“Lo ingat nggak dengan wajah mereka berdua?” tanya Xander. Mereka sekarang sedang berada di taman sekolah.
“Gue ingat persis mereka siapa, tapi gue nggak akan memberitahukan kalian,” jawab Stella.
“Lo kok gitu sih? Bagusan lo diam aja nggak usah cerita.” Sera mendengus kesal, ia menatap malas Stella.
“Gue masih belum percaya dengan kalian,” ucap Stella dengan menatap curiga satu satu temannya yang sedang berada di hadapannya.
“Harusnya gue yang berkata bergitu,” timpal Xander dan membuat semuanya menuntut jawaban atas pernyataan Xander.
“Hasil ujian sosiologi kalian sangat jelas menyatakan bahwa kalian bukan orang yang setia dan jujur.” Ucapan Xander membuat semuanya diam, tidak ada yang berani kembali menanyakan apa maksud Xander.
“Sepertinya kita emang belum bisa untuk bekerja sama,” ucap Xander, lalu meninggalkan mereka bertiga di taman yang hening tersebut.
Sekarang, hanya hembusan angin yang terdengar, suara sautan dari ranting dan daun yang saling mengisi kehampaan suara di sekitar mereka, dan kicauan burung burung kecil yang berterbangan menikmati angin yang sangat segar tersebut.
Rei, Sera, dan Stella masih terdiam, mereka masih berada di dalam pikiran masing-masing dan tidak mengetahui apa hal yang selanjutnya harus dilakukan.
“Gini, gue-“ belum sempat Sera berbicara Rei memotong, “Sudah, sebaiknya kita menenangkan pikiran masing-masing terlebih dahulu.” Ucapan Rei membuat mereka saling bertatapan.
“Itu akan membuang-buang waktu kita Rei,” bantah Stella tidak terima dengan pendapat Rei.
“Terus? Lo mau ngelakuin apa?”
“Gue punya hal yang lebih baik untuk kita lakukan sekarang, tetapi tanpa Xander itu sepertinya tidak akan bisa berjalan dengan semudah itu.”
“Apa itu?”
“Buat penyadap suara yang tidak dapat dideteksi oleh radar dan keamanan apapun.”
***
Skor Ujian Sosiologi Starzy Bintang Tunggal Periode Pertama
1. Xander Beliard Maxten (1000)
2. Catisha Axera Daxon (887)
3. Melysa Savina Madison (459)
4. Quinia Ra’sya Zadith (426)
5. Yuara Zu Exian (349)
6. George Clony Verdinand (242)
7. Laivta Sera Giorda (-129))
8. Athala Reinald Victon (-202)
9. Stella Alyna Diardio (-1692)
Xander tersenyum tipis ketika ia kembali melihat rekapan nilai skor ujian sosiologi mereka. Xander tidak terlalu memperdulikan nilai, hanya saja ia menilai skor ini mencerminkan sifat pribadi mereka.
“Ahh.. Kenapa sekarang gue keliatan seperti anak kecil sih.” Xander menutup laptopnya dan pergi berjalan menuju balkon kamarnya, ia menghirup udara segar dan menenangkan pikirannya.
Xander duduk pada sebua bangku yang tersedia di balkon itu, ia duduk disana sembari meminum teh kamomil yang sudah ia siapkan sedari tadi, matanya tidak lepas dari pemandangan bentangan alam luas Starlight School yang sangat indah, tidak lupa ia juga dapat mendengar suara alam yag sangat menenangkan, kicauan burung ditemani dengan rintikan hujan kecil membuat alunan ketukan nada indah, hal itu membuat Xander semakin rileks dan dapat menenangkan dirinya dengan cepat/
Xander hanya takut saja ia mengambil langkah yang salah, karena ia tau apa yang ihadapinya sekarang merupakan sebuah pertaruhan antara nyawa manusia, jadi ia harus tetap hati-hati. Xander harus dapat memastikan suatu hal sebelum melanjutkan rencana yang sebenarnya sudah ia diskusikan dengan Rei, Stella, dan Sera.
“Apa gue terlalu banyak menuntut ya?” Xander kembali menghelakan napasnya, ia lalu menyeruput teh kamomilnya, dan menghirup aroma harumnya yang dapat menenangkan pikirannya.
“Baiklah, mari kita selesaikan ini,” ucap Xander, lalu ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan balkon.
***
Hujan semakin deras menerpa pulau Starlight, tidak ada dari mereka yang beraktivitas di luar ruangan, semuanya di dalam dan banyak dari mereka yang menghabiskan waktunya untuk tidur karena hujan meningkatkan dopamin mereka.
“Angkasa! Gue kok jadi takut yah karena kejadian kemarin?” Nayla mengungkapkan perasaan gerah dan tidak tenangnya.
“Lo yang jawab iya dan sekarang lo yang meragukannya?” tanya Angkasa sarkas ke Nayla.
“Bukan ... Duh b**o banget sih lo, maksud gue bukan itu.” Nayla memukul Angkasa dengan buku yang sudah dapat dipastikan itu tidak dapat menyakiti Angkasa, “Jadi maksud lo apa?” tanya Angkasa cepat dan hanya ditatap sinis oleh Nayla.
“Lo mah nggak peka, gue takut aja kalau dia mata-mata,” ujar Nayla.
“Lo kira kita lagi di sekolah agen apa? Kebanyakan baca novel lu,”
“Mana ada, lo mah pikirannya pendek nggak sampai kesana, lagian koleksi novel lo deh lebih banyak dari gue.” Nayla kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur Angkasa.
Nayla melihat Angkasa yang juga sedang tidur di samping sambil memainkan ponselnya dan tidak menggubris Nayla sekalipun, “Ck, lo ngapain sih?” Nayla mengambil dengan cepat ponsel angkasa dan melihat ia sedang melakukan pemrogaman? Ntahlah Nayla tida mengetahui apa itu, yang pasti ia melihat banyak bahasa pemrogaman disana.
“Lo ngapain sih? Sembarangan rampas barang orang.” Angkasa melihat Nayla dengan pandangan tidak senangnya.
“Yaaa ngambekan, cowok kok ngambekan.”
“Bukan ngambek b**o, itu gue lagi akses keamanan sekolah, jadi gagal karena lu.” Angkasa mendengus kasar, ia sudah seharian mencobanya, tetap saja hal ini sulit dilakukan.
“Lo mau ngapain coba akses keamanan sekolah? Bukannya kita tunggu perintah Starzy ya?” tanya Nayla.
“Gue juga Starzy kali, tapi beda tempat doang,” ujar Angkasa.
“Mana ada Starzy b**o kek lo,” timpal Nayla.
“Jadi, sekarang apa rencana lu?” tanya Nayla kembali, ia kali ini menatap Angkasa serius.
“Gue mau coba akses melalui komputer guru, kali aja bisa,” jawab Angkasa. “Gila lo! Lo kira semudah itu? Siapa emang yang bisa lo targetkan? Tau sendirikan guru di sekolah ini nggak ada yang bodoh.”
“Guru yang arogan, gue yakin, pasti kearoganan mereka memiliki celah untuk dijatuhkan. Dan saat itulah gue ambil kesempatan, bagaimana?” Angkasa memutar wajahnya melihat Nayla.
“Itu ide yang tidak buruk, kalau gitu gue ikut bantu ya?” tanya Nayla.
“Lo diam aja dulu, nanti kalau gue butuh bantuan, gue beri aba-aba.”
“Siap komandan!” seru Nayla mengembangkan senyumnya, ini pasti akan menjadi hal yang menyenangkan menurut Nayla.