“Xander bisa to-“
“Bisa tidak lo panggil gue pakai nama samaran saja Kay?” keluh Xander, Ia terlihat tidak senang mendengar bahwa Kayla memanggilnya dengan nama asli.
“Ayolah, hanya kita berdua saja yang berada disini Gerald.” Kayla memutar bola matanya malas melihat reaksi Xander yang berlebihan.
“Tetap saja itu harus dibiasakan kalau kita sedang berkumpul untuk menjalankan misi Nayla.” Xander menekankan perkataannya seakan memperingati sosok Kayla yang ternyata nama samaran dari seorang Nayla.
“s****n! Kau baru saja memanggilku dengan nama asliku,” umpat Nayla. “Apa bedanya dengan dirimu? Bisa tidak kita memakai bahasa yang santai saja? Aku tidak terbiasa dengan bahasa kakumu.” Xander mengeluhkan cara berbicara Nayla.
“Tidak. Aku tidak suka memakai tata bahasa santai, itu sangat menjengkelkan, apa kau tidak tau betapa susahnya aku berbau dengan mereka semua?” Nayla frustasi mengingat bahwa ia harus menggunakan bahasa santai dan bergaul dengan kebanyakan orang.
“Kau harus terbiasa. Lagian ... bukannya kau sudah berada di Indonesia lebih dari 7 tahun? Kau terlalu melebih-lebihkan Kayla.” Xander sedikit melirik Nayla yang berjalan di belakangnya dengan raut wajah tidak bersahabat. Ya, mereka berdua sekarang sedang berada di hutan untuk mengamankan suatu hal.
“Tetap saja, aku sangat tidak menyukainya,” ucap Nayla mutlak seakan ia tidak ingin ditentang, sifat arogannya seringsekali muncul saat ia merasa diremehkan.
“Tapi, kenapa kau memilih Indonesia untuk tempat tinggal barumu?” tanya Xander.
“Apa kau bodoh? Tentu saja aku hanya mengikuti orang tuaku, dan aku sangat tidak menyangka aku akhirnya ditumbalkan di tempat mengerikan seperti ini.” Nayla menghelakan napasnya, orang tuanya sungguh sangat tidak percaya kepadanya.
Nayla kemudian menatap Xander yang hanya mengangguk mendengar perkataannya, “Kau sendiri bagaiman? Kenapa kau bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar?” tanya Nayla yang membuat Xander menoleh penuh kepadanya.
“Ntahlah... sedari kecil aku emang sudah bisa menguasai banyak bahasa. Kau lupa posisi orang tuaku apa?”
“Maaf.. aku melupakan hal itu, apa mereka sekarang sudah banyak berubah?” tanya Nayla yang disambut gelengan kepala dari Xander, “Ntahlah aku tidak tau menyebutnya bagaimana, aku sendiri sudah dari lama mati rasa, jadi aku tidak dapat menyimpulkan perubahan kedua orang tuaku.”
Setelah pembicaraan yang cukup lama itu, mereka berdua saling terdiam dan fokus pada pencarian mereka. Yaitu mencari tumbuhan berbahaya yang dapat merugikan banyak hal, bahkan manusia sekalipun.
“Sepertinya kemarin aku pernah melihat flower of black and white evil, tapi aku melupakan dimana keberadaan mereka.” Nayla merutuki dirinya sendiri yang pelupa.
“Itu bukan?” tanya Xander menunjukkan sebuah bunga yang sangat mencolok diantara tumbuhan lainnya. Nayla melihat ke arah Xander menunjuk dan langsung dapat menemukannya karena warna khas merah dari tumbuhan tersebut, “Iya, itu!” seru Nayla girang, akhirnya mereka menemukan tumbuhan itu, sudah sedari tiga jam yang lalu mereka mencari tumbuhan iblis tersebut.
Nayla dan Xander pergi ke tempat tumbuhan tersebut berada, mereka melihatnya dengan hati-hati, karena katanya tumbuhan iblis itu dapat membunuh manusia jika salah menyentuhnya.
“Bagaimana? Kau bisa mengambilnya?” tanya Xander yang jongkok di samping tumbuhan itu seraya melihat ke arah Nayla. “Ya, aku dapat melakukannya, aku sudah cukup berpengalaman dalam meracik ramuan dari tumbuhan berbahaya,” ujar Nayla yang membuat Xander sedikit merasa lega.
Nayla merunduk hingga ia dapat mensejajarkan posisinya dengan bunga itu, ia lalu mengambil sebuah alkohol dengan sedikit campuran larutan basa untuk melindungi tangannya dari kemungkinan yang berbahaya. Nayla menyemprotkan cairan itu sebanyak mungkin pada tunas yang tumbuh melancip itu, lalu Nayla mengambil sebuah pisau yang sangat tajam dan memotongnya dengan sekali tebas.
Batang dalam tunas yang terlihat putih setelah dipotong, perlahan menghitam menjadi bewarna yang sangat pekat. Itu berarti tumbuhan flower of black and white evil, sudah tidak dapat berkembang biak dan tumbuh.
Nayla segera memasukkan potongan tunas tersebut ke dalam sebuah kotak kaca yang sudah lebih dahulu distrerilkan. Setelah ia memasukkannya, ia membuat kotak tersebut kedap udara untuk menghindari proses kimia yang mungkin saja dapat terjadi dan membuat tumbuhan tersebut rusak.
“Bagaimana? Begitu saja?” tanya Xander yang melihat Nayla dengan sangat cekatan menyelesaikan misi mereka dengan begitu lihai. “Iya, hanya begitu. Kenapa?” tanya Nayla balik yang hanya disambut gelengan kepala dari Xander.
“Yasudah, ayo balik ke markas,” ucap Xander dan Nayla hanya mengangguk. Mereka berduapun balik ke markas tempat mereka diberi misi.
***
“Sebenarnya hal yang lo bilang itu sudah diketahui oleh semua siswa Starligh School,” ujar Sera kepada Stella yang menceritakan bahwa Starlight School akan membuat sebuah alat untuk mengendalikan gelombang otak manusia.
“Hah? Benarkah?” tanya Stella seakan ia tidak percaya bahwa itu rahasia umum.
“Hanya desas-desus, tidak ada yang benar-benar dapat memastikannya, karena hal itu sangat sensitif. Bahkan, pernah ada murid yang menanyakannya, keesok harinya ia ditemukan tewas.” Ucapan Rei membuat Sera dan Stella terlihat merinding.
“Menurut lo gimana Xan?” tanya Stella kepada Xander yang duduk tepat di sebelahnya.
“Bukannya itu yang mau kita hentikan? Dan lo bilang itu ssekitar sebulan lagi kan?” tanya Xander memastikan perkataan perkataan Stella. “Iya, gue dengarnya gitu.”
“Rasa gue bukan hanya itu rahasia dari Starlight School yang dikubur, masih ada hal lain yang disembunyikan,” ungkap Rei.
“Jadi, maksud lo alat pengendali gelombang otak manusia hanya pengalihan isu dari rahasia yang sesungguhnya?” tanya Sera yang dibalas Rei dengan sebuah anggukan. “Tepat sekali, itu maksud gue,”
“Dan itu hal yang sekarang harus kita cari secepat mungkin.”
***
Seseorang berjalan diantar batu batu besar yang ada pada sebuah sungai. Ia menikmati angin malam yang cukup kencang menerpa tubuhnya. Ia juga menikmati keindahan yang ada di depan matanya, sebuah air terjun dengan arus yang sangat deras.
Perlahan, sosok itu berjalan memasuki air terjun itu dan menerobosnya tanpa takut akan kebawa arus yang deras tersebut. Ia berhasil melewatinya dengan selamat dan tanpa basah sedikitpun, karena tertanam sebuah kepintaran buatan pada kedua dinding di belakang air terjun tersebut.
Dengan langkah yang pelan dan tenang, ia memasuki sebuah pintu transparan pada belakang air terjun tersebut. Sebelum masuk, sebuah sistem terlihat mescan seluruh tubuh orang tersebut.
“Dikonfirmasi.” Suara dari alat yang tertanam pada pintu trasnparan tersebut. Lalu, orang itu berjalan ke depan seperti menembus tembok keras, tetapi ia melewatinya seperti sosok tanpa raga.