“Gila sih, akhirnya selesai juga ujian yang meresahkan kemarin, nggak nyanga gue masih bisa bernapas,” ujar Stella.
“Lebay lo.” Xera menolakkan kepala Stella dengan ringan.
“Ih lo ada masalah apa sih?” Stella menatap sinis Xera.
“Kok gue punya teman gini amat ya,” gumam Xera yang masih dapat didengar oleh Stella.
“Sejak kapan kita teman?!” teriak Stella.
“Lo nggak bisa nyantai dikit apa?” Xera kembali menoyor kepala Stella dengan ringan, dan berakhir dengan mereka berdua yang saling kejar-kejaran di lingkungan kingdom.
Stella dan Xera sudah janjian waktu pagi, mereka ingin keliling bareng di area kingdom, menikmati pemandangan untuk menyegarkan kembali oktak karena ujian mereka kemarin. Sekarang, mereka berdua sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang, menikmati pemandangan matahari terbit tepat berada di depan mata mereka.
“Cantik ya mataharinya...” lirih Stella dan dianggukkan oleh Xera.
“... Kaya gue,” ucapan Stella berhasil membuat raut wajah Xera berubah drastis.
“Asli, lo sekarang lagi sakit ya? Labil amat kaya orang baru puber.”
“Lo lupa? Umur kita kan 16 tahun, ya jelaslah lagi masa pubertas, lo b**o apa gimana sih?”
“Oh iya juga,”
“Apa jangan-jangan lo sebenarnya udah tua ya?” Stella memalingkan wajahnya menatap muka Xera, ia memicingkan matanya dan mengamati wajah Xera yang sangat cantik, tidak ditemukan keburikan disana sedikitpun.
“Lo kok cantik sih?” ucap Stella seakan tidak terima.
“Lah? Emang kenapa kalau gue cantik? Lo random banget, seriusan,” ujar Xera.
“Ya, gue pengen ke isekai aja.” Ucapan Stella membuat Xera ingin menangis, ia lelah melihat keanehan Stella yang omongannya melantur kemana-mana.
“Sini gue timpa batu pala lo dari atas pohon, siapa tau masuk isekai, mau?” tawar Xera ikutan gila.
“Lo kurang kerjaan banget ya ternyata.” Stella menatap miris Xera.
Xera ingin memakan Stella sebenarnya, tapi karena dia polos dan imut, tidak mungkin ia melakukan hal sekeji itu bukan? Ia harus menjaga imagenya di sekolah ini, tidak lucu jika tiba-tiba ada headline berita bahwa seorang gadis lucu dan polos memakan temannya yang aneh dan menyesatkan. Itu akan sangat membuat dunia gempar, Xera menggelengkan kepalanya kuat membayangkan hal seperti itu.
“Lo lagi mikirin Rei ya?” tanya Stella memiringkan kepalanya melihat sikap aneh Xera.
“Hah? Kok lo tiba-tiba mikir gitu?”
“Tadi pagi Rei bilang kalau lo chat dia malam-malam dan bilang sayang ke Rei.” Perkataan Stella membuat Xera tidak habis pikir dan sedikit terkejut.
“Lo serius Rei bilang gitu?” tanya Xera memastikan.
“Ya nggaklah! Hahahah, yakali. Gue cuma ngarang, lagian nggak mungkin sih lo ngechat Rei malam malam, ngapain coba?” tanya Stella, ia tidak habis pikir denga dirinya/
“Emang sih tadi malam gue chat Rei, Cuma iseng.”
“Hah? Ngapain lo chat Rei?”
“Gak apa, Cuma gabut aja.”
Dan akhirnya mereka saling terdiam dalam pikirannya masing-masing.
(Sedikit rehat dari konflik, biar pada nggak mental brickdens bacanya T_T)
***
Angkasa memasuki kawasan olahraga di Villate, ia ingin golf di hari liburnya. Angkasa sudah tau pasti banyakyang akan ke Sport-Villate di hari libur begini. Bukan apa-apa, tapi Angkasa sedikit terganggu dengan keramaian ketika dirinya ingin menghilangkan stress, makanya ia hari ini ingin bermain golf saja untuk menghilangkan rasa penatnya, karena selain sepi peminat, lapangan golf di Sport-Villate juga sangat luas dan menyejukkan mata.
