Balasan datang tak lama, dan datang persis seperti yang Nurhalim peringatkan: tanpa wajah, tanpa bukti, terlihat seperti nasib sial biasa. Sore itu Surudi terpaksa berhenti di pelataran sebuah masjid kecil di ruas yang sepi untuk salat dan meluruskan punggung sebentar, karena tubuhnya, yang sudah empat hari dipaksa, mulai memberontak dengan kantuk yang berbahaya. Ia memarkir truk di tempat yang ia kira aman, di dekat orang, dan ia hanya meninggalkannya tiga puluh menit. Topan ia minta menjaga, tapi Topan, yang juga remuk, tertidur di kabin.
Ketika Surudi kembali, ia tahu sebelum ia sampai. Truk itu miring sedikit, duduknya tak rata. Ia mempercepat langkah, lututnya menjerit, dan menemukan dua ban — satu depan kiri, satu belakang — sudah kempes rata menyentuh tanah. Bukan kempes biasa. Ia berjongkok, meraba, dan menemukannya: pentil yang dirusak, dicongkel sengaja, dan di satu ban, sayatan kecil di dinding samping yang membuatnya tak bisa sekadar dipompa. Dilakukan cepat, oleh tangan yang tahu cara, dalam tiga puluh menit ketika kenek tertidur.
Topan terbangun oleh suara Surudi menggedor pintu kabin, dan ia turun, melihat ban, dan wajahnya memucat — karena ia menjaga, dan ia tertidur, dan ini salahnya. "Pak, maaf, Pak, saya—"
"Tak ada gunanya minta maaf," potong Surudi, tapi suaranya tak marah, hanya lelah dan tajam. "Mereka pasti menunggu kita berhenti. Mereka ikuti kita sejak warung. Kalau bukan kamu tidur, mereka cari celah lain." Ia membuka kompartemen ban serep. Dua ban serep. Dua ban rusak. Hitungannya pas — terlalu pas. "Mereka tahu kita cuma punya dua serep. Mereka rusak dua, jadi kita harus pakai dua-duanya, dan tak ada cadangan lagi. Kalau ada satu ban lagi kempes di jalan, kita mati di tempat."
Ini adalah kejahatan yang dirancang oleh orang yang mengerti logistik, bukan oleh preman yang mengerti tinju. Codet tak memukul Surudi. Codet membuat waktu memukul Surudi. Setiap menit yang dihabiskan mengganti ban di ruas sepi ini adalah menit yang dicuri dari tenggat. Setiap ban serep yang terpakai adalah jaring pengaman yang dirobek. Surudi memasang dua ban serep dengan tangan yang sudah terlatih, Topan membantu dengan dongkrak, keduanya berkeringat di bawah langit yang mulai gelap, dan sepanjang itu Surudi menghitung di kepalanya — bukan ban, tapi jam. Berapa jam yang hilang. Berapa jarak yang harus ia kejar. Feri terakhir yang bisa mengejar tenggat berangkat lusa sore, dan setiap jam yang dicuri di sini mendekatkannya pada kegagalan.
Ketika ban terpasang, hari sudah gelap, dan masalah berikutnya muncul: ban yang sayatannya parah tak bisa ditambal di pinggir jalan. Surudi butuh setidaknya satu ban serep baru sebelum melanjutkan, karena melaju ke ruas berikutnya tanpa cadangan sama sekali adalah bunuh diri. Ia menyalakan CB, memanggil pelan, menanyakan bengkel ban terdekat yang masih buka. Frekuensi menjawab — ada bengkel ban, dua jam ke depan, masih buka malam. Tapi ketika Surudi menyebutkan posisinya dan menanyakan apa ada sopir yang lewat arah situ yang bisa membantu membawa ban rusaknya untuk ditambal, terjadi sesuatu yang membuat dadanya dingin.
Hening.
Frekuensi yang biasanya ramai oleh solidaritas — sopir tak meninggalkan sopir — menjadi sunyi. Surudi memanggil lagi. Beberapa suara menjawab, tapi menjawab dengan alasan: maaf Pak De, saya sudah jauh; maaf, saya muatan penuh; maaf, saya buru-buru. Sopan, tapi dingin. Dan Surudi mengerti, dengan pahit yang menusuk, bahwa kabar sudah menyebar di frekuensi. Truk Pak De sudah ditandai Codet. Menolong truk yang ditandai berarti ikut ditandai. Solidaritas sopir, yang selama ini menjadi agama Surudi, kalah oleh ketakutan akan raja jalanan. Tak ada yang berani.
Topan mendengarnya, dan untuk pertama kali ia melihat sesuatu retak di wajah Surudi — bukan takut, tapi kesedihan. "Mereka takut, Pak," kata Topan pelan.
"Mereka benar takut," jawab Surudi. "Codet sudah menang sebelum melawan. Dia tak perlu pukul aku. Dia cukup buat semua orang takut dekat-dekat aku. Dia ubah jalan ini, yang dulu rumah, jadi tempat di mana tak ada yang berani menolong." Ia memandang CB, lalu mematikannya. "Inilah yang paling dia rampas. Bukan upeti. Tapi sopir tak lagi menolong sopir."
Mereka melaju pelan ke bengkel ban dengan hati-hati, tanpa cadangan, setiap lubang di jalan terasa seperti ancaman. Dua jam itu terasa seperti sepuluh. Tapi kemudian, di tengah ruas gelap, sebuah lampu sorot mengejar dari belakang dan sebuah truk menyusul, lalu memperlambat, sejajar di sebelah mereka. Surudi menegang, mengira anak buah Codet datang lagi. Tapi dari jendela truk itu muncul wajah tua yang ia kenal dari suara — Nurhalim. Kawan lama itu, yang tadinya menyuruhnya tunduk, kini ada di sini, di tengah malam, di ruas yang ditandai.
Nurhalim tak banyak bicara. Ia melempar sebuah ban serep ke pelataran tempat mereka berhenti. "Punya cadanganku," katanya lewat jendela, wajahnya tegang menengok ke belakang seolah takut diikuti. "Cuma satu. Aku tak bisa ikut sampai Padang, Pak De, aku punya anak. Tapi sopir tak meninggalkan sopir. Walaupun cuma sampai sini." Ia menatap Surudi, dan dalam tatapan itu ada permintaan maaf dan rasa malu dan keberanian kecil yang ia kerahkan dengan susah payah. "Hati-hati ruas depan, Pak De. Hujan di atas tiga hari ini tak berhenti. Bukit sudah jenuh air. Sopir dari arah Padang bilang tanah di tebing atas sudah retak-retak. Kalau hujan lagi malam ini..." Ia tak menyelesaikan. "Jalur alternatif lewat bawah juga jangan diandalkan. Aku dengar orang Codet sudah pasang orang di simpang situ." Lalu ia melaju pergi, lampu ekornya menghilang di kegelapan, seorang lelaki tua yang takut tapi tetap datang.
Surudi memegang ban serep itu, ban yang diberikan satu-satunya orang yang berani, dan untuk sesaat ia tak bisa bicara. Topan memandangnya. "Pak, tadi katanya tanah di tebing retak. Itu artinya..."
"Longsor," kata Surudi pelan, memandang ke arah barat di mana langit malam sekali lagi terbelah petir tanpa suara, lebih sering dari kemarin, lebih dekat. Hujan yang ia cemaskan sejak punggung Barisan, yang turun semakin deras setiap malam, kini menggantung di atas satu-satunya jalur menuju pelabuhan seperti vonis yang menunggu diucapkan. Ia memasang ban serep pemberian Nurhalim, mengikatnya kuat, dan menatap jam di dasbor. Tenggat berdetak. Feri terakhir menjauh. Dan di antara dirinya dan pelabuhan, hujan tiga hari sedang melonggarkan bukit dari akarnya.