Kayla melangkahkan kakinya pada jalanan yang masih basah, ia berjalan tanpa arah ditemani cahaya remang rembulan yang sembunyi di balik awan-awan tebal. Matanya hanya menatap ke arah bawah tanpa berminat sedikitpun menatap ke arah lain. Ia bahkan tidak menginginkan apapun sekarang, ia terlihat seperti raga tanpa jiwa, bahkan ia tidak peduli dengan aungan serigala yang bersambutan dan sangat menganggu pendengaran bagi siapapun yang mendengarnya.
Kayla berhenti saat beberapa tetes hujan dirasa mengejai wajahnya, ia menatap ke atas dan menikmati tiap tetesan hutan yang semakin lama semakin banyak menerpa tubuhnya. Kayla mengangkat tangannya dan juga merasakan tetesan tersebut mengalir dan turun perlahan hingga sikunya. Ia kemudian memejamkan matanya merasakan tetesan hujan tersebut menghantam tubuhnya seakan ia juga melepaskan beban ketika air-air bening tersebut menyentuh permukaan tubuhnya. Tanpa disadari, ia merasakan gejolak pedih di hatinya yang menyengat hingga seluruh tubuhnya, dan menyesak sampai wajahnya terasa panas. Perlahan air bening lain turun dari kelopak mata indahnya dan berlalu begitu saja dan menyatu dengan air hujan pada waktu itu.
***
Rei memasuki kawasan hutang terlarang Starlight School, hari ini sebenarnya ia memiliki kegiatan bersama Starzy lainnya dalam sebuah studi penelitian, tetapi ia tidak datang dan melarikan diri ke hutan terlarang. Rei tidak mengikuti Starzy lain karena emang studi penelitian tersebut tidak diwajibkan. Akhirnya, Rei memutuskan menjelajahi isi Starlight School dan hal yang menarik perhatiannya untuk pertama kalinya adalah area hutan terlarang, entah mengapa demikian, hanya saja Rei merasakan ada sesuatu yang disembunyikan atau hanya sebuah pengalihan saja dari tempat terlarang yang sesungguhnya.
“Rei? Lo ngapain disini?” tanya sebuah suara tepat berada di atasnya. Rei dengan spontan mendongakkan kepalanya dan melihat Stella yang sedang duduk santai di atas pohon besar dengan banyak anggur di tangannya.
“Lo sendiri ngapain?” tanya Rei sedikit tidak yakin dengan pertanyannya, sebenarnya sudah jelas kalau Stella mencicipi buah-buahan di hutan terlarang ini.
“Menurut lo gue ngapain? Ya kulineran buah-buahan lah, apalagi coba?”
“Gila lo, lo nggak tau ini hutan apa?”
“Hutan terlarang kan? Siapa yang nggak tau coba sama hutan penipuan ini.” Stella mendengus di atas sana, ia sedikit kesal karena selalu saja ada yang menganggunya saat ia ingin bersantai.
“Penipuan? Maksud lo apa?” Rei menangkap perkataan aneh dari Stella.
“Menurut lo? Coba pikir dahulu.” Stella memakan tangkai anggur terakhirnya, lalu turun dengan cepat dari pohon yang tinggi tersebut dan melompat tepat di hadapan Rei.
“Kalau gue tau, ngapain gue capek capek nanya ke lo,” balas Rei membalikkan kembali pertanyaannya.
“Lo tau sendiri kan? Kalau siswa yang berada di sekolah ini bukan manusia biasa?” Stella menatap Rei menunggu jawabannya, “Tidak, tapi maksud lo apaan?” Rei semakin bingung kemana arah pembicaraan mereka sekarang.
“Sebenarnya, mereka yang di sekolah ini hampir dapat menggunakan seratus persen otak mereka, jadi semuanya termasuk kita berdua dapat mempelajari hal yang tidak masuk akal dan di luar batas kemampuan manusia pada umumnya.”
“Oh gue paham, terus hubungannya dengan hutan terlarang ini apa?”
“Lo masih belum paham juga ternyata.” Stella menatap datar Rei, “Aneh lo, padahal lo murid terbaik angkatan kita, bisa-bisanya lo ginian aja gk paham,” sindir Stella tanpa basa basi.
“Gue makin gak paham.” Ucapan Rei tersebut membuat Stella ingin memukul kepala Rei sekarang juga, ia sangat bingung dengan teman di depnnya ini, seperti banyak tau mengenai berbagai hal, tetapi terlalu misterius dan kadang cenderung ceroboh dalam bertindak.
“Gini deh, gue tanya nih, lo tau kan kalau misal otak manusia nggak seratus persen aktif?” Rei hanya mengangguk yang berarti mengiyakan pertanyaan Stella.
“Terus, lo tau kan kalau misal otak digunakan seratus persen apa yang akan terjadi?”
“Kehancuran kan?” tanya Rei dengan muka polosnya.
“LO MIKIRNYA KEJAUHAN ANJIRRR!” Stella akhirnya menjitak kepala Rei.
“Duh! Sakit b**o, lo kira ubun-ubun gue dari kapas apa?”
“Siapa yang bilang kalau ubun lo tuh dari kapas? Tau ah, capek gue.” Stella memutarbalikkan badannya, ia melangkah menjauhi Rei.
“Woi Stella, lo masih hutang penjelasan sama gue.” Rei mencegat tangan Stella. Stella mau tidak mau membalikkan dirinya dan tersenyum dengan manis melihat Rei dihdapannya.
“Gue tanya sekali lagi, lo tau kan kalau misal otak digunakan seratus persen?” Kali ini Stella menekankan setiap perkataannya, menuntut jawaban serius Rei.
“Tau, manusia bisa mengendalikan energi yang ada di sekelilingnya hanya dengan gelombang otak, bahkan bisa lebih gila dari itu,” jawab Rei.
“That’s Point! Lo udah dapat poinnya, dan lo coba pikir. Kita semua disini menggunakan seratus persen otaknya, bedanya ada yang aktif dan ada yang masih tertidur, menurut lo guna hutan ini apa coba?”
“Tempat untuk mengembangkan bakat?” tanya Rei balik seakan sedikit ragu, ia takut tiba-tiba Stella menjitak kepalanya lagi dan pergi meninggalkannya.
“Benar, tapi masih kurang tepat. Hutan ini sengaja di desain khusus dimana energi yang di dalam hutan ini sangat besar dan teracak, lo bisa liat dari berbagai tanaman yang banyak memiliki gen campuran dan hewa-hewan disini yang terlihat beragam kan? Itu karena hutan ini merupakan tempat percobaan bagi mereka yang udah mengetahui apa fungsi hutan ini. Dan embel hutan terlarang digunakan hanya untuk membuat orang penasaran saja, biar orang seperti lo nantinya tau dan paham maksud tujuan dari hutan luas ini tetap dilestarikan,” terang Stella panjang lebar yang membuat Rei hanya mengangguk.
“Apa semua siswa disini tau tentang hutan ini?” tanya Rei kembali yang membuat Stella terlihat berpikir, lalu menggerakkan bahunya menandakan ia tidak tau.
“Entahlah ... Menurut gue anak kelas 2 dan 3 tau semuanya tentang hutan ini, hanya saja tidak semua dari mereka yang berani mengembangkan diri disini, walaupun sebenarnya setiap tiga bulan sekali ada evaluasi untuk ujian penelitian individu di hutan ini.”
“Sekarang gue paham, kalau begitu, gue pergi dulu ya.” Setelah menyelesaikan perkataannya, Rei pergi meninggalkan Stella dengan cepat tanpa basa basi terlebih dahulu.
“Orang aneh,” gumam Stella.
Stella juga pergi berlawanan arah meninggalkan hutan tersebut, ia ingin memastikan suatu hal, dan tiba-tiba saja ia ingin mengikuti studi penelitian yang diadakan pada hari ini di kelas Starzy.
Seseorang yang bersembunyi di balik semak-semak lebat akhirnya keluar, setelah Rei dan Stella sudah tidak terlihat dari pandangannya. Ia melihat foto Rei dan Stella yang diambilnya menggunakan kamera, dengan mata yang menyipit dan tersenyum ia bergumam, “Sangat menarik!”