Angkasa bermain golf dengan berbagai pikiran yang terus berkecamuk di kepalanya, dirinya mendeteksi ada hal aneh yang ada di sekolah ini, bahkan bukan dia saja, tapi Nayla juga merasakan hal yang sama. Mereka sudah berjanji untuk bertemu hari ini untuk membicarakan hal itu sembari bermain golf.
Tidak lama saat Angkasa bermain sekitar 15 menit, Nayla datang dengan dan menghampiri Angkasa. “Udah berapa lama lo nunggu?” tanya Nayla.
Angkasa menoleh ke asal suara dan mendapati Nayla yang berjalan dengan membawa tongkat golfnya, “Ah itu... sudah sekitar 15 menit yang lalu.” Ucapan Angkasa hanya diangguki oleh Nayla.
Mereka berdua bermain golf bergiliran tanpa membicarakan hal apapun, masih pada terjebak di dalam pikiran masing-masing, dan sedikit canggung bertemu di luar area sekolah dan hanya berdua saja di lapangan golf yang luas ini.
Setelah bermain sekitar satu jam, mereka berdua berhenti dan duduk di sebuah bangku yang ada pada pinggiran lapangan golf tersebut.
“Nih air,” tawar Nayla kepada Angkasa. Angkasa langsung mengambilnya dan meneguknya habis.
“Lo kayak orang yang udah nggak minum selama 100 tahun dah,” sindir Nayla.
“Daripada lo, main golf yang dipukul bukan bola, tapi tanahnya,” sindir Angkasa balik.
“Serah lo,”
“Yaelah, gitu aja lo ngambek.”
“Berisik lo, mending bahas yang kemarin aja. Menurut lo apa?” tanya Nayla. Angkasa hanya terdiam.
“Ntahlah... gue sebenarnya bingung, semuanya terlihat sangat palsu disini.” Perkataan Angkasa membuat Nayla merengutkan dahinya.
“Lo ngomong apaan sih? Gue nggak paham, nilai bahasa indonesia gue rendah, jangan pakai bahasa yang nggak gue mengerti.”
“Maksud gue disini tempat yang sangat sempurna dan seperti ilusi, gue melihat banyak kepalsuan.”
“Gue punya ide, gimana kalau kita coba pasang penyadap di ruang guru? Atau dimanapun tempat deh,” saran Nayla.
“Lo kira orang-orang disini sebodoh itu nggak bisa deteksi penyadap? Keburu di drop out kita dari sekolah kalau sembarangan gerak,”
“Oiya juga.” Nayla mengehelakan napasnya dan terlihat berpikir. “Bagaimana kalau kita ajak Starzy bekerja sama dengan kita buat alat penyadap? Gue yakin mereka bisa banyak membantu,” ujar Nayla.
“Kalau misal mereka berada di pihak sekolah gimana?” tanya Angkasa menatap Nayla.
“Itu urusan gue, biar gue yang pastikan mereka cocok atau nggak untuk bekerja sama dengan kita.”
“Ntahlah, gue kurang yakin aja mereka mau melakukan hal bodoh seperti yang kita lakukan sekarang.” Angkasa melihat ke atas dan mengedarkan pandangannya menyapu keindahan langit pada pagi hari itu.
“Siapa bilang Starzy nggak mau bekerja sama? Bagaimana kalau para Starzy sebenarnya punya keinginan yang sama dengan kalian? Bahkan lebih berambisi?” ucap seseorang yang berada di belakang bangku mereka.
Angkasa dan Nayla menoleh bersamaan dan menatap siapa sosok yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Anehnya lagi, mereka berdua bahkan tidak menyadari kehadiran atau kedatangan seseorang, padahal sudah jelas bahwa mereka memiliki kemampuan sensorik yang sangat hebat diantara manusia lainnya.
“Kenapa? Kalian terkejut bukan?” Orang tersebut tersenyum melihat Angkasa dan Nayla kaget melihat kehadirannya yang secara tiba-tiba.
“Bagaimana? Apakah kalian mau bekerja sama denganku?”
Angkasa dan Nayla hanya terdiam dan mereka saling menatap, sungguh sulit dipercaya. Bagaimana mungkin Starzy dapat memasuki wilayah Villate dengan mudah? Padahal sudah jelas bahwa Villate memiliki penjagaan yang sangat ketat karena berada di pinggiran pulau.
“Ayolah jawab pertanyaanku, apakah kalian ingin bekerja sama denganku?” tanya orang tersebut sekali lagi.
“Baiklah,” jawab Nayla.