Hujan turun sepanjang malam terakhir itu, dan Surudi memacu truk sekeras yang berani ia pacu, mengejar jam, dengan Topan terjaga penuh di sebelahnya karena tak ada lagi yang bisa tidur. Mereka turun dari ruas bukit menjelang subuh, mendekati dataran terakhir sebelum pelabuhan, dan untuk sesaat Surudi membiarkan dirinya berharap — feri terakhir yang bisa mengejar tenggat berangkat sore ini, dan mereka, kalau jalan lancar, mungkin masih sampai. Mungkin.
Lalu, beberapa kilometer sebelum simpang menuju pelabuhan, mereka menemukan antrean truk berhenti memanjang di kegelapan subuh, lampu-lampu hazard berkedip kuning seperti barisan kunang-kunang yang putus asa. Surudi memperlambat, dan firasatnya, yang dua puluh lima tahun jarang salah, menjadi dingin di perutnya.
"Tunggu di sini," katanya pada Topan, dan turun, berjalan ke depan menyusuri barisan truk dengan lututnya yang menjerit di udara dingin basah. Ia bertanya pada sopir-sopir yang berdiri merokok dengan wajah pasrah, dan jawabannya datang seperti yang ia takutkan. Longsor. Tebing di ruas atas yang sudah retak, yang Nurhalim peringatkan, akhirnya lepas dini hari tadi, menumpahkan tanah dan batu dan pohon menutup jalan utama satu-satunya menuju pelabuhan. Tak ada yang lewat. Alat berat untuk membuka mungkin baru datang siang, mungkin besok. Jalur utama mati.
Surudi berdiri di depan dinding tanah longsor itu, memandang massa lumpur dan batang pohon yang menghalangi jalan, hujan gerimis membasahi wajahnya, dan ia menghitung. Bukan emosi — hitungan. Feri terakhir berangkat sore. Longsor takkan dibuka sebelum itu. Jalur utama, dengan demikian, sama dengan gagal. Sama dengan trukku jadi milik PO. Sama dengan lima angsuran yang takkan pernah sampai garis.
Ia kembali ke truk, naik, dan menyalakan CB untuk mencari kabar jalur alternatif — satu-satunya jalan memutar lewat bawah yang bisa menyambung ke pelabuhan, jalan yang lebih jauh tapi masih mungkin mengejar feri kalau ia memacunya. Dan di frekuensi, ia mendapat jawabannya, dan jawabannya menutup pintu kedua.
Jalur alternatif diblokade. Truk-truk melintang di simpang masuk, sopir-sopirnya bilang ada kerusakan, ada kecelakaan, ada apa saja — alasan yang berganti-ganti dan semuanya bohong. Surudi tahu siapa. Orang Codet, yang Nurhalim sebut sudah dipasang di simpang itu. Mereka tahu longsor akan mengirim semua truk ke jalur alternatif, dan mereka menutupnya, dan dengan begitu satu-satunya jalan tersisa menuju feri adalah jalan yang mereka jaga, dengan upeti yang harus dibayar untuk dibukakan. Codet tak menyebabkan longsor — alam yang melakukannya — tapi Codet membaca alam, dan memanfaatkannya, dan menutup celah yang ditinggalkannya. Itulah raja jalanan: ia tak menciptakan badai, ia hanya menguasai satu-satunya tempat berteduh.
Lalu CB berdetak, dan sebuah suara baru masuk ke frekuensi, suara yang belum pernah Surudi dengar tapi langsung ia kenali jenisnya — tenang, pelan, percaya diri seperti orang yang tahu ia memegang semua kartu. Codet sendiri.
"Pak De Surudi," kata suara itu, hampir lembut. "Guru jalan. Saya dengar Pak De mentok longsor." Hening sebentar, statis berdesis. "Begini, Pak De. Saya tak benci sampean. Sumpah. Saya dulu sopir seperti sampean. Truk saya disita, sama seperti yang hampir terjadi ke sampean sekarang. Bedanya, waktu itu tak ada yang bantu saya. Jadi saya bikin jalan ini jadi tempat di mana yang mau selamat harus lewat saya. Itu saja. Bukan kejahatan. Itu bertahan hidup." Suaranya tetap rata. "Jalur alternatif saya yang pegang. Bayar jatah, saya bukakan, sampean kejar feri, truk sampean selamat. Murah, dibanding kehilangan truk. Pikir, Pak De. Sampean punya istri menunggu."
Surudi memegang gagang mikrofon, tak menjawab, mendengarkan, dan di kabin yang sempit itu ia merasakan seluruh perjalanan ini menyempit menjadi satu titik, satu keputusan, persis seperti yang ia takutkan sejak menandatangani kontrak di kantor PO. Tunduk dan bayar — tapi ia tak punya uang untuk membayar, sudah ludes oleh pungli dan ban dan kampas, jadi tunduk pun ia tak mampu, dan kalaupun mampu itu berarti kalah pada cermin gelap dirinya sendiri. Atau gagal tenggat, kehilangan truk, lima angsuran terakhir runtuh menjadi nol. Atau —
Ia menutup matanya sejenak, dan dalam gelap di balik kelopaknya, ia melihat peta tua. Jalan yang tak ia sebut serius pada siapa pun, hanya disinggung sambil lalu pada Topan di hari kedua, seperti orang menyebut kampung yang lama ditinggal. Jalan tikus tua, jalan yang dipakai sopir-sopir generasinya sebelum jalan baru dibangun, jalan yang ditinggalkan karena sempit, karena curam, karena tak aman untuk truk sebesar ini. Jalan yang tak ada di GPS, tak ada di frekuensi, tak dijaga Codet karena Codet pun mungkin tak tahu masih bisa dilewati. Jalan yang hanya tinggal di ingatan beberapa sopir tua, dan Surudi mungkin satu-satunya yang masih hafal kelok-keloknya.
Tapi jalan itu menuruni punggung bukit lewat sisi yang tak terurus, turunan curam yang lebih panjang dari tikungan seribu, dengan jurang di tepinya dan tanpa pembatas, dalam gelap dan hujan, dengan rem yang baru saja membohonginya sekali dan tak boleh dipercaya dua kali. Dan ketika ia membuka mata dan menatap jarum bahan bakar di dasbor — jarum yang sejak kemarin terus ia awasi, jarum yang menjadi metrik nyawa di setiap kilometer — ia melihatnya berdiri di sepertiga tangki. Sepertiga. Cukup untuk jalur utama yang lurus. Tapi jalan tikus lebih jauh, lebih curam, lebih banyak gigi rendah yang menghabiskan solar lebih cepat, dan tak ada satu pun pom bensin di sepanjang jalan terlupakan itu. Sepertiga tangki untuk jalan yang ia bahkan tak yakin lagi bisa dilewati truk sebesar ini.
Topan memandangnya, dan ia membaca sesuatu di wajah Surudi yang membuatnya takut lebih dari longsor, lebih dari Codet. "Pak," katanya, suaranya kecil. "Bapak mikir apa? Kita... masih ada jalan lain?"
Surudi tak menjawabnya dulu. Ia menatap jarum solar di sepertiga, menatap jam yang berdetak menuju keberangkatan feri terakhir, menatap dinding longsor di depan dan blokade di samping dan suara Codet yang masih menunggu jawaban di frekuensi. Tiga jalan tertutup, dan satu jalan yang seharusnya tak ada. Ia memikirkan Tuminah yang memintanya berhenti. Ia memikirkan lima angsuran. Ia memikirkan dua puluh lima tahun yang menjadikannya satu-satunya orang yang hafal jalan maut itu — seolah seluruh hidupnya di jalan ini telah memilinnya menuju satu menit ini, satu pilihan ini.
Ia mengangkat gagang mikrofon, menekan tombolnya, dan untuk pertama kali menjawab suara Codet, dengan suara yang tenang seperti tangannya di turunan kemarin. "Codet," katanya. "Aku dengar kau. Dan aku tahu jalanku sendiri."
Lalu ia meletakkan gagang, menyalakan mesin, dan memutar kemudi keluar dari antrean, menjauh dari longsor, menjauh dari blokade, ke arah sebuah simpang tak bertanda yang sudah ditelan semak di tepi jalan — mulut jalan tikus tua yang menganga gelap ke dalam bukit. Topan mencengkeram pegangan, wajahnya pucat. Hujan menebal di kaca. Jarum solar bergetar di sepertiga. Dan Surudi mengarahkan truk dua belas ton bermuatan alat berat itu, dengan rem yang tak bisa dipercaya, ke dalam gelap turunan yang tak dilihat manusia bertahun-tahun, di mana setiap kelok menyimpan jurang, dan satu-satunya peta yang ia punya adalah ingatan seorang lelaki tua yang matanya sudah tak bisa melihat di malam hari.