnya sih selamanya,” ujar Sera menjelaskan kepada Rei dan Xander.
“Lo gila ya? Gimana kalau itu jadi s*****a makan tuan?” tanya Rei meragukan Sera.
“Tidak mungkin, gue buat dua buah obat yang saling mengaktifkan. Jika obat satu digabungkan dengan obat dua yang gue buat ini, baru efeknya aktif. Dan jika hanya salah satu obat saja digunakan, efeknya tidak bakal aktif,”
“Lo mau bius musuh, tapi pakai obat pil?”
“Obat pil untuk hal yang wajar seperti nanti untuk di makanan atau minuman, tapi untuk hal yang mendesak gue pakai jarum bius, cuma masalahnya jarum bius ini harus lebih dikuatkan lagi dosisnya. Dengan dosis kuat itu dapat menyebabkan efek kematian yang menddekati 92%” jawab Sera.
“Lo butuh tembakan kecil untuk bius?” tiba-tiba Xander bertanya yang berada di seberang Sera.
“Kalau lo mau buatkan gue, gue sangat berterima kasih.”
“Gue udah selesai nih sama penyadap suara dan kamera transparan,” ujar Xander yang membuat Sera dan Rei kembali menatap Xander.
“Tapi, gue udah dilangkahi lebih dahulu dari seseorang yang gue nggak tau dia siapa.” Xander meringis dan tatapannya sedikit menyiratka kekhawatiran.
“Jadi, ada yang udah buat peralatan seperti yang sekarang sedang kita lakukan?” tanya Sera yang dibalas anggukan oleh Xander, “Tepat sekali! Dan dari yang gue lihat dia berhasil membuat banyak kamera pengawas di setiap sudut dan semuanya baru dipasang sekitar sebulan yang lalu,”
“Gila! Itu kan saat kita baru masuk ke Starlight School, siapa yang berani melakukan hal gila seperti itu?” tanya Sera seakan tidak percaya.
“Salah satu Starzy bintang tunggal,” jawab Rei yang membuat kedua temannya menatap ke arahnya.
“Lo tau darimana?” tanya Sera.
“Cukup mudah. Kalau senior tingkat 2 dan 3, itu sudah jelas tidak mungkin karena mereka baru pasang di tahun pelajaran baru, untuk apa mereka melakukannya? Jadi tidak mungkin mereka. Sudah jelaskan yang melakukannya teman seangkatan kita?”
“Iya gue paham, jadi lo tau kalau yang buat Starzy itu darimana?” Sera terllihat tertarik dengan perkataan Rei, ia menghentikan pekerjaannya sementara dan mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke Rei.
“Xander, berapa banyak perkiraan cctv yang dia pasang di seluruh penjuru sekolah ini?” tanya Rei. “Sekitar 1200 lebih?” jawab Xander cepat dan sedikit ragu.
“Yang pasti lebih dari 1000 kan? Siapa yang dengan cepatnya dapat membuat itu dalam jumlah sebanyak itu? Tidak ada sama sekali! Tapi, itu sangat mungkin jika dia memiliki laboratorium luas dan dimana di dalam labor tersebut terdapat alat yang sangat lengkap, ditambah ia memiliki partner yang bisa diperintahkannya untuk mempercepat prosesnya.”
Perkataan Rei membuat Sera sedikit tercengang, lalu ia mengangguk paham dengan cepat. “Lo benar! Dan semua hal itu hanya dimiliki oleh Starzy, jadi siapa menurut lo yang dapat melakukan itu diantara kita semua?” tanya Sera kembali mempertanyakan pendapat Rei yang kesekian kalinya.
“Kita berempat sudah pasti bukan, jadi ada sisa 5 orang lagi bukan? Kita singkirkan Xera, karena dia tidak mungkin melakukan hal itu, bakatnya sangat jauh dari teknologi. Gue nggak tau siapa yang melakukannya, tetapi setidaknya kita memiliki 4 tersangka yang harus dihindari bukan?” ujar Xander.
“Benar juga.” Sera mengangguk paham dan memikirkan siapa yang sebenarnya melakukan hal tidak terduga seperti memasang cctv saat masuk pertama kali ke sekolah? Bahkan belum dapat mengenal lingkungan sekolah dengan baik.
“Kalau menurut lo gimana Xan?” Rei menatap Xander yang sedang mengotak-atik laptop pribadinya.
“Sesuai sama pendapat lo, tapi menurut gue Xian tidak mungkin melakukan itu. Jiwa pemimpinnya yang menjawab semua itu, begitu juga dengan Zadith, ia tidak mungkin melakukan itu karena ia merupakan seorang putri bangsawan, mustahil ia dapat mengenal teknologi karena selalu disuguhi permainan politik dan tahta,” terang Xander yang membuat Sera dan Xander membesarkan bola matanya.
“Gue tau, gue tau!” seru Sera, ia terlihat girang bermain detektif detektif an seperti ini.
“Jawabannya Sana! Gue yakin pasti dia!” ujar Sera.
“Alasan lo?”
“Di saat semuanya saling berbaur dan belajar bersama, hanya dia seorang yang menyendiri dan selalu jarang terlihat dimanapun, ia sangat sering berada di kamanya.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan George? Kenapa lo nggak berpikir kalau itu dia?” tanya Xander.
“Sudah jelaskan? George sepertinya tidak memiliki atau terikat dengan apapun disini, ia seperti murid sekolah pada umumnya, hanya menjalani kehidupan seperti biasanya,” ujar Sera.
“Tidak! Lo salah.” Stella tiba-tiba muncul dari balik pintu laboratorium di kamar Rei.
“George bersekongkol dengan Sana dan itu terlihat jelas, menurut kalian kenapa George terlihat seperti biasa saja? Bahkan ia sulit ditebak atau terlalu mudah ditebak? Karena ia bunglon yang sebenarnya, ia yang memiliki ide untuk memasang cctv itu dan membicarakannya kepada Sana, cara dia emang sangat licik.” Stella tertawa kecil.
“Terus, selanjutkan kita ngelakuin apa?” tanya Sera kepada tiga temannya yang ada pada ruangan itu.
“Awalnya gue menyuruh Angkasa untuk membunuh Sana dan George-“
“Apa? Lo gila?!” teriak Sera tidak percaya dengan tindakan ceroboh Stella.
“Dengar dulu, akhirnya nggak jadi sama sekali. Karena gue pikir Sera mempunyai cara yang lebih unik untuk menyingkirkan mereka berdua, bukankah begitu?” Stella melihat Sera yang juga melihatnya dengan pandangan memicing curiga.
“Ayolah, lakukan saja! Pakai obat biusmu, bagaimana?”
“Baiklah, akan kubuat jenis obat baru untuk mereka berdua.”