Bengkel di kaki turunan itu sederhana — atap seng, lantai tanah berlumur oli, montir tua bernama Pak Sabar yang tangannya hitam permanen — tapi ia punya kampas yang cocok, dan Surudi membayarnya dengan uang yang ia tahu seharusnya untuk hal lain. Ia memandang Topan memasang kampas baru di bawah bimbingan Pak Sabar, dan ia mencatat di buku kas: kampas, ongkos. Angka di kantong menyusut lagi. Ongkos dobel itu, ketika ia menghitungnya sekarang, sudah lebih dekat ke ongkos biasa, tergerus oleh setiap pos dan setiap kompromi yang menagih.
Mereka berangkat lagi siang, masuk ke ruas gemuk yang Nurhalim peringatkan, ruas yang katanya dipegang Codet. Dan ruas itu, dari luar, tak terlihat berbeda dari ruas mana pun: jalan beraspal, warung, truk parkir, pos timbang. Yang berbeda hanya terasa, bukan terlihat — seperti ada mata yang mengikuti, seperti udara yang sedikit lebih tegang.
Mereka berhenti di sebuah warung makan untuk makan siang dan mengisi air, dan di situlah para anak buah Codet menemukan mereka. Bukan dengan kekerasan, tidak mula-mula. Tiga lelaki, dua muda satu setengah baya, datang dan duduk di meja yang sama tanpa diundang, ramah dengan cara yang membuat keramahan itu sendiri terasa seperti ancaman. Yang setengah baya, kurus dengan mata yang tenang, memimpin bicara.
"Pak De Surudi, ya?" katanya, dan fakta bahwa ia tahu nama membuat Surudi menaruh sendoknya. "Wah, terhormat. Guru jalan masih turun gunung." Ia tersenyum. "Saya Lukas. Anak buah Bang Codet. Bang Codet kirim salam. Katanya senang ada sopir senior lewat jalurnya."
"Jalurnya," ulang Surudi, datar.
"Jalur yang dia jaga, Pak De," Lukas mengoreksi dengan halus. "Begini saja, biar cepat. Pak De bawa muatan berat, alat berat, tenggat ketat — saya tahu, semua orang di jalur ini tahu siapa bawa apa. Jalur depan banyak yang bisa salah. Pos timbang bisa lama, bisa cepat. Jalan bisa lancar, bisa macet. Ban bisa awet, bisa kempes." Ia mengucapkannya seringan menawarkan kopi. "Bang Codet bisa pastikan semuanya lancar buat Pak De. Lewat mulus, sampai tepat waktu. Cuma ada jatah jalur. Wajar, namanya juga dijaga."
Ia menyebut angka. Dan angka itu, di telinga Surudi, terdengar seperti vonis. Bukan karena terlalu besar untuk dilawan, tapi karena ia tak punya angka itu di kantongnya. Ongkos dobel sudah tergerus menjadi tipis. Membayar upeti ini berarti tak ada lagi uang untuk solar sampai Padang, untuk timbang yang tersisa, untuk perbaikan kalau truk rewel. Membayar upeti ini menjamin ia lewat ruas Codet hanya untuk kehabisan bensin di ruas berikutnya.
Topan, yang darah mudanya naik, hampir membuka mulut, tapi Surudi menyentuh lengannya di bawah meja, isyarat untuk diam. Ini bukan urusan keberanian. Ini urusan yang lebih dingin.
"Lukas," kata Surudi, dan ia berbicara pelan, tanpa permusuhan, karena ia tak ingin ini menjadi soal harga diri yang bisa berakhir dengan tinju. "Aku tak bisa bayar."
Lukas tersenyum, mengira ini tawar-menawar. "Pak De, jangan begitu. Semua orang—"
"Bukan tak mau," potong Surudi. "Tak bisa. Dengar." Dan ia melakukan sesuatu yang tak diduga: ia mengeluarkan buku kas kecil dari saku, buku yang Topan tulisi, dan membukanya di meja. "Ini ongkosku. Ini yang sudah keluar — solar, timbang, pungli, kampas. Ini sisanya." Ia menunjuk angka terakhir. "Kalau aku bayar jatah jalur kalian, aku tak punya solar sampai Padang. Aku akan mogok di ruas kalian juga. Jadi kalian mau aku bayar dengan apa? Truk ini bukan milikku penuh, masih kredit. Muatan ini bukan milikku, milik PO. Yang kupunya cuma yang di buku ini, dan ini tak cukup buat kalian dan buat solar sekaligus."
Lukas memandang buku kas itu, dan untuk sesaat senyumnya goyah, karena ia datang menyangka berhadapan dengan sopir tua yang sombong, dan ia malah menemukan sopir tua yang miskin — dan kemiskinan lebih sulit diancam daripada kesombongan. Kau tak bisa memeras orang yang kantongnya sudah kau lihat kosong. Tapi sistem tak boleh terlihat lunak, dan Lukas tahu itu, jadi senyumnya kembali, lebih dingin sekarang.
"Pak De," katanya, menutup pelan buku kas itu dan mendorongnya kembali ke Surudi. "Saya hormati Pak De. Betul. Tapi Bang Codet tak peduli buku kas. Kalau Pak De lewat tanpa bayar, sopir lain lihat. Lalu mereka pikir, oh, bisa juga ya tak bayar. Lalu jalur ini bubar. Bang Codet tak bisa biarkan itu." Ia berdiri, dua anak buahnya ikut berdiri. "Jadi bukan soal uang lagi sekarang, Pak De. Sudah jadi soal contoh. Pak De boleh tak bayar. Tapi truk Pak De tak akan sampai tepat waktu. Itu janji."
Ia pergi, dan keramaian warung yang sejak tadi pura-pura tak mendengar perlahan kembali berdenyut, tapi para sopir lain di warung itu kini memandang Surudi dengan campuran iba dan jarak — jarak orang yang tak ingin terlihat dekat dengan truk yang sudah ditandai.
Topan duduk tegang. "Pak, kita lawan? Kita lapor? Kita—"
"Kita jalan," kata Surudi tenang, menutup buku kas dan memasukkannya ke saku. "Kita tak punya pilihan lain, Pan. Bukan karena aku berani. Aku tak berani. Aku cuma tak punya uang untuk takut." Ia menatap pintu warung tempat Lukas menghilang, dan suaranya turun. "Dan sekarang aku tahu satu hal. Codet ini, dia bukan mau uangku. Dia tahu aku tak punya. Dia mau aku gagal, supaya yang lain takut gagal. Aku ini, buat dia, cuma contoh." Ia bangkit, meninggalkan uang makan di meja, menghitungnya cermat sampai recehan terakhir. "Garis sudah ditarik. Sekarang yang dia jaga bukan jalur. Yang dia jaga kekuasaannya. Dan kekuasaan selalu lebih berbahaya dari uang." Ia melangkah ke truk, lututnya ngilu, tenggat berdetak di kepalanya, dan untuk pertama kali sejak berangkat, ia merasa bahwa jalan di depan bukan lagi sekadar jalan, tapi medan